SEMARANG, Jatengnews.id – Hidup Hartono (53) kini jauh berbeda dari enam tahun lalu. Mantan gelandangan yang dulu mencari rongsokan di sekitar Jembatan Berok, Kota Lama Semarang, kini bekerja sebagai sopir pribadi.
Semua berawal dari Panti Pelayanan Sosial (PPS) PGOT Mardi Utomo milik Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah.
Baca juga: Disnakertrans Jateng Siap Jalankan Program Magang Nasional
“Dulu saya hidup di jalan, mental jatuh dan sudah kehilangan semangat. Di sini saya diajari keterampilan dan didekati secara manusiawi, jadi saya bangkit lagi,” ujarnya, Rabu (22/10/2025).
Setelah mengikuti pelatihan pengelasan dan pertukangan, Hartono memberanikan diri melamar kerja.
Awalnya ia diterima sebagai sopir taksi, lalu direkrut pengusaha menjadi sopir pribadi. Kini ia bisa menabung dan menata masa depan.
“Dulu yang penting makan. Sekarang saya belajar menabung dan berpikir untuk masa depan,” katanya.
Kisah serupa datang dari Supani (48), warga binaan PPS PGOT Mardi Utomo. Ia berharap bisa membuka usaha kecil sepulang dari panti. “Saya ingin anak saya sekolah tinggi, agar sukses dan tak seperti saya,” ujarnya haru.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi memberikan perhatian khusus bagi penghuni panti sosial. Tahun ini, Pemprov Jateng mengalokasikan hampir Rp23 miliar untuk pembenahan 56 panti sosial di bawah Dinas Sosial Jateng.
Baca juga: Gubernur Ahmad Luthfi Jadi Dewan Pelindung PBPI Jateng, Dorong Padel Jadi Alat Pemersatu Sosial
Kepala Dinsos Jateng, Imam Maskur, mengatakan dana tersebut digunakan untuk memperbaiki fasilitas panti dan meningkatkan layanan bagi warga binaan.
“Kami tak hanya memberi tempat tinggal, tapi juga makan, kesehatan, dan modal usaha agar mereka bisa mandiri,” paparnya.
Kepala PPS PGOT Mardi Utomo, Elliya Chariroh, menyebut bantuan itu sangat membantu. “Kini ada 30 asrama layak huni yang bisa digunakan. Layanan kepada warga binaan juga meningkat,” pungkasnya.(02)



