Reaktivasi Jalur Kedungjati–Tuntang Dinilai Picu Ekonomi dan Pariwisata Jawa Tengah

Djoko menekankan bahwa reaktivasi juga menjadi langkah penting dalam menjaga aset negara dari kerusakan dan penyerobotan lahan.

SEMARANG, Jatengnews.id – Rencana PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk mereaktivasi jalur kereta api Kedungjati–Tuntang sepanjang 30 kilometer dinilai sebagai langkah strategis yang dapat membuka potensi ekonomi baru di Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga.

Hal tersebut disampaikan oleh Akademisi sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno.

Memurutnya, jalur historis ini bukan sekadar lintasan transportasi, tetapi juga bagian penting dari sejarah perkeretaapian Indonesia. Dibangun pada era Hindia Belanda oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), jalur tersebut dahulu menghubungkan Semarang dengan Ambarawa sebagai pusat logistik dan militer.

Ia menilai, reaktivasi jalur ini memiliki manfaat besar, tidak hanya dari sisi transportasi, tetapi juga ekonomi dan pelestarian sejarah.

“Reaktivasi jalur Kedungjati–Tuntang bukan sekadar menghidupkan kembali rel tua, tetapi juga menjadi pemicu efek domino bagi pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga,” ujar Djoko kepada Jatengnews.id Kamis (23/4/2026).

Jalur Bersejarah dengan Potensi Wisata
Jalur Kedungjati-Tuntang merupakan bagian dari percabangan utama yang dahulu menghubungkan Semarang dengan wilayah Vorstenlanden (Surakarta dan Yogyakarta).

Hingga kini, jejak sejarahnya masih terasa melalui operasional kereta wisata dari Tuntang menuju Bedono dan keberadaan Museum Kereta Api Ambarawa yang menjadi ikon wisata.

Selain nilai historis, jalur ini menawarkan panorama alam khas Jawa Tengah, melintasi perbukitan, hutan jati, serta jembatan-jembatan tinggi yang membentang di atas sungai dan lembah.

Namun, layanan reguler di jalur ini berhenti sejak 1976 akibat kalah bersaing dengan transportasi darat seperti bus dan truk, serta tingginya biaya perawatan infrastruktur.

*Proyek Reaktivasi Sempat Mandek*

Upaya reaktivasi sebenarnya telah dimulai antara 2013 hingga 2015 oleh Kementerian Perhubungan. Namun, proyek tersebut terhenti setelah pembangunan rel baru mencapai sekitar 1,2 kilometer dari Stasiun Kedungjati akibat kendala pendanaan dan teknis.

Kini, sebagian infrastruktur yang sempat dibangun terbengkalai dan tertutup semak belukar.

Padahal, jika jalur ini kembali aktif, Stasiun Tuntang berpotensi berkembang dari sekadar destinasi wisata menjadi simpul transportasi penting yang menghubungkan perjalanan jarak jauh menuju Jakarta dan Surabaya.

Dorong Konektivitas dan Kurangi Kemacetan
Djoko menegaskan, reaktivasi jalur ini juga akan memperkuat jaringan transportasi di Jawa Tengah, khususnya dalam membentuk jalur melingkar (loop line) yang menghubungkan Semarang, Yogyakarta, dan Solo.

“Wisatawan dari Jakarta atau Surabaya bisa langsung menuju Ambarawa tanpa harus terjebak kemacetan di jalur darat seperti Ungaran-Bawen. Ini juga menjadi solusi untuk mengurangi beban lalu lintas di jalur nasional,” jelasnya.

Selain itu, kehadiran kereta komuter dinilai dapat menjadi alternatif transportasi yang lebih aman, terutama di ruas jalan rawan kecelakaan yang kerap dijuluki “jalur tengkorak” di wilayah Bawen.

Bangkitkan Ekonomi Lokal
Dari sisi ekonomi, reaktivasi jalur ini diperkirakan akan menghidupkan kembali stasiun-stasiun lama seperti Bringin dan Gogodalem, sekaligus menciptakan pusat-pusat ekonomi baru.

“Dengan beroperasinya kembali jalur ini, akan muncul aktivitas ekonomi baru, mulai dari penginapan, UMKM, hingga jasa transportasi lokal. Ini sangat penting bagi daerah-daerah yang selama ini sulit dijangkau,” kata Djoko.

Selain angkutan penumpang, jalur ini juga memiliki potensi besar untuk logistik, khususnya distribusi hasil pertanian dan peternakan dari wilayah pedalaman seperti Tuntang, Bringin, hingga Kedungjati.

Lebih jauh, Djoko menekankan bahwa reaktivasi juga menjadi langkah penting dalam menjaga aset negara dari kerusakan dan penyerobotan lahan.

“Operasional jalur akan memastikan perawatan rutin sehingga bangunan stasiun dan jembatan bersejarah tetap terjaga. Ini bagian dari upaya melestarikan warisan perkeretaapian Indonesia,” ujarnya.

Dengan berbagai potensi tersebut, reaktivasi jalur Kedungjati-Tuntang diharapkan tidak hanya menghidupkan kembali sejarah, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi dan konektivitas wilayah di Jawa Tengah. (03)

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN