
BELITUNG, Jatengnews.id – Kehadiran listrik selama 24 jam mulai mengubah aktivitas masyarakat di Pulau Rengit, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung.
Setelah bertahun-tahun bergantung pada pembangkit diesel yang hanya mampu menyuplai listrik sekitar 12 jam sehari, kini 44 kepala keluarga atau sekitar 200 warga dapat menikmati energi listrik sepanjang waktu.
Perubahan tersebut terjadi setelah PT PLN (Persero) mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Rengit berkapasitas 78 kilowatt peak (KWp). Tak hanya menghadirkan penerangan, pembangkit berbasis energi bersih itu juga membuka peluang baru bagi masyarakat untuk mengembangkan aktivitas ekonomi.
Salah satunya dirasakan Hendra, nelayan yang menggantungkan penghasilan dari hasil tangkapan kepiting rajungan. Sebelum listrik tersedia selama 24 jam, hasil tangkapannya harus segera dibawa ke Tanjung Pandan agar tidak cepat rusak.
Kini, kondisi tersebut berubah. Hendra berencana memanfaatkan listrik untuk membeli freezer sehingga hasil tangkapan dapat disimpan lebih lama.
“Dulu kalau listrik tidak 24 jam, rajungan yang saya kumpulkan harus langsung dibawa kembali ke Tanjung Pandan. Sekarang listrik sudah menyala 24 jam, sehingga saya bisa beli freezer supaya hasil tangkapan bisa lebih awet,” kata Hendra.
Manfaat listrik 24 jam juga dirasakan Itam Ali yang sehari-hari bekerja sebagai pembuat kapal kayu. Menurutnya, ketersediaan listrik tanpa batas waktu membuat penggunaan berbagai peralatan listrik menjadi lebih leluasa.
“Sekarang peralatan listrik bisa saya pakai juga di siang hari karena ada listrik. Pekerjaan saya bisa lebih produktif,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Sofyan. Ia mengaku senang karena masyarakat Pulau Rengit kini tidak lagi harus menyesuaikan aktivitas dengan terbatasnya waktu operasional pembangkit.
“Terima kasih Bapak Presiden Prabowo dan PLN yang sudah menghadirkan PLTS di pulau kami. Sekarang kami bisa menikmati listrik 24 jam. Alhamdulillah, masyarakat di sini semua senang,” ungkap Sofyan.
PLTS Rengit sendiri menjadi bagian dari Program PLTS 100 gigawatt peak (GWp) yang diluncurkan Presiden RI Prabowo Subianto pada Selasa (25/8). Pada tahap awal, program tersebut mencakup 14 proyek PLTS dengan total kapasitas mencapai 5.300 megawatt peak (MWp) yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menegaskan, PLN berkomitmen mendukung agenda pemerintah dalam mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT), termasuk untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, terluar (3T), serta kawasan kepulauan.
“PLN siap melaksanakan penugasan Bapak Presiden untuk mempercepat pengembangan PLTS 100 GWp. Sebagai bagian dari ekosistem kelistrikan nasional, PLN akan all out agar pengembangan energi surya dapat terintegrasi dengan sistem kelistrikan secara andal, aman, dan berkelanjutan,” ujar Darmawan.
Menurutnya, pemanfaatan energi hijau domestik menjadi salah satu langkah penting dalam mewujudkan swasembada energi sekaligus mengurangi ketergantungan pada sumber energi yang menghasilkan emisi tinggi.
Sementara itu, General Manager PLN Unit Induk Pembangkitan Dwipantara Rita Triani menjelaskan, keberhasilan menghadirkan listrik 24 jam di Pulau Rengit tidak hanya mengandalkan panel surya. PLN menerapkan sistem integrasi multi-energi baru terbarukan untuk meningkatkan keandalan pasokan sekaligus menekan biaya pembangkitan.
“Sebelumnya, sistem PLTD berkapasitas 2×100 kilowatt menghasilkan energi sekitar 72 kilowatt hour per hari. Setelah penerapan sistem multi-EBT, ketersediaan energi meningkat signifikan. Yang paling penting, kini masyarakat dapat menikmati listrik 24 jam dan mulai memanfaatkannya untuk berbagai kegiatan produktif,” jelas Rita.
Sistem tersebut menggabungkan panel surya, Battery Energy Storage System (BESS), turbin angin, dan fuel cell hidrogen yang terintegrasi dalam Green Energy Ecosystem Technopark (GEET).
Penerapan teknologi tersebut turut memberikan dampak terhadap efisiensi. PLN mencatat Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik di Pulau Rengit turun dari sebelumnya Rp16.700 menjadi Rp12.300 per kilowatt hour (kWh).
Di sisi lingkungan, sistem energi bersih tersebut juga diproyeksikan mampu menekan potensi emisi karbon hingga sekitar 99,5 ton karbon dioksida per tahun.
Bagi PLN, keberadaan PLTS Rengit menjadi bukti bahwa transisi energi tidak hanya berbicara mengenai pengurangan emisi, tetapi juga bagaimana energi bersih mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Listrik ramah lingkungan dari PLN di Pulau Rengit bukan sekadar soal hadirnya terang, tetapi bagaimana energi ini bisa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Aktivitas bisa berjalan lebih leluasa, dan roda ekonomi di pesisir pun semakin hidup,” pungkas Rita.
Penulis : Alif Nazzala Rizqi
Editor : Jaka Nuswantara