SEMARANG, Jatengnews.id – Musim kemarau yang berlangsung cukup panjang mulai berdampak terhadap ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Kota Semarang. Debit air dari PDAM, sumur pribadi, hingga sumur artetis mengalami penurunan.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga harus menghemat penggunaan air, membeli air tangki, hingga mencari tempat lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kepala BPBD Kota Semarang Endro P Martanto mengimbau masyarakat agar bijak menggunakan air bersih selama musim kemarau.
“Imbauan untuk warga tentunya saat ini agar bijak dan hemat dalam menggunakan air bersih,” kata Endro saat dihubungi Jatengnews.id, Sabtu (22/8/2026).
Menurutnya, kemarau panjang turut memengaruhi ketersediaan air dari berbagai sumber.
“Karena kita tahu, di musim kemarau yang relatif panjang ini, ketersediaan air bersih dari PDAM, sumur pribadi, artetis ini debitnya menurun,” ujarnya.
Berdasarkan data BPBD Kota Semarang per 18 Agustus 2026, sebanyak 55.000 liter air bersih telah disalurkan kepada warga terdampak kekeringan.
Air tersebut didistribusikan menggunakan 11 tangki ke 11 titik yang tersebar di tujuh kelurahan dan tiga kecamatan.
Sejumlah titik distribusi berada di Kalipancur, Graha Permata Tembalang, Griya Rosari Permai, Griya Rowosari Permai, Perum Sinar Lestari Indah, Klaster Inara Bulusan, Mangunharjo, Rowosari RW 9, Bulusan, Jabungan RT 03/RW 03, serta Dukuh Rejosari RT 07/RW 10 Meteseh.
BPBD Semarang menyiapkan total persediaan sekitar 900.000 liter air bersih. Hingga 18 Agustus 2026, masih terdapat sekitar 845.000 liter yang siap didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Selain mengantisipasi krisis air bersih, BPBD juga mengingatkan warga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama musim kemarau.
Endro meminta masyarakat tidak membakar sampah sembarangan, terutama di sekitar lahan kosong yang vegetasinya mulai mengering.
“Kemudian yang kedua terkait dengan musim kemarau yang cukup panjang ini, waspada terkait dengan antisipasi pembakaran. Terutama di lahan-lahan yang kosong,” katanya.
Ia menegaskan kondisi kering membuat api lebih mudah menjalar sehingga pembakaran sampah dapat memicu kebakaran.
“Artinya warga masyarakat agar tidak membakar sampah di manapun,” tegasnya.
Penulis : M Kamal
Editor : Jaka N
