PERUBAHAN iklim telah menjadi isu yang semakin menonjol dalam pemberitaan media online di Indonesia. Berbagai portal berita nasional seperti Kumparan, Pikiran Rakyat, dan media daring lainnya secara konsisten memuat laporan mengenai banjir, cuaca ekstrem, kekeringan, serta kebakaran hutan yang kerap dikaitkan dengan fenomena perubahan iklim.
Intensitas pemberitaan tersebut menunjukkan bahwa perubahan iklim telah diposisikan sebagai persoalan publik yang penting dan mendesak. Melalui media online, masyarakat tidak hanya memperoleh informasi faktual, tetapi juga membangun pemahaman tertentu mengenai penyebab dan dampak perubahan iklim.
Dengan demikian, media online berperan besar dalam membentuk realitas sosial terkait isu lingkungan. Realitas ini tidak hadir secara netral, melainkan melalui proses seleksi dan penekanan informasi tertentu.
Baca juga: Hadapi Perubahan Iklim Indonesia Dorong Pengamatan Sistematis
Pendapat penulis, sebagai salah satu sumber informasi utama masyarakat, media online memiliki pengaruh signifikan dalam membentuk opini publik. Karakteristik media daring yang cepat, aktual, dan mudah diakses menyebabkan berita tentang perubahan iklim dapat menyebar luas dalam waktu singkat melalui berbagai platform media sosial.
Judul yang persuasif, narasi emosional, serta visual pendukung sering dimanfaatkan untuk menarik perhatian pembaca. Dalam konteks ini, media tidak hanya menyampaikan peristiwa, tetapi juga mengarahkan cara publik memaknai isu perubahan iklim. Oleh karena itu, sudut pandang dan angle pemberitaan menjadi faktor penting dalam membentuk persepsi masyarakat, sehingga pemberitaan perubahan iklim perlu dipahami sebagai hasil konstruksi media.
Isu perubahan iklim merupakan persoalan yang kompleks dan multidimensional karena melibatkan aspek ilmiah, sosial, ekonomi, dan politik. Namun, kompleksitas tersebut kerap disederhanakan dalam pemberitaan media online agar lebih mudah dipahami oleh khalayak luas. Media cenderung menyoroti dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat, seperti banjir atau gagal panen, dibandingkan dengan penjelasan struktural yang lebih mendalam.
Penyederhanaan ini membuat isu perubahan iklim terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari pembaca. Di sisi lain, hal tersebut berpotensi mengaburkan pemahaman publik mengenai akar permasalahan yang sebenarnya. Pada titik inilah peran framing media menjadi sangat penting.
Fenomena tersebut dapat dianalisis menggunakan teori framing yang dikemukakan oleh Robert N. Entman. Menurut Entman, framing merupakan proses memilih aspek tertentu dari realitas dan membuatnya lebih menonjol dalam teks komunikasi. Proses framing dilakukan melalui empat elemen utama, yaitu pendefinisian masalah, penentuan penyebab, penilaian moral, dan rekomendasi solusi. Keempat elemen ini dapat ditemukan dalam pemberitaan media online, baik secara eksplisit maupun implisit. Dengan menggunakan teori framing, dapat dipahami bahwa media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk makna. Makna inilah yang kemudian memengaruhi cara publik memahami isu perubahan iklim.
Dalam aspek pendefinisian masalah, media online sering menggambarkan perubahan iklim sebagai penyebab utama meningkatnya bencana alam. Berita tentang banjir besar atau cuaca ekstrem umumnya diawali dengan narasi penderitaan masyarakat yang terdampak.
Pendekatan ini membuat perubahan iklim dipersepsikan sebagai masalah yang nyata dan mendesak. Media menggunakan kisah korban, kerugian ekonomi, dan gangguan aktivitas sosial untuk menegaskan urgensi isu tersebut. Pendefinisian masalah seperti ini efektif dalam menarik perhatian pembaca, namun fokus yang kuat pada dampak sering kali menggeser perhatian dari penyebab struktural perubahan iklim.
Dalam menentukan penyebab, framing media online menunjukkan variasi yang cukup jelas. Sebagian media menekankan faktor alam, seperti curah hujan ekstrem atau fenomena iklim global, sebagai penyebab utama bencana. Media lain lebih menyoroti peran manusia, seperti deforestasi, emisi karbon, dan pembangunan yang tidak berkelanjutan.
Perbedaan penekanan ini memengaruhi cara publik memahami perubahan iklim. Ketika faktor alam lebih ditonjolkan, perubahan iklim cenderung dipersepsikan sebagai fenomena yang sulit dikendalikan. Sebaliknya, ketika faktor manusia disorot, muncul kesadaran akan adanya tanggung jawab kolektif dalam upaya penanganan perubahan iklim.
Penilaian moral dan rekomendasi solusi juga menjadi bagian penting dalam framing media online. Pemerintah sering digambarkan sebagai aktor utama yang bertanggung jawab dalam menangani dampak perubahan iklim melalui kebijakan publik. Dalam beberapa pemberitaan, pemerintah diposisikan sebagai pihak yang kurang sigap, sementara dalam berita lain ditampilkan sebagai pihak yang tengah berupaya melakukan mitigasi dan adaptasi.
Baca juga: BMKG Peringatkan Perubahan Iklim Ancam Kehidupan Global
Media juga menyoroti peran masyarakat, baik sebagai korban maupun sebagai pihak yang turut berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan. Selain itu, media kerap menyisipkan solusi berupa perubahan gaya hidup, peningkatan kesadaran lingkungan, serta dukungan terhadap kebijakan ramah lingkungan. Rekomendasi ini menunjukkan bagaimana media mengarahkan cara berpikir publik terhadap solusi perubahan iklim.
Kesimpulannya, pemberitaan perubahan iklim di media online Indonesia merupakan hasil dari proses framing yang membentuk cara publik memahami realitas lingkungan. Melalui teori framing Robert N. Entman, dapat dipahami bahwa media tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga menafsirkan serta menekankan aspek tertentu dari suatu peristiwa. Framing media memengaruhi bagaimana publik mendefinisikan masalah, memahami penyebab, menilai aktor yang terlibat, dan memandang solusi perubahan iklim. (01).



