Beranda Daerah Limbah Jadi Berkah, Mahasiswa KKN Undip Ajak Warga Bercak Budidaya Jamur dari...

Limbah Jadi Berkah, Mahasiswa KKN Undip Ajak Warga Bercak Budidaya Jamur dari Bonggol Jagung

Program ini berangkat dari melimpahnya hasil pertanian jagung di Desa Bercak. Setiap musim panen, masyarakat menghasilkan bonggol atau janggel jagung dalam jumlah cukup banyak.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Reguler (KKN-R) Tim II Universitas Diponegoro (Undip) mengembangkan inovasi budidaya jamur berbahan dasar bonggol jagung di Desa Bercak. (Foto : Dok KKN)
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Reguler (KKN-R) Tim II Universitas Diponegoro (Undip) mengembangkan inovasi budidaya jamur berbahan dasar bonggol jagung di Desa Bercak. (Foto : Dok KKN)

BOYOLALI, Jatengnews.id– Limbah bonggol jagung yang selama ini kerap dianggap tidak bernilai di Desa Bercak, Kecamatan Wonosamodro, Kabupaten Boyolali, kini diperkenalkan sebagai peluang baru untuk mendukung ketahanan pangan dan perekonomian masyarakat.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Reguler (KKN-R) Tim II Universitas Diponegoro (Undip) menggelar program budidaya jamur berbahan dasar bonggol jagung bagi warga Desa Bercak, Rabu (12/8/2026). Program multidisiplin tersebut mengusung tema “Budidaya Jamur Janggel dalam Rangka Mendukung Ketahanan Pangan Rumah Tangga di Desa Bercak”.

Program ini berangkat dari melimpahnya hasil pertanian jagung di Desa Bercak. Setiap musim panen, masyarakat menghasilkan bonggol atau janggel jagung dalam jumlah cukup banyak. Namun, limbah tersebut selama ini umumnya hanya dibuang atau dibiarkan menumpuk.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN Undip berupaya mengubah bonggol jagung menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Salah satunya dengan memanfaatkannya sebagai media budidaya jamur konsumsi yang memiliki nilai gizi sekaligus berpotensi memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga.

Kegiatan diawali dengan sosialisasi kepada warga. Violeta Celia Evangeline Tan dari Fakultas Hukum Undip turut membuka kegiatan dengan membagikan Pernyataan Kesadaran Risiko kepada peserta. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan warga memahami potensi risiko serta protokol keamanan pangan sebelum mengikuti praktik budidaya.

Setelah sesi sosialisasi, warga kemudian diajak mempraktikkan secara langsung tahapan budidaya jamur janggel. Bonggol jagung terlebih dahulu dibersihkan dan direndam selama 12 hingga 24 jam hingga kondisinya cukup lembap.

Selanjutnya, bonggol jagung dicampur dengan sejumlah bahan pendukung, seperti bekatul, urea, dan ragi tape. Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam peti kayu atau keranjang yang telah dilapisi karung.

Wadah budidaya ditutup rapat dan ditempatkan di lokasi yang teduh untuk menjalani proses inkubasi. Warga juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kelembapan media dengan melakukan penyemprotan air secara berkala.

Setelah jamur tumbuh, proses pemanenan dilakukan dengan cara memetik jamur secara hati-hati pada bagian pangkalnya. Melalui praktik tersebut, warga tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga memiliki pengalaman langsung dalam memulai budidaya jamur berbasis bahan lokal.

Menariknya, mahasiswa KKN Undip juga memperkenalkan sejumlah alternatif pemanfaatan bonggol jagung. Selain sebagai media budidaya jamur konsumsi, bonggol jagung dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan silase untuk ternak maupun briket biomassa sebagai bahan bakar alternatif.

Dengan demikian, satu jenis limbah pertanian dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan sesuai potensi dan kondisi masyarakat.

Antusiasme warga terlihat sepanjang pelaksanaan kegiatan, khususnya saat praktik mencampur media dan menata bonggol jagung ke dalam wadah budidaya. Sebagian peserta mengaku baru mengetahui bahwa bonggol jagung yang selama ini dianggap sebagai limbah ternyata dapat diolah menjadi media pangan yang berpotensi bernilai ekonomi.

Program tersebut sekaligus mendukung sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Di antaranya SDG 2 atau Tanpa Kelaparan melalui penguatan ketahanan pangan berbasis potensi lokal, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui peluang usaha budidaya jamur, serta SDG 12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pengolahan limbah pertanian menjadi produk bernilai guna.

Kepala Desa Bercak, Kamalat Azizah, menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, pemanfaatan bonggol jagung menjadi media budidaya jamur dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperkuat ketahanan pangan rumah tangga.

“Program ini sejalan dengan upaya kami mendorong ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Warga jadi tahu bahwa bahan yang selama ini dianggap limbah, seperti bonggol jagung, ternyata bisa diolah menjadi sumber pangan bergizi,” ujarnya.

Melalui program ini, mahasiswa KKN Undip berharap warga Desa Bercak dapat mengembangkan budidaya jamur janggel secara mandiri setelah kegiatan berakhir. Selain untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, budidaya tersebut juga diharapkan dapat dikembangkan menjadi rintisan usaha yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Pemanfaatan bonggol jagung menjadi jamur menjadi contoh bahwa limbah pertanian tidak selalu harus berakhir sebagai sampah. Dengan inovasi, pengetahuan, dan pengelolaan yang tepat, potensi lokal dapat diubah menjadi sumber pangan sekaligus peluang ekonomi bagi masyarakat Desa Bercak.



Penulis   : Tim Mahasiswa KKN

Editor     : Alif Nazzala Rizqi

Exit mobile version