SEMARANG, Jatengnews.id — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 84 Universitas Diponegoro (UNDIP) mendorong penguatan pemasaran produk UMKM lokal Desa Gebugan, Kabupaten Semarang, melalui penerapan sistem konsinyasi untuk Sirup Pala Bunda Wati.
Program bertajuk “Optimalisasi Distribusi Sirup Pala Bunda Wati melalui Sistem Konsinyasi Warung Desa Gebugan” tersebut dirancang untuk memperluas jangkauan pemasaran dengan memanfaatkan warung-warung yang menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari.
Sirup Pala Bunda Wati merupakan salah satu produk olahan lokal Desa Gebugan yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan. Namun, selama ini pemasaran produk masih mengandalkan penjualan secara langsung maupun pesanan konsumen.
Pola pemasaran tersebut membuat jangkauan produk relatif terbatas. Konsumen perlu melakukan pemesanan terlebih dahulu untuk mendapatkan produk, sehingga peluang Sirup Pala Bunda Wati menjangkau pasar yang lebih luas masih dapat dioptimalkan.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN-T 84 UNDIP memperkenalkan sistem konsinyasi sebagai alternatif strategi distribusi. Melalui skema ini, produk dititipkan kepada pemilik warung untuk ditawarkan kepada konsumen, sementara pembayaran dilakukan berdasarkan produk yang berhasil terjual.
“Dengan sistem konsinyasi, produk dapat lebih dekat dengan konsumen karena tersedia di warung-warung yang biasa mereka kunjungi,” demikian tujuan utama program yang dijalankan mahasiswa KKN-T 84 UNDIP.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa terlebih dahulu melakukan pemetaan dan identifikasi terhadap warung-warung yang dinilai potensial menjadi titik distribusi Sirup Pala Bunda Wati.
Setelah itu, mahasiswa berkoordinasi dengan pemilik warung mengenai mekanisme penitipan produk, pencatatan jumlah barang, pemantauan persediaan, hingga pengecekan hasil penjualan.
Langkah tersebut tidak hanya bertujuan menambah titik penjualan, tetapi juga memperkenalkan pola distribusi yang lebih terorganisir bagi pelaku UMKM. Produk dapat ditempatkan di sejumlah lokasi strategis tanpa harus membuka tempat penjualan baru.
Keberadaan produk di warung desa juga diharapkan dapat meningkatkan visibilitas Sirup Pala Bunda Wati. Masyarakat yang sebelumnya belum mengetahui produk tersebut berkesempatan mengenal dan membelinya secara langsung ketika berbelanja di warung.
Mahasiswa KKN-T 84 UNDIP berharap sistem konsinyasi ini dapat menjadi langkah awal bagi Sirup Pala Bunda Wati untuk memperluas pasar secara bertahap. Penambahan titik distribusi dapat dilakukan menyesuaikan tingkat permintaan dan hasil evaluasi penjualan.
Program tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan UMKM tidak selalu membutuhkan strategi pemasaran yang kompleks. Dengan memanfaatkan jaringan ekonomi yang sudah tersedia di desa, distribusi produk lokal dapat diperluas secara sederhana, adaptif, dan berkelanjutan.
Melalui program KKN-T 84 UNDIP ini, Sirup Pala Bunda Wati diharapkan semakin dikenal masyarakat dan mampu menjadi salah satu produk olahan lokal Desa Gebugan yang memiliki daya saing serta peluang pasar lebih luas.
Penulis : Tim Mahasiswa KKN
Editor : Alif Nazzala Rizqi





