26 C
Semarang
, 30 Januari 2026
spot_img

Operasi Modifikasi Cuaca Digelar, 1 Ton Garam Disemai di Perairan Utara Jateng

Penyemaian dilakukan pada target area yang berada di radial 298 hingga 309 derajat dengan jarak 52 sampai 82 nautical mile (nm) dari Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang.

SEMARANG, Jatengnews.id – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kembali dilaksanakan di wilayah perairan utara Jawa Tengah, Selasa (27/1/2026).

Pada sortie ketiga, pesawat PK-SCJ melakukan penyemaian awan dengan menggunakan bahan semai Natrium Klorida (NaCl) sebanyak 1.000 kilogram.

Penyemaian dilakukan pada target area yang berada di radial 298 hingga 309 derajat dengan jarak 52 sampai 82 nautical mile (nm) dari Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang.

“Area sasaran berada di perairan utara Jawa Tengah yang secara meteorologis masih berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan,” ungkap Flight Scientist PT Makson Sukses Pratama, Fadhlan Rizakul Hafidz, Selasa (27/1/2026).

Ia menjelaskan, berdasarkan hasil pengamatan selama penerbangan, penyemaian dilakukan pada awan Cumulus Congestus dengan ketinggian puncak awan mencapai 14.000 hingga 15.000 kaki, serta dasar awan di kisaran 4.000 hingga 5.000 kaki.

Selain itu, tim juga mengidentifikasi keberadaan awan Stratocumulus dengan puncak awan sekitar 10.000 kaki dan dasar awan di ketinggian 6.000 kaki.

Menurut Fadhlan, kondisi angin saat penyemaian di ketinggian 10.000 hingga 11.000 kaki bergerak dari arah Barat Daya hingga Barat dengan kecepatan 5 hingga 17 knot. Sementara pada lapisan bawah hingga menengah, arah angin dominan dari Barat Laut dengan kecepatan 17 hingga 25 knot.

Tim OMC melaporkan, awan di wilayah perairan utara Jawa Tengah masih terpantau cukup masif. Pada ketinggian 10.000 kaki, terlihat awan berlapis (layering), meskipun pesawat masih dapat menembus hingga ke bagian utara awan target.

“Di lapisan atas juga terpantau awan luruhan atau anvil yang berasal dari awan Cumulonimbus,” jelasnya.

Fadhlan menegaskan, pelaksanaan OMC merupakan bagian dari upaya pengelolaan distribusi curah hujan untuk mengurangi potensi hujan ekstrem di wilayah daratan Jawa Tengah dan mengarahkan pertumbuhan awan hujan ke wilayah perairan.

“Langkah ini bertujuan mendukung mitigasi bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan genangan, terutama pada puncak musim hujan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Jawa Tengah, Bergas C Penanggungan, menyampaikan bahwa modifikasi cuaca akan terus dilakukan hingga 29 Januari 2026 sesuai arahan Gubernur Jawa Tengah.

“Upaya penanganan darurat di wilayah terdampak terus kami lakukan, salah satunya melalui modifikasi cuaca sampai 29 Januari 2026,” kata Bergas.

Ia menjelaskan, dalam sehari operasi modifikasi cuaca dapat dilakukan 5 hingga 9 sortie, tergantung pada kondisi awan dan potensi hujan. Pesawat OMC dapat membawa bahan semai berupa kapur maupun garam.

“Kapur digunakan untuk menahan hujan agar tidak turun di lokasi terdampak bencana, sedangkan garam untuk menurunkan hujan lebih awal sebelum awan mencapai wilayah daratan,” terangnya.

Bergas juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, mengingat prediksi BMKG menyebutkan puncak curah hujan masih berpotensi terjadi pada Januari hingga Februari 2026.(02)

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN