Menyesap Gurih Manis Lontong Tetel Purbalingga, Kuliner Bersejarah Khas Wonosobo

Suasana Jalan Komisaris Noto Sumarsono Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah tidak begitu ramai seperti biasa, Sabtu 3 Mei 2025 pagi, pukul 07.00 WIB

Purbalingga, Jatengnews.id – Suasana Jalan Komisaris Noto Sumarsono Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah tidak begitu ramai seperti biasa, Sabtu 3 Mei 2025 pagi, pukul 07.00 WIB

Lalu-lalang kendaraan pada akhir pekan di jalan ini memang tak seramai hari kerja yang padat oleh buruh pabrik. Namun ketika melintas jalan ini ada satu warung makan yang tak pernah sepi pengunjung, yaitu warung Tunggak Semi yang menyajikan menu Lontong Tetel.

Warung yang terletak di seberang pintu masuk GOR Goentoer Darjono ini dikelola Agustin (56) tahun. Agustin yang berasal dari Kabupaten Wonosobo membawa Lontong Tetel, kuliner khas tanah kelahirannya, ke Purbalingga.

Baca juga: Kuliner Salatiga, Nikmatnya Sambal Tumpang Koyor Bu Yusro di Jalan Lingkar

Lontong Tetel berisi potongan lontong, tetelan daging sapi dan aneka sayuran yang disiram kuah santan. Tampilan semangkuk Lontong Tetel di warung Agustin makin cantik dengan warna-warni taburan kuning jagung, oren wortel, dan hijau kacang panjang yang direbus.

Kesan pertama setelah menyesap kuah Lontong Tetel Agustin adalah segar. Citarasa gurih manis mendominasi kuah santannya. Ditambah lagi aneka toping sayuran, membuat Lontong Tetel ini makin segar.

“Itu bukan hanya karena santanya, tapi bumbu rempahnya juga. Bumbunya pakai bumbu rempah biasa, cuman takarannya yang harus pas biar rasanya bisa pas juga,” kata dia saat ditemui Jatengnews.id.

Warung Lontong Tetel yang terletak di seberang pintu masuk GOR Goentoer Darjono. (Foto: JN)

Rasa kuah yang masih terbilang soft ini berubah begitu mengkombinasikan dengan tetelan daging sapi. Cita rasa kaldu daging sapi berbalut lemak yang kuat digabung kuah yang gurih manis melebur menjadi satu di mulut menghasilkan sensasi yang membuat ketagihan pada suapan berikutnya.

Bagi pengunjung yang datang dalam kondisi perut lapar, potongan lontong jadi solusinya. Lontong di Lontong Tetel Agustin lembut. Lontongnya tak begitu lembek namun juga tak keras dengan aroma khas daun pisang yang jadi pembungkusnya. Porsinya pun pas untuk memadamkan kelaparan.

“Di sini satu-satunya yang menyediakan Lontong Tetel,” kata ibu dua anak ini.

Agustin menyuguhkan menu Lontong Tetel pada Bulan Ramadan tahun ini. Bersama menu lain seperti Brongkos Sapi dan Ayam, Gudeg, Oseg Mercon dan menu lainnya, warung makannya langsung menyita perhatian publik.

Menu Lontong Tetelnya viral setelah diulas di berbagai media sosial. Harganya yang terjangkau juga membuat menu ini tak pernah sepi peminat. Untuk menikmati seporsi Lontong Tetel, cukup merogoh kocek sebesar Rp 15 ribu.

Sejarah Lontong Tetel

Lontong Tetel berasal dari Wonosobo, Jawa Tengah. Menurut Agustin, Lontong Tetel bermula dari perayaan Hari Raya Qurban atau Idul Adha.

Pada momen ini, daging sapi hasil qurban jumlahnya berlimpah. Warga yang bosan dengan olahan daging sapi yang itu-itu saja kemudian mengkreasian daging sapi qurban ini untuk membuat olahan lainnya.

“Maka dibuatlah Lontong Tetel, yang terbuat dari tetelan sapi,” ujar Agustin menjelaskan sejarah Lontong Tetel di tempat kelahirannya.

Menu Lontong Tetel Khas Wonosobo. (Foto: JN)

Agustin mengaku tak secara khusus mempelajari cara memasak Lontong Tetel. Ia memasak sebagaimana ibunya dulu memasak lontong tetel. Sehingga Lontong Tetel Agustin merupakan resep keluarga secara turun-temurun.

“Saya masak ya masak saja, tidak pakai uji coba-uji coba segala macam,” katanya.

Ira Hamidah (35) pelanggan Lontong Tetel Agustin mengaku suka karena selain rasanya yang pas di lidah juga karena komposisinya yang bernutrisi. Lontong yang terbuat dari beras merupakan sumber karbohidrat, sementara tetelan daging sapi merupakan sumber protein dan sayuran menjadi sumber serat yang baik untuk perncernaan.

Baca juga: Sajikan 500 Ragam Kuliner Khas Nusantara, SICF 2025 Didorong Jadi Destinasi Festival Kuliner Dunia

“Ya karena selain cocok di lidah juga sehat bergizi,” katanya.

Dalam khasanah kuliner Nusantara, hindangan lontong dengan siraman kuah santan nan gurih berpadu racikan bumbu rempah nusantara telah mengakar kuat dalam ingatan rasa lidah masyarakat Indonesia.

Hampir tiap Idul Fitri menu lontong opor maupun ontong sayur disuguhkan. Lontong sendiri menurut beberapa versi dipopulerkan Sunan Kalijaga, satu di antara Wali Sanga.

Lontong merupakan modifikasi dari ketupat yang dibungkus anyaman janur atau daun kelapa yang masih muda. Namun karena menganyam janur tidak mudah bgi sebagian orang, maka diganti dengan daun pisang.

Sementara siraman kuah santan dan paduan rempah Nusantara merupakan kearifan lokal masyarakat Nusantara yang sudah mengenal penggunaan rempah untuk bumbu masakan. Sehingga Lontong Tetel yang merupakan varian dari menu berbahan lontong merupakan kekayaan budaya kuliner Nusantara yang perlu dilestarikan. (Adv-01)

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN