Asap Kebakaran TPA Putri Cempo Bikin Warga Mengungsi, WALHI Soroti Pengelolaan Open Dumping

Kepulan asap tebal yang mengarah ke permukiman membuat sejumlah warga harus mengungsi karena mengalami gangguan kesehatan.

SOLO, Jatengnews.id – Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Kota Solo, tak hanya menyisakan persoalan pemadaman api. Kepulan asap tebal yang mengarah ke permukiman membuat sejumlah warga harus mengungsi karena mengalami gangguan kesehatan.

Deputi Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Tengah, Nur Cholis mengatakan, dampak asap kebakaran mulai dirasakan warga, terutama mereka yang tinggal di sekitar TPA.

Menurutnya, kebakaran pertama kali diketahui warga pada 2 September 2026 sekitar waktu Magrib. Kobaran api terlihat dari sisi timur TPA, sementara permukiman warga berada di sisi barat.

Meski upaya pemadaman langsung dilakukan dengan mengerahkan sejumlah mobil pemadam kebakaran, api belum sepenuhnya berhasil dipadamkan. Kebakaran bahkan merembet dari salah satu blok ke blok lainnya dan asap tebal masih muncul hingga beberapa hari kemudian.

“Apinya belum benar-benar mati. Masih merembet-merembet dan kepulan asapnya masih terus sampai hari ini,” kata Nur Cholis saat dihubungi awak media pada Jumat (4/9/2026) kemarin.

Kondisi semakin mengkhawatirkan ketika asap bergerak ke arah permukiman. Nur Cholis menyebut sejumlah warga akhirnya dipindahkan sementara ke Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo.

Warga yang diprioritaskan untuk mengungsi antara lain lansia, bayi, dan anak-anak. Sekitar 75 warga disebut terdampak, sementara sebagian warga memilih tetap bertahan di rumah dengan menggunakan masker.

Di lokasi pengungsian, sejumlah warga bahkan membutuhkan bantuan oksigen. Nur Cholis menyebut sedikitnya empat orang sempat mendapatkan oksigen, sementara warga lainnya mengalami batuk-batuk akibat paparan asap.

“Terutama yang lansia, bayi dan anak-anak itu dibawa ke Kelurahan Mojosongo. Ada yang dioksigen, ada yang batuk-batuk,” ujarnya.

Pelayanan kesehatan juga diberikan di lokasi pengungsian. PMI dan tenaga medis disebut datang untuk membantu warga yang mengalami gangguan kesehatan.

Dampak kebakaran, menurut Nur Cholis, tidak hanya menyangkut kesehatan. Aktivitas ekonomi warga yang menggantungkan hidup dari keberadaan TPA juga ikut terganggu.

“Pemulung itu enggak bisa memilah sampah di TPA. Kalau enggak ada sampah yang bisa dipilah, mereka juga enggak dapat uang,” katanya.

Nur Cholis juga mempertanyakan penyebab kebakaran TPA Putri Cempo yang hingga kini dinilai belum dijelaskan secara terang kepada masyarakat.

Menurut dia, kebakaran pertama kali diketahui sekitar Magrib. Kondisi tersebut dinilai menimbulkan pertanyaan karena api tidak muncul ketika matahari sedang terik.

“Enggak ada statement yang jelas. Entah itu dari buang rokok atau dibakar dan sebagainya,” ujarnya.

WALHI juga mempertanyakan efektivitas patroli yang selama ini dilakukan di kawasan TPA. Nur Cholis menyebut berdasarkan penuturan warga, patroli telah dilakukan dengan frekuensi cukup tinggi.

Namun, kebakaran tetap terjadi dan berlangsung selama beberapa hari.

“Sudah dilakukan patroli juga harusnya itu bisa dicegah. Kalau sudah patroli, hasil patrolinya seperti apa, harusnya disampaikan,” katanya.

Menurutnya, pemerintah tidak semestinya menganggap kebakaran TPA sebagai kejadian yang biasa terjadi setiap musim kemarau.

WALHI meminta adanya evaluasi terbuka terkait sistem pencegahan dan penanganan kebakaran di TPA Putri Cempo.

Lebih jauh, Nur Cholis mengaitkan risiko kebakaran dengan sistem pengelolaan sampah yang masih menggunakan metode open dumping.

“Open dumping itu berpotensi karena organik dan anorganik dicampur. Metan itu juga akan mengeluarkan gas metan yang kemudian berpotensi memicu kebakaran,” jelasnya.

Menurut dia, pengelolaan TPA semestinya tidak lagi mengandalkan metode open dumping. Sampah perlu dipilah sejak awal agar material organik dan anorganik dapat diolah sesuai karakteristiknya.

Sampah organik, misalnya, dapat diolah menjadi kompos. Sementara material anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi dapat diproses kembali, termasuk menjadi bahan baku daur ulang.

“Paling pertama itu dipisah dulu antara organik sama anorganiknya,” ujarnya.

Penulis : M Kamal

Editor : Jaka N

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN