Beranda Daerah Kampung Warna-Warni Wonodri Semarang, Bukti Gotong Royong dan Keberagaman Warga

Kampung Warna-Warni Wonodri Semarang, Bukti Gotong Royong dan Keberagaman Warga

Di tengah permukiman, lukisan gunungan wayang hingga wajah para presiden dan pahlawan nasional mempercantik dinding kampung.

Suasana RT 04 RW 11 Wonodri Kopen Barat, Kelurahan Wonodri, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang.
Suasana RT 04 RW 11 Wonodri Kopen Barat, Kelurahan Wonodri, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang. (Foto: Kamal)

SEMARANG, Jatengnews.id – Warna-warni pastel menghiasi gang-gang di RT 04 RW 11 Wonodri Kopen Barat, Kelurahan Wonodri, Kecamatan Semarang Selatan. Di tengah permukiman, lukisan gunungan wayang hingga wajah para presiden dan pahlawan nasional mempercantik dinding kampung.

Namun, keindahan itu bukan sekadar dekorasi menyambut HUT Kemerdekaan RI. Kampung tersebut menjadi gambaran keberagaman, kreativitas warga, gotong royong, sekaligus upaya membangun ketahanan pangan secara swadaya.

Panitia Dekorasi, Adelia Nurul Kharisma (37), mengatakan konsep tahun ini mengusung tema “Semarak Warna-Warni Kampungku” yang terinspirasi semangat Bhinneka Tunggal Ika.

“Di sini warganya berasal dari berbagai macam daerah: ada Padang, NTT, Jawa, hingga Flores. Warna-warni pastel ini melambangkan warga RT 04 yang selalu ceria, bahagia, dan saling merangkul dari anak-anak hingga yang sepuh,” tutur Adelia kepada Jatengnews.id beberapa waktu lalu.

Awalnya, pengecatan hanya direncanakan di sejumlah titik. Namun, setelah mendengar aspirasi warga, seluruh tembok rumah kemudian dihiasi pola polkadot dan warna-warna cerah.

Lukisan pahlawan dan presiden dibuat sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para tokoh bangsa. Sementara figur Punokawan di taman TOGA menjadi simbol nasihat agar warga senantiasa menjaga perilaku dan tutur kata.

Di balik lukisan tersebut terdapat sosok Oni Hari Setiyanto (45), warga setempat yang sehari-hari bekerja sebagai teknisi jaringan IT. Ia mengaku belajar melukis secara otodidak dari keluarga.

“Saya melukis otodidak. Dulu belajar dari ayah dan kakak yang memang sekolah di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Jogja. Punya hobi menggambar dari kecil, jadi untuk melukis tidak ada kendala,” kata Oni.

Untuk membuat gambar rumit, Oni menggunakan teknik mal dari lembaran kertas yang dibentuk sesuai pola. Setelah pola dicat dasar, detail lukisan diselesaikan menggunakan kuas.

Pengerjaannya pun dilakukan bersama. Ibu-ibu PKK, bapak-bapak hingga remaja ikut mewarnai lukisan secara bergotong royong.

Warga juga menghemat biaya dengan meracik sendiri cat dari warna dasar putih serta pigmen merah, kuning, biru dan hitam.

“Catnya kita oplos sendiri untuk menghasilkan warna pastel seperti pink, hijau muda, cokelat, hingga oranye,” jelas Oni.

Semangat swadaya juga terlihat dari penghijauan kampung. Berbagai tanaman hias, sayuran, TOGA, hingga pohon mangga dan jambu ditanam di sela-sela rumah dan pinggir jalan.

“Tanaman ini buat ketahanan pangan warga dan supaya kampung tidak gersang. Semua dibuat dari kemauan dan swadaya warga,” terang Ketua RT 04 RW 11.

Menariknya, hasil kebun tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi warga setempat. Siapa pun diperbolehkan mengambil buah yang tumbuh di area kampung.

“Hasil tanaman ini boleh diambil oleh siapa saja, tidak hanya warga RT 04. Mau warga luar yang lewat lalu petik jambu atau mangga, silakan. Kalau kita menanam di pinggir jalan dan diambil orang, itu berkah,” pungkasnya.

Kampung Wonodri Kopen Barat pun menunjukkan bahwa wajah permukiman bukan hanya soal warna cat dan mural. Di baliknya ada keberagaman, kreativitas, gotong royong, serta semangat berbagi yang tumbuh dari kesadaran warga sendiri.

Penulis : M Kamal

Editor : Jaka N

Exit mobile version