Beranda Daerah KKN UIN Walisongo Ajak Siswa MAN Demak Ubah Hobi dan Ide Kreatif...

KKN UIN Walisongo Ajak Siswa MAN Demak Ubah Hobi dan Ide Kreatif Jadi Peluang Bisnis

Dari tren kuliner hingga pemanfaatan teknologi, siswa diajak melihat peluang usaha yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

KKN UIN WS sosialiasi ekonomi kreatif
Siswa MAN Demak mengikuti sosialisasi ekonomi kreatif dan literasi keuangan yang digelar KKN MIT-22 UIN Walisongo Semarang Posko 108, Senin (10/8/2026) (Foto: Dok KKN).

Demak, JatengNews.id— Ide bisnis ternyata sudah mulai tumbuh di kalangan siswa MAN Demak. Hal itu terlihat dalam kegiatan sosialisasi ekonomi kreatif dan literasi keuangan yang digelar Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT-22 UIN Walisongo Semarang Posko 108, Senin (10/8/2026).

Sebanyak 68 siswa gabungan kelas 12-1 dan 12-2 mengikuti kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–09.30 WIB. Sosialisasi tersebut menghadirkan Dimas Purwo Kuswono sebagai pemateri literasi keuangan dan M. Hilmy Hikam sebagai pemateri ekonomi kreatif.

Kegiatan tidak hanya berisi penyampaian teori. Para siswa diajak mengenali peluang usaha, memanfaatkan kemampuan yang dimiliki, serta memahami bagaimana sesuatu yang ada di sekitar dapat dikembangkan menjadi sumber penghasilan.

Dalam sesi ekonomi kreatif, Hilmy mengajak siswa mengenal basic entrepreneurship sejak bangku sekolah. Menurutnya, perkembangan tren dan teknologi dapat membuka berbagai peluang usaha apabila dimanfaatkan secara kreatif.

Kalian harus memiliki basic entrepreneurship di era sekarang, di mana semua bisa kita jadikan peluang usaha seperti yang lagi tren dimsum, matcha, Dubai chewy cookie,” ungkap Hilmy.

Ia juga menekankan bahwa teknologi tidak sebatas digunakan untuk hiburan. Menurut Hilmy, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengembangkan usaha sekaligus menghasilkan pendapatan.

Teknologi bukan hanya untuk hiburan, tetapi bisa jadi alat untuk mendapatkan pendapatan,” ujarnya.

Siswa MAN Demak Sudah Punya Ide Bisnis

Antusiasme siswa semakin terlihat ketika mereka diberi kesempatan menyampaikan gagasan usaha masing-masing. Salah satunya Muna Nisa, siswi kelas 12-1, yang tertarik mengembangkan jasa penyewaan iPhone dan kamera.

Ide tersebut muncul dari usaha yang telah dijalankan kakaknya dan memiliki cabang di Semarang, Solo, serta Kudus. Muna berencana mengembangkan usaha serupa di Demak.

Saya ini sih, Kak, kakak saya buka jasa sewa iPhone dan kamera dan alhamdulillah sudah punya cabang di Semarang, Solo, Kudus. Nah, saya ingin melanjutkan untuk di Demak ini. Jadi saya coba buat tekuni bidang ini, biar saya yang pegang Demak,” ceritanya.

Ide bisnis lain datang dari Favian, siswa kelas 12-1, yang telah mencoba menjalankan usaha jasa gambar. Ia menyadari bahwa bisnis tersebut masih membutuhkan pengembangan, terutama dari sisi promosi.

Favian mengatakan salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengikuti tren dan memperkenalkan kemampuan menggambar kepada masyarakat. Setelah dikenal lebih luas, kemampuan tersebut dapat dikembangkan menjadi produk komersial maupun peluang kerja sama dengan komunitas.

Untuk mempopulerkan dapat dengan mengikuti tren atau apa yang memang diminati dan memperkenalkan kemampuan menggambar saya. Dan setelah orang banyak mengenal bisa saya pasarkan. Commercial art juga bisa dari komunitas,” jelasnya.

Respons tersebut menunjukkan bahwa literasi ekonomi kreatif tidak berhenti pada materi yang disampaikan di kelas. Ketika diberi ruang untuk berdiskusi, siswa mampu mengidentifikasi kemampuan, pengalaman, dan peluang yang dapat dikembangkan menjadi usaha.

Sekolah Dukung Siswa Manfaatkan Peluang

Kepala Madrasah MAN Demak, H. Nur Kamsan, S.Ag., M.Pd., turut memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut. Ia mendorong siswa agar pengetahuan dan fasilitas yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produktif.

Materi yang disampaikan dapat dimanfaatkan. Jika bisa, gunakan untuk menambah pemasukan. Contohnya eceng gondok yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan uang seperti anyaman kursi. Ada juga yang buat video kisah yang divisualkan dengan AI, jadi drama China yang banyak peminatnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Zalia Arzenti, anggota Divisi Kewirausahaan Posko 108, menilai siswa menunjukkan antusiasme selama kegiatan berlangsung.

Seru dan menambah pemahaman baru. Anak-anaknya excited ngikutin acaranya. Kepala sekolah juga memberikan dukungan penuh pada kami untuk mengadakan kegiatan ini,” ungkap Zalia.

Ia berharap materi ekonomi kreatif dan literasi keuangan yang diberikan dapat mendorong siswa untuk lebih peka terhadap peluang di lingkungan sekitar.

Harapannya materi yang kami sampaikan bisa bermanfaat bagi teman-teman, memberikan dampak positif, biar mereka punya dorongan buat lihat peluang ke depannya yang ada di sekitar mereka,” tambahnya.

Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak dituntut untuk langsung menjadi pengusaha. Mereka terlebih dahulu diajak membangun pola pikir kewirausahaan, mengenali potensi diri, memahami peluang, dan berani mengembangkan ide.

Sebab, peluang usaha tidak selalu datang dari sesuatu yang besar. Bisa jadi, peluang tersebut berawal dari hobi, kemampuan, pengalaman keluarga, atau sesuatu yang selama ini sudah ada di sekitar mereka.

Penulis: Tim KKN UIN Walisongo Posko 108
Editor: R. D. Pramesti

Exit mobile version