Beranda Daerah Mendag Targetkan Transaksi TEI 2026 Lampaui US$22,8 Miliar

Mendag Targetkan Transaksi TEI 2026 Lampaui US$22,8 Miliar

Budi mengatakan pemerintah terus mendorong keterlibatan pelaku usaha, termasuk industri furnitur yang dinilai memiliki peluang besar untuk meningkatkan ekspor.

Menteri Perdagangan Budi Santoso saat membuka The Ultimate Hub For Global Sourching di Hotel Alila Solo.
Menteri Perdagangan Budi Santoso saat membuka The Ultimate Hub For Global Sourching di Hotel Alila Solo. (Foto: Iwan).

SOLO, Jatengnews.id – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menargetkan transaksi Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 pada 14-18 Oktober 2026 melampaui capaian tahun sebelumnya sebesar US$22,8 miliar.

Target tersebut disampaikan Budi seusai membuka The Ultimate Hub For Global Sourcing di Hotel Alila Solo, Kamis (20/8/2026).

Budi mengatakan pemerintah terus mendorong keterlibatan pelaku usaha, termasuk industri furnitur yang dinilai memiliki peluang besar untuk meningkatkan ekspor.

“Harapan kita adalah furniture ini terus meningkat ekspornya,” ujarnya.

Untuk mendongkrak transaksi, Kementerian Perdagangan menyiapkan skema business matching yang mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan calon pembeli dari berbagai negara sebelum TEI berlangsung.

Peserta yang telah mendaftar akan mengikuti business matching secara daring. Pertemuan tersebut diharapkan berlanjut menjadi kontrak dagang saat calon buyer datang ke Indonesia.

“Jadi ketika sudah ada di Indonesia, otomatis mereka akan terjadi kontrak dagang,” katanya.

TEI tahun lalu diikuti sekitar 8.045 peserta dengan nilai transaksi US$22,8 miliar. Tahun ini, pemerintah menargetkan jumlah peserta dan nilai transaksi meningkat.

Budi juga memastikan pemerintah akan memantau realisasi kontrak dagang yang telah disepakati agar berjalan sesuai target.

“Ketika pelaku usaha sudah transaksi dagang, sudah kontrak dagang, kita pastikan proses atau realisasi dari kontrak dagang itu berjalan dengan baik,” jelasnya.

Selain perdagangan, Budi menyoroti harga kebutuhan pokok setelah memantau Pasar Soekarno, Sukoharjo. Ia menilai harga sejumlah komoditas relatif baik, termasuk telur ayam yang mulai mendekati harga acuan pemerintah.

Menurutnya, harga yang terlalu rendah dapat merugikan peternak karena tidak mampu menutup biaya produksi.

“Kalau harga itu terlalu rendah, nanti peternaknya bisa bangkrut, karena biaya produksinya juga harus dikeluarkan,” jelasnya.

Budi menegaskan stabilitas harga bukan berarti harga harus selalu rendah, tetapi harus menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen.

“Stabilitas harga bukan sekadar menjaga agar harga tetap rendah, tetapi juga memastikan produsen tetap mampu bertahan sehingga pasokan kebutuhan masyarakat dapat terjaga dalam jangka panjang,” pungkasnya.

Penulis : Iwan Iswanda

Editor : Jaka N

Exit mobile version