
Semarang, JatengNews.id– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 04 menggelar pelatihan dan demonstrasi pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi bersama ibu-ibu PKK dan rumah tangga Kelurahan Sidomulyo, Sabtu (15/08/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Balai Kelurahan Sidomulyo tersebut mengajak warga memanfaatkan limbah dapur sekaligus mengenalkan peluang pengembangan produk kreatif bernilai ekonomi.
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa KKN mengenalkan pengelolaan limbah rumah tangga yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Minyak jelantah yang biasanya dibuang atau dibiarkan menumpuk diperkenalkan sebagai bahan yang masih dapat dimanfaatkan untuk membuat produk nonpangan.
Mahasiswa KKN yang menjadi pemateri, Amin Mujtaba, mengawali kegiatan dengan menjelaskan pentingnya tidak membuang minyak jelantah secara sembarangan. Peserta juga diperkenalkan pada potensi pemanfaatan minyak bekas sebagai bahan dasar pembuatan lilin aromaterapi.
“Minyak jelantah ini sebenarnya masih bisa diolah lagi, jangan langsung dibuang. Kalau diolah dengan cara yang tepat, minyak ini bisa jadi lilin aromaterapi yang layak dipakai sendiri atau bahkan dijual,” ujar Amin saat pelatihan.
Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan lilin aromaterapi. Amin memperagakan tahapan pengolahan minyak jelantah secara langsung agar peserta dapat melihat prosesnya sebelum mencoba secara mandiri.
Sejumlah peserta kemudian diberi kesempatan untuk mempraktikkan proses pembuatan lilin, mulai dari penyaringan minyak jelantah hingga tahap pencetakan. Mahasiswa KKN mendampingi peserta selama praktik untuk membantu setiap tahapan pembuatan.
Salah satu peserta, Puji, mengaku mendapatkan pengetahuan baru dari kegiatan tersebut. Ia sebelumnya belum mengetahui bahwa minyak bekas yang digunakan untuk menggoreng dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk seperti lilin aromaterapi.
“Ternyata caranya tidak sesulit yang saya kira. Minyak bekas goreng di rumah selama ini cuma saya buang, sekarang jadi tahu bisa dibuat lilin seperti ini,” kata Puji.
Antusiasme peserta terlihat saat kegiatan memasuki sesi praktik. Kesempatan untuk mencoba secara langsung membuat lilin menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian peserta karena mereka dapat mengetahui proses pengolahan minyak jelantah secara lebih konkret.
Selain membantu mengenalkan alternatif pemanfaatan limbah dapur, keterampilan tersebut juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi kreatif. Lilin aromaterapi dapat dikembangkan sebagai produk rumah tangga dengan memperhatikan kualitas produk, aroma, kemasan, serta proses produksi yang konsisten.
Dari sisi lingkungan, pemanfaatan minyak jelantah juga dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi kebiasaan membuang limbah minyak secara sembarangan. Minyak yang dibuang ke saluran air dapat menimbulkan persoalan pada lingkungan dan saluran pembuangan apabila dilakukan secara terus-menerus.
Melalui pelatihan ini, mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 04 berharap masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK dan rumah tangga di Kelurahan Sidomulyo, dapat memperoleh keterampilan baru dalam mengelola limbah rumah tangga.
Kegiatan tersebut juga diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi warga untuk mengembangkan pemanfaatan minyak jelantah secara lebih kreatif, baik untuk kebutuhan pribadi maupun sebagai peluang produk bernilai ekonomi apabila dikembangkan secara berkelanjutan.
Penulis: Tim Mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Posko 04
Editor: R. D. Pramesti