KKN UIN Walisongo Dorong Promosi UMKM Tempe Bakalrejo yang Bertahan Sejak 1989

Demak, JatengNews.id— Mahasiswa Kuiah Kerja Nyata (KKN-MIT) ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 96 mengunjungi UMKM produksi tempe milik Ahmad Jauhari di Dukuh Pulo, Desa Bakalrejo, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, Kamis (06/08/2026).

Kegiatan Divisi Ekonomi Kreatif (Ekraf) tersebut dilakukan untuk mengenali potensi usaha lokal sekaligus membantu memperluas promosi produk tempe melalui konten digital.

Usaha tempe yang dikelola Ahmad Jauhari telah berjalan sejak 1989. Selama puluhan tahun, produk tempe tersebut dipasarkan secara langsung ke pasar dan sejumlah warung di sekitar Desa Bakalrejo.

Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa KKN mengamati secara langsung proses produksi tempe sekaligus berdialog dengan pelaku usaha mengenai pengolahan, pemasaran, hingga tantangan yang dihadapi dalam menjalankan usaha.

Proses pembuatan tempe dilakukan melalui sejumlah tahapan. Kedelai terlebih dahulu direbus hingga matang, kemudian direndam selama sehari semalaman hingga terasa sedikit asam. Kedelai selanjutnya dicuci dan diremas hingga bersih sebelum diberi ragi tempe.

“Pertama rebus kedelai terlebih dahulu sampai matang kemudian direndam sehari semalaman hingga terasa sedikit asam. Lalu dicuci dan diremas-remas sampai bersih. Setelah itu diberi ragi tempe secukupnya dan diaduk sampai rata lalu dibungkus dengan plastik yang sudah dilubangi atau daun pisang,” ujar Ahmad Jauhari.

Kedelai yang telah diberi ragi kemudian dibungkus dan didiamkan selama kurang lebih dua hari untuk menjalani proses fermentasi. Pada tahap tersebut, jamur tempe tumbuh dan menyatukan biji-biji kedelai hingga menghasilkan tempe yang siap dikonsumsi maupun dipasarkan.

Meski telah bertahan selama puluhan tahun, usaha tempe tersebut masih dikelola secara sederhana dan belum memiliki merek khusus. Pemasaran juga masih mengandalkan pasar lokal dan warung-warung di sekitar desa sehingga jangkauan konsumennya masih terbatas.

Selain melihat proses produksi dan pemasaran, mahasiswa KKN juga menemukan adanya pemanfaatan limbah produksi. Limbah yang dihasilkan selama proses pembuatan tempe diberikan kepada peternak kambing di sekitar desa untuk dimanfaatkan sebagai pakan.

Mahasiswa kemudian mendokumentasikan tahapan pembuatan tempe sebagai bahan pembuatan video promosi UMKM. Konten tersebut direncanakan untuk dipublikasikan melalui media sosial, seperti Instagram dan TikTok, guna memperkenalkan produk tempe Desa Bakalrejo kepada masyarakat yang lebih luas.

Salah satu mahasiswa KKN Posko 96, Hanya Abriananta, mengatakan kunjungan tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung potensi usaha tempe yang telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat Desa Bakalrejo.

“Kunjungan ini membuat kami mengetahui usaha tempe di Desa Bakalrejo memiliki potensi yang cukup besar dan sudah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Kami ingin membantu mengenalkan produk melalui konten yang menarik, memperlihatkan proses pembuatan tempe dari awal hingga siap dijual,” tutur Hanya.

Menurutnya, promosi melalui konten digital diharapkan dapat membantu produk tempe tersebut menjangkau konsumen yang lebih luas sekaligus meningkatkan peluang pengembangan usaha.

Kunjungan UMKM ini menjadi bagian dari upaya KKN-MIT 22 UIN Walisongo Posko 96 dalam mengidentifikasi dan mendukung potensi ekonomi lokal Desa Bakalrejo. Melalui dokumentasi dan promosi digital, mahasiswa berharap produk tempe yang telah bertahan selama puluhan tahun tersebut semakin dikenal di luar wilayah pemasaran lokal.

Penulis: Tim Mahasiswa KKN-MIT 22 UIN Walisongo Posko 96
Editor: R. D. Pramesti

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN