
BOYOLALI, Jatengnews.id— Geliat usaha rumahan di Desa Repaking, Kecamatan Wonosamodro, Kabupaten Boyolali, terus berkembang.
Sejumlah warga menjalankan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan memproduksi berbagai barang maupun makanan untuk dipasarkan kepada masyarakat.
Namun, perkembangan tersebut masih dihadapkan pada tantangan dalam pengelolaan keuangan. Sebagian pelaku UMKM belum memiliki pencatatan keuangan yang terstruktur sehingga masih kesulitan mengetahui kondisi usaha secara pasti, termasuk dalam menentukan apakah produk yang dijual benar-benar memberikan keuntungan.
Persoalan tersebut kemudian menjadi perhatian Mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro (Undip) yang bertugas di Desa Repaking. Mereka menggelar program pendampingan praktik penentuan laba rugi secara sederhana untuk membantu pelaku UMKM menghitung keuntungan sekaligus menentukan harga jual yang lebih tepat.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Rabu (12/8/2026) dengan melibatkan pelaku UMKM Desa Repaking. Pendampingan tidak hanya diberikan melalui pemaparan materi, tetapi juga dilanjutkan dengan praktik langsung menggunakan data dari usaha masing-masing peserta.
Kegiatan diawali dengan penjelasan mengenai pentingnya laporan laba rugi dalam menjaga keberlangsungan sebuah usaha. Mahasiswa menjelaskan bahwa penentuan keuntungan tidak cukup hanya berdasarkan perkiraan atau feeling.
Berbagai komponen biaya, mulai dari bahan baku, proses produksi, hingga biaya operasional lainnya perlu dicatat dan dihitung secara cermat. Dengan begitu, pelaku usaha dapat mengetahui besaran modal yang dikeluarkan dan membandingkannya dengan pendapatan yang diperoleh.
“Jangan sampai harga jual terlihat sudah menghasilkan uang, tetapi setelah semua biaya dihitung ternyata keuntungan yang diperoleh sangat kecil atau bahkan mengalami kerugian,” menjadi salah satu poin penting dalam pendampingan tersebut.
Peserta yang mengikuti kegiatan memiliki tingkat pemahaman pencatatan keuangan yang beragam. Sebagian pelaku UMKM bahkan belum pernah melakukan pembukuan, sementara lainnya telah mencatat pemasukan dan pengeluaran secara sederhana.
Kondisi tersebut membuat mahasiswa menyesuaikan materi pendampingan dengan kemampuan masing-masing peserta. Pendampingan dimulai dari pengenalan dasar pencatatan hingga praktik penghitungan yang lebih terstruktur menggunakan Excel.
Setelah mendapatkan penjelasan, peserta kemudian diajak mempraktikkan penyusunan laporan laba rugi sederhana. Mereka memasukkan data penjualan, biaya bahan baku, serta biaya operasional usaha masing-masing.
Dari data tersebut, peserta kemudian menghitung selisih antara pendapatan dan total biaya untuk mengetahui laba atau rugi yang sebenarnya. Praktik ini diharapkan membuat pelaku UMKM tidak sekadar memahami teori, tetapi mampu menerapkannya dalam aktivitas usaha sehari-hari.
Suasana kegiatan berlangsung interaktif. Para pelaku UMKM aktif berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang mereka hadapi, terutama terkait penghitungan biaya produksi dan penentuan harga jual.
Mahasiswa juga memberikan simulasi berdasarkan kondisi usaha masing-masing peserta. Dengan cara tersebut, pelaku UMKM dapat melihat secara langsung bagaimana perubahan biaya produksi maupun harga jual dapat memengaruhi keuntungan usaha.
Tak berhenti pada kegiatan pendampingan, Mahasiswa KKN Tim II Undip juga menghasilkan luaran berupa Standar Operasional Prosedur (SOP) pembuatan laporan laba rugi menggunakan Excel.
SOP tersebut memuat tahapan pencatatan penjualan dan biaya, penghitungan laba rugi, hingga membantu pelaku UMKM menentukan harga jual yang sesuai. Panduan tersebut diharapkan dapat digunakan secara mandiri setelah program KKN berakhir.
Melalui kegiatan ini, pelaku UMKM Desa Repaking diharapkan semakin memahami kondisi keuangan usaha secara akurat. Pencatatan yang lebih tertib juga dapat membantu pelaku usaha menghindari kesalahan dalam menetapkan harga dan mengambil keputusan bisnis.
Program tersebut sekaligus mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-8, yakni Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Penguatan kemampuan pengelolaan keuangan UMKM dinilai dapat menjadi salah satu langkah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif di tingkat desa.
Mahasiswa KKN Tim II Undip berharap pendampingan tersebut tidak berhenti selama pelaksanaan KKN. Pelaku UMKM diharapkan dapat menerapkan pencatatan laba rugi secara rutin dan berkelanjutan.
Dengan adanya SOP berbasis Excel, pelaku UMKM Desa Repaking diharapkan memiliki fondasi pengelolaan keuangan yang lebih profesional, sehingga dapat menentukan harga secara lebih tepat, mengetahui keuntungan secara nyata, dan mengembangkan usahanya agar semakin mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Penulis : Tim Mahasiswa KKN
Editor : Alif Nazzala Rizqi