Beranda Daerah Ketua DPRD Jateng, Sumanto Dorong Anak Muda Tak Gengsi Jadi Afiliator

Ketua DPRD Jateng, Sumanto Dorong Anak Muda Tak Gengsi Jadi Afiliator

Sumanto menceritakan pengalaman ketika dirinya pernah menjadi sales jamu di Jakarta selama tiga tahun, tepatnya pada 1993 hingga 1996.

Ketua DPRD Jawa Tengah Sumanto saat menggelar Pelatihan Content Creator dan Afiliator di Kabupaten Karanganyar, belum lama ini. (Foto : Dok DPRD Jateng)

KARANGANYAR, Jatengnews.id — Menjadi sales bukan pekerjaan yang patut dipandang sebelah mata. Bagi Ketua DPRD Jawa Tengah Sumanto, pengalaman menjual produk justru dapat menjadi bekal penting untuk membangun kemampuan komunikasi, memahami karakter orang lain hingga mengasah jiwa kepemimpinan.

Pandangan tersebut disampaikan Sumanto saat memberikan motivasi dalam Pelatihan Content Creator dan Afiliator di Kabupaten Karanganyar, belum lama ini.

Di hadapan peserta, Sumanto menceritakan pengalaman ketika dirinya pernah menjadi sales jamu di Jakarta selama tiga tahun, tepatnya pada 1993 hingga 1996.

Pekerjaan tersebut dijalaninya selepas menyelesaikan pendidikan. Saat itu, menjual jamu bukan perkara mudah karena produk tersebut belum menjadi kebutuhan utama masyarakat.

Sumanto harus berhadapan langsung dengan calon pelanggan dan meyakinkan mereka agar bersedia membeli produk yang ditawarkan. Persaingan antar-sales pun cukup ketat.

“Dulu di Jakarta saya pernah jadi sales jamu. Mulai dari naik motor hingga naik truk perusahaan. Kalau mau ketemu calon pembeli harus antre di depan toko bareng sales lainnya. Kadang dapat giliran terakhir. Pernah saat ketemu pemilik toko malah disuruh pulang,” kenangnya.

Ketua DPRD Jawa Tengah Sumanto saat menggelar Pelatihan Content Creator dan Afiliator di Kabupaten Karanganyar, belum lama ini. (Foto : Dok DPRD Jateng)
Ketua DPRD Jawa Tengah Sumanto saat menggelar Pelatihan Content Creator dan Afiliator di Kabupaten Karanganyar, belum lama ini. (Foto : Dok DPRD Jateng)

Meski tidak selalu mendapatkan respons positif, pengalaman tersebut justru menjadi pelajaran berharga bagi Sumanto. Ia belajar berkomunikasi dengan beragam karakter, mendengarkan kebutuhan orang lain, menghadapi penolakan, sekaligus membangun kepercayaan.

Menurutnya, kemampuan menjual tidak hanya berkaitan dengan bagaimana seseorang membuat orang lain membeli sebuah produk. Seorang sales juga dituntut mampu memahami kebutuhan calon pelanggan.

“Belajar mendengar, memahami kebutuhan pelanggan, skill kepemimpinan. Sebab pemimpin yang baik adalah pendengar yang baik. Tidak ada yang terbuang. Semua pengalaman adalah investasi untuk masa depan,” ujar politisi PDI Perjuangan tersebut.

Perjalanan Sumanto kemudian berlanjut. Setelah tiga tahun menjadi sales jamu, ia menekuni profesi sebagai pengacara selama 28 tahun sebelum akhirnya masuk ke dunia politik. Kini, ia dipercaya sebagai Ketua DPRD Jawa Tengah.

Dari perjalanan tersebut, Sumanto menilai anak muda tidak perlu merasa gengsi ketika harus memulai karier dari pekerjaan sales. Justru, pengalaman bertemu banyak orang, menawarkan produk, menghadapi penolakan dan mencari solusi merupakan proses pembentukan mental yang penting.

Ia menyebut pengalaman di lapangan sering kali memberikan pelajaran yang tidak didapatkan hanya melalui pendidikan formal.

“Tidak ada pengalaman yang sia-sia. Dari pekerjaan apa pun kita bisa belajar, termasuk bagaimana menghadapi orang, mendengarkan dan memahami apa yang mereka butuhkan,” katanya.

Namun, menurut Sumanto, cara berjualan saat ini telah mengalami perubahan besar dibandingkan ketika dirinya menjadi sales pada era 1990-an.

Jika dahulu sales harus mendatangi toko, membawa produk dan menunggu antrean untuk bertemu pemilik usaha, kini teknologi memungkinkan aktivitas pemasaran dilakukan melalui internet.

Media sosial, menurut dia, telah membuka ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk memulai usaha tanpa harus memiliki toko fisik.

Salah satu peluang yang bisa dimanfaatkan adalah menjadi afiliator. Dengan membuat konten dan mempromosikan produk melalui platform digital, anak muda dapat memperoleh penghasilan dari transaksi yang berasal dari promosi tersebut.

“Sekarang menjual tidak harus bertemu langsung. Bisa melalui media sosial. Anak muda bisa membuat konten, memasarkan produk dan menjadi afiliator,” ujarnya.

Sumanto menilai prinsip dasar antara sales konvensional dan afiliator sebenarnya tidak jauh berbeda. Keduanya sama-sama membutuhkan kemampuan menawarkan produk, memahami calon konsumen, membangun kepercayaan dan memberikan informasi yang meyakinkan.

Bedanya, teknologi membuat jangkauan pemasaran menjadi jauh lebih luas.

Karena itu, ia mendorong anak muda untuk berani memanfaatkan perkembangan teknologi dan tidak ragu memulai dari hal sederhana. Menjadi afiliator, menurutnya, bisa menjadi salah satu pintu masuk untuk belajar dunia pemasaran sekaligus membangun kemandirian ekonomi.

Pengalaman tiga tahun menjadi sales jamu di Jakarta menjadi pengingat bagi Sumanto bahwa sebuah pekerjaan tidak hanya dinilai dari statusnya. Ada keterampilan dan pengalaman yang dapat menjadi modal untuk perjalanan berikutnya.

“Yang penting mau belajar, mau mendengar, memahami kebutuhan orang lain, dan terus mengembangkan kemampuan,” pesannya.



Penulis   : Alif Nazzala Rizqi

Editor      : Jaka Nuswantara

Exit mobile version