Beranda Pariwisata Dosen Ekonomi Islam dari Berbagai Perguruan Tinggi Pelajari Potensi Wisata Halal di...

Dosen Ekonomi Islam dari Berbagai Perguruan Tinggi Pelajari Potensi Wisata Halal di Desa Wisata Jatirejo

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut diikuti para akademisi dan dosen Ekonomi Islam dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia

Asosiasi Program Studi Ekonomi Islam Indonesia (APSEII)
Para dosen yang tergabung Asosiasi Program Studi Ekonomi Islam Indonesia (APSEII) dan UNNES berfoto bersama usai melakukan kunjungan di Desa Wisata Jatirejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Selasa (8/9/2026). (Foto: Shodiqin)

SEMARANG, Jatengnews.id — Asosiasi Program Studi Ekonomi Islam Indonesia (APSEII) bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Semarang (UNNES) menggelar Community Service Trip bertajuk “Understanding Halal Tourism through Local Heritage” di Desa Wisata Jatirejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Selasa (8/9/2026).

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut diikuti para akademisi dan dosen Ekonomi Islam dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Selain menjadi ajang mempererat silaturahmi akademik, kunjungan ini bertujuan untuk mempelajari secara langsung potensi pengembangan pariwisata halal berbasis produk lokal, kearifan lokal, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Selama kunjungan, para peserta diajak menjelajahi sejumlah potensi wisata yang dikembangkan masyarakat Desa Wisata Jatirejo. Di antaranya peternakan sapi, Kampung Jahe Merah (Kajera), Kampung Cabe Rawit (Kambera) serta sentra UMKM olahan kolang-kaling dan berbagai produk lokal lainnya.

Salah satu peserta, Aas Nur Asiah, dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, mengapresiasi potensi dan semangat pemberdayaan masyarakat yang ditunjukkan Desa Wisata Jatirejo.

Menurutnya, kunjungan tersebut memberikan pengalaman berharga karena peserta dapat melihat secara langsung berbagai produk unggulan yang dihasilkan masyarakat.

“Kegiatan kunjungan ke Desa Wisata Jatirejo hari ini luar biasa. Kami mendapatkan pengalaman berharga karena bisa melihat langsung potensi desa, mulai dari produk susu, kerupuk, hingga ragam olahan kolang-kaling,” ujar Aas.

Ia menilai Desa Wisata Jatirejo dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain di Indonesia dalam mengembangkan potensi ekonomi berbasis sumber daya lokal.

“Ini menjadi bukti bahwa selama ada niat dan kemauan, masyarakat mampu meningkatkan kapasitas ekonominya melalui optimalisasi potensi lokal. Tentu, hal ini juga memerlukan dukungan berkelanjutan dari pemerintah agar potensi desa semakin berkembang dan memberikan manfaat ekonomi yang nyata,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Panitia sekaligus Penanggung Jawab Kegiatan, Dr. Prabowo Yudo Jayanto, menilai Desa Wisata Jatirejo memiliki potensi yang menarik untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis edukasi dan potensi lokal.

Ia berharap pengelola terus meningkatkan penataan kawasan, fasilitas, serta pengalaman wisata bagi pengunjung.

Menurutnya, wisatawan tidak hanya perlu diajak menikmati destinasi, tetapi juga diberikan kesempatan untuk mengenal lebih dekat aktivitas dan proses produksi yang dilakukan masyarakat.

Dengan demikian, kunjungan wisata dapat memberikan pengalaman edukatif sekaligus memperkenalkan produk lokal kepada wisatawan.

Selain itu, potensi Desa Wisata Jatirejo dinilai perlu diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat, termasuk melalui jejaring akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

“Kami juga berkomitmen untuk mengenalkan Desa Wisata Jatirejo kepada rekan-rekan dosen di berbagai wilayah agar semakin banyak yang tertarik berkunjung,” ujarnya.

Menanggapi kunjungan dan berbagai masukan dari para akademisi, Ketua Desa Wisata Jatirejo Deni Wikuncoro menyambut baik kegiatan tersebut.

Menurutnya, apresiasi sekaligus masukan yang diberikan para peserta menjadi bahan evaluasi penting bagi pengelola untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan fasilitas wisata.

“Alhamdulillah, kami sangat berterima kasih atas kunjungan dan apresiasi dari para peserta. Dari empat kampung tematik yang dikunjungi, kami menyadari masih ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan, termasuk pengembangan Kampung Olahan Kolang-kaling,” ungkap Deni.

Ia mengatakan, pengelola terbuka terhadap berbagai masukan dari wisatawan maupun akademisi. Evaluasi tersebut akan menjadi bagian dari upaya memperbaiki pengelolaan desa wisata agar semakin memberikan pengalaman yang baik bagi pengunjung.

“Semua masukan ini menjadi bahan evaluasi kami agar ke depan pengalaman wisata yang disajikan semakin optimal,” imbuhnya.

Kunjungan akademisi dari berbagai perguruan tinggi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antara dunia pendidikan dan pengelola desa wisata. (01).

Penulis: Shodiqin
Editor: Jaka Nuswantara

Exit mobile version