Beranda Daerah Pensiunan PLN Meninggal Saat Mengaji di Masjid Semarang

Pensiunan PLN Meninggal Saat Mengaji di Masjid Semarang

Djumari meninggal dunia setelah salat Magrib saat mengikuti tadarus Al-Qur'an di Masjid Nurul Huda, Jalan Wismasari, Ngaliyan, Kota Semarang, Sabtu (8/8/2026) malam.

Yeni Nuraini (44), Anak ketiga dari seorang pria berusia 73 tahun yang meninggal pada saat mengaji Al Quran, Ngaliyan, Kota Semarang. (Foto: Kamal)
Yeni Nuraini (44), Anak ketiga dari seorang pria berusia 73 tahun yang meninggal pada saat mengaji Al Quran, Ngaliyan, Kota Semarang. (Foto: Kamal)

SEMARANG, Jatengnews.id – Bagi keluarga, Djumari bin Amin bukan sosok yang banyak bicara. Pria yang lahir pada 6 Juni 1950 itu justru dikenal sebagai orang yang lebih banyak menunjukkan kebaikan melalui tindakan.

Djumari meninggal dunia setelah salat Magrib saat mengikuti tadarus Al-Qur’an di Masjid Nurul Huda, Jalan Wismasari, Ngaliyan, Kota Semarang, Sabtu (8/8/2026) malam.

Anak ketiganya, Yeni Nuraini (44), mengatakan ayahnya merupakan sosok yang sabar, tulus dan tidak suka mengharapkan imbalan ketika melakukan sesuatu.

“Masyaallah, Bapak itu orang yang sabar, tulus, ikhlas kalau dalam bekerja, dalam melakukan sesuatu hal itu enggak pamrih,” kata Yeni saat ditemui di rumah duka Ngaliyan, Rabu (12/8/2026) sore.

Menurut Yeni, sifat pendiam merupakan salah satu karakter yang paling melekat pada ayahnya.

Bahkan ketika mulai merasa tidak nyaman sebelum akhirnya terjatuh di masjid, Djumari tidak banyak mengeluh.

Dalam rekaman CCTV di masjid, menurut Yeni, terlihat beberapa gerakan tubuh ayahnya yang menunjukkan dirinya mulai merasa tidak nyaman.

“Kalau misalnya dilihat di videonya memang ada beberapa gestur Bapak yang sudah mulai enggak nyaman. Tapi Bapak tetap enggak bicara, tetap diam saja,” ujarnya.

Tak lama setelah itu, Djumari terjatuh.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 18.35 WIB, berdasarkan waktu yang terlihat dalam rekaman CCTV, setelah ia mengikuti salat Magrib dan kemudian tadarus menjelang Isya.

Bagi keluarga, kabar kematian Djumari terasa mengejutkan.

Yeni waktu itu masih di Bandung, sementara sebelum kematiannya, Djumari masih menjalani aktivitas seperti biasa.

Sejak pagi, ia masih sempat berkomunikasi dengan cucunya. Sore harinya, Djumari berangkat ke Masjid Nurul Huda menggunakan sepeda listrik.

Tidak ada tanda yang diketahui keluarga bahwa malam itu akan menjadi waktu terakhir Djumari.

Yeni mengungkapkan, ayahnya merupakan pensiunan dari PLN. Selama ini Djumari menghabiskan banyak waktunya di rumah.

Namun, menurut Yeni, pensiun tidak membuat ayahnya berhenti beraktivitas.

Ia justru memiliki kegemaran membongkar dan memperbaiki berbagai barang elektronik yang rusak.

“TV yang rusak, barang-barang elektronik yang rusak suka dibenerin sama Bapak,” katanya.

Yeni bahkan menyebut ayahnya sebagai sosok yang memiliki jiwa inovator.

Salah satu contohnya adalah membuat perangkat sederhana untuk mengendalikan aliran air PAM dari jarak tertentu.

“Bapak memang enggak bisa diam. Bukan keluar rumah, tapi di dalam rumah dan mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan elektronik. Itu hobinya dan passion-nya,” ujar Yeni.

Dibalik jiwa kreatifnya, ada satu hal lain yang baru diketahui Yeni setelah ayahnya meninggal.

Djumari ternyata melakukan sedekah, tetapi tidak pernah menceritakannya kepada keluarga.

Yeni mengetahuinya setelah melihat percakapan di WhatsApp milik ayahnya.

Ia mengatakan, sifat pendiam membuat banyak aktivitas pribadi Djumari hanya diketahui oleh dirinya sendiri dan Tuhan.

“Kalau mau melakukan apa pun enggak pernah bilang-bilang. Jadi hanya Bapak dan Allah yang tahu,” katanya.

Menurut Yeni, ayahnya tidak terbiasa menceritakan kebaikan yang dilakukan.

Termasuk soal sedekah, keluarga tidak mengetahui secara rinci kepada siapa atau ke mana bantuan tersebut diberikan.

“Memang segala sesuatunya dilakukan hanya sendiri dan Allah yang Maha Mengetahui,” ujar Yeni.

Momen ketika melihat wajah ayahnya untuk terakhir kali menjadi pengalaman yang sulit dilupakan Yeni.

“Masyaallah, benar-benar seperti cerah, terang, bersih banget, putih bersih,” katanya.

Menurut Yeni, perubahan tersebut terlihat jelas karena warna kulit ayahnya sehari-hari bukan termasuk yang berkulit putih.

Namun saat melihat jenazahnya, ia melihat wajah Djumari terlihat tenang dan cerah.

“Sedih sekaligus lega. Karena Bapak meninggal dalam kondisi yang sebaik-baiknya,” kata Yeni.

Penulis   : Muhammad Kamal

Editor      : Alif Nazzala Rizqi

Exit mobile version