Beranda Pendidikan Merawat Kebinekaan Di Tengah Ancaman Disintegrasi Bangsa

Merawat Kebinekaan Di Tengah Ancaman Disintegrasi Bangsa

Dosen Pemikiran Islam Modern, Fuhum UIN Walisongo Adnan Ahmad
Dosen Pemikiran Islam Modern, Fuhum UIN Walisongo Adnan Ahmad. (Foto: dok)

INDONESIA adalah bangsa yang dibangun di atas keberagaman. Perbedaan suku, agama, bahasa, budaya, adat istiadat, hingga pandangan hidup merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas bangsa. Dari Sabang sampai Merauke, kebinekaan menjadi kekuatan yang memungkinkan Indonesia berdiri sebagai negara yang besar dan berdaulat.

Namun, kebinekaan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perkembangan teknologi informasi, globalisasi, politik identitas, penyebaran hoaks, ujaran kebencian, fanatisme sempit, dan intoleransi dapat mengubah perbedaan menjadi sumber konflik. Karena itu, kebinekaan tidak cukup hanya dirayakan melalui semboyan Bhinneka Tunggal Ika, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

Sejak awal berdirinya Indonesia, para pendiri bangsa menyadari bahwa negara ini tidak dapat dibangun berdasarkan satu identitas kelompok. Indonesia adalah rumah bersama bagi berbagai kelompok masyarakat. Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika menjadi fondasi penting untuk menjaga persatuan di tengah perbedaan.

Kebinekaan merupakan modal sosial yang berharga. Perbedaan budaya melahirkan kekayaan tradisi, perbedaan pemikiran mendorong kreativitas, sementara keberagaman keyakinan mengajarkan pentingnya saling menghormati. Persatuan bukan berarti menghapus perbedaan, melainkan kemampuan untuk hidup bersama secara dewasa dalam perbedaan.

Ancaman disintegrasi muncul ketika ikatan persatuan melemah dan kepentingan kelompok ditempatkan di atas kepentingan bangsa. Ancaman tersebut tidak selalu hadir dalam bentuk konflik terbuka. Pada era digital, disintegrasi dapat berkembang melalui hoaks, propaganda, ujaran kebencian, manipulasi opini, dan narasi yang mempertentangkan satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Media sosial mempercepat penyebaran informasi. Pernyataan yang dipotong dari konteks dapat memicu kontroversi, sementara informasi yang belum tentu benar mudah dipercaya karena sesuai dengan pandangan pribadi. Jika masyarakat kehilangan kemampuan melakukan verifikasi, ruang publik akan dipenuhi kecurigaan dan polarisasi.

Kedewasaan Politik dan Moderasi

Perbedaan pilihan politik merupakan bagian dari demokrasi. Persoalan muncul ketika perbedaan tersebut berubah menjadi permusuhan. Politik identitas yang mengeksploitasi isu suku, agama, ras, atau kelompok dapat mempersempit ruang dialog dan memperbesar polarisasi.

Demokrasi seharusnya menjadi ruang untuk mempertemukan perbedaan, bukan memperbesar permusuhan. Berbeda pilihan tidak berarti bermusuhan. Kritik terhadap pemerintah bukan berarti membenci negara, sementara mendukung pemerintah bukan berarti membenarkan seluruh kebijakan tanpa kritik. Kedewasaan demokrasi terletak pada kemampuan menjaga perbedaan tanpa kehilangan persaudaraan.

Salah satu cara merawat kebinekaan adalah memperkuat moderasi dalam kehidupan sosial. Moderasi mengajarkan keseimbangan, toleransi, penghormatan terhadap perbedaan, serta kesediaan berdialog dan mencari titik temu. Dalam kehidupan beragama, seseorang dapat menjalankan keyakinannya dengan teguh sekaligus menghormati pemeluk agama lain.

Moderasi bukan berarti menghilangkan prinsip, melainkan mempertahankan keyakinan dengan tetap mengedepankan penghormatan, keadilan, dialog, dan kemanusiaan. Nilai tasamuh, tawazun, i’tidal, dan musawah perlu terus dihidupkan sebagai bagian dari upaya memperkuat persaudaraan.

Merawat kebinekaan harus dimulai dari keluarga. Anak perlu dibiasakan menghormati perbedaan, peduli terhadap sesama, serta menyelesaikan persoalan melalui dialog dan musyawarah. Pendidikan formal juga memiliki peran strategis. Sekolah dan perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus membentuk karakter, integritas, tanggung jawab sosial, dan kesadaran kebangsaan.

Generasi muda perlu memiliki kemampuan berpikir kritis dan literasi digital agar tidak mudah terpengaruh provokasi, propaganda, dan berita palsu. Sebelum membagikan informasi, masyarakat harus melakukan tabayyun atau verifikasi. Perbedaan pendapat juga tidak boleh menjadi alasan untuk menghina atau menyerang pribadi. Kritik seharusnya diarahkan pada gagasan dan kebijakan, bukan identitas seseorang.

Tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, media, komunitas pemuda, dan pemerintah juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga persatuan. Kebijakan publik harus dilaksanakan secara adil dan tidak diskriminatif karena rasa keadilan merupakan salah satu fondasi kepercayaan masyarakat terhadap negara.

Gotong Royong dan Kepentingan Nasional

Salah satu kekuatan bangsa Indonesia yang harus terus dirawat adalah gotong royong. Ketika masyarakat bekerja bersama membantu korban bencana, membersihkan lingkungan, membangun fasilitas umum, atau melakukan kegiatan sosial, perbedaan identitas menjadi tidak penting. Yang tumbuh adalah kesadaran sebagai sesama manusia dan sesama warga bangsa.

Pada akhirnya, merawat kebinekaan membutuhkan kesediaan menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan kelompok. Ketika terjadi perbedaan, penyelesaiannya harus ditempuh melalui dialog, musyawarah, dan mekanisme hukum, bukan kekerasan dan kebencian.

Kebinekaan bukan tanggung jawab pemerintah semata. Setiap warga dapat berkontribusi dengan menghormati tetangga yang berbeda keyakinan, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, menghargai pilihan politik orang lain, serta membangun komunikasi ketika terjadi perbedaan.

Bangsa yang besar bukan bangsa yang tidak memiliki konflik, melainkan bangsa yang mampu menyelesaikan konflik tanpa kehilangan persaudaraan. Tugas kita bukan menghapus perbedaan, tetapi mengelolanya menjadi kekuatan; bukan memperbesar perbedaan, tetapi menemukan titik temu.

Merawat kebinekaan berarti menjaga persatuan. Menjaga persatuan berarti menjaga masa depan Indonesia. (01).

Penulis: Drs. H. Adnan, M. Ag. Dosen Fak. Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang

Exit mobile version