
SEMARANG, Jatengnews.id – Desa Gebugan menyimpan potensi sosial budaya dan ekonomi yang cukup besar, mulai dari sanggar seni yang masih aktif hingga geliat UMKM rumahan warga.
Dari potensi itulah muncul gagasan untuk menyelenggarakan Festival Seni Budaya Desa Gebugan, sebuah agenda tahunan yang menggabungkan pentas seni, pameran UMKM, sekaligus ajang promosi potensi desa kepada masyarakat luas.
Meski demikian, gagasan besar ini menyisakan satu pekerjaan rumah penting: bagaimana memastikan acara dapat berjalan lancar di tengah berbagai risiko yang mungkin muncul.
Untuk menjawab persoalan tersebut, mahasiswa KKN dari Universitas Diponegoro, merancang sebuah inovasi berupa penyusunan SOP Mitigasi Risiko/Contingency Plan yang secara khusus disiapkan untuk penyelenggaraan Festival Seni Budaya Desa Gebugan.
Program ini dijalankan mengingat kesuksesan sebuah festival tidak semata bergantung pada meriahnya acara, melainkan juga pada sejauh mana panitia siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang tidak terduga.
Atas dasar itu, kegiatan yang dirancang tidak hanya berhenti pada tahap edukasi, tetapi diarahkan untuk menghasilkan dokumen SOP yang bersifat aplikatif dan dapat langsung dimanfaatkan oleh Perangkat Desa serta BUMDes Gebugan.
Pelaksanaan program ini dilakukan melalui beberapa tahapan. Mula-mula, mahasiswa KKN memberikan pemahaman dasar kepada perangkat desa mengenai pentingnya mitigasi risiko dalam penyelenggaraan sebuah event.
Selanjutnya, dirumuskan berbagai tindakan preventif maupun responsif untuk setiap potensi risiko yang telah diidentifikasi, sekaligus ditentukan alur pengambilan keputusan dan pihak yang bertanggung jawab pada tiap tingkatan risiko. Dengan cara ini, ketika suatu masalah muncul di lapangan, panitia sudah memiliki panduan yang jelas untuk segera mengambil tindakan tanpa perlu ragu menentukan siapa yang berwenang.
Hasil dari rangkaian kegiatan tersebut dituangkan ke dalam Modul SOP Mitigasi Risiko/Contingency Plan Festival, yang disusun secara sistematis dalam format tabel memuat jenis risiko, langkah penanganan, hingga penanggung jawab terkait. Modul ini diserahkan kepada Perangkat Desa Gebugan dalam dua bentuk, yakni cetak dan digital, agar dapat diakses dengan mudah kapan pun diperlukan — baik untuk penyelenggaraan festival tahun ini maupun sebagai pedoman berkelanjutan pada tahun-tahun berikutnya.
Kehadiran Contingency Plan ini menjadikan Desa Gebugan lebih siap menyelenggarakan Festival Seni Budaya secara profesional dan dengan risiko yang lebih terkendali.
Inovasi yang tergolong sederhana ini menjadi bukti nyata bahwa kontribusi mahasiswa KKN dapat memberikan solusi konkret atas persoalan yang dihadapi masyarakat desa, bukan sekadar berhenti pada wacana, SOP ini diharapkan terus disempurnakan seiring berjalannya waktu, sehingga Festival Seni Budaya Desa Gebugan dapat berkembang menjadi agenda tahunan yang tidak hanya meriah, tetapi juga aman, tertata, dan berkelanjutan.
Penulis : Tim Mahasiswa KKN
Editor : Alif Nazzala Rizqi