DEMAK, Jatengnews.id — Setiap tahun menjelang Idul Adha, Kota Demak berubah menjadi panggung besar tempat sejarah, budaya, dan spiritualitas bertemu. Ribuan warga dan peziarah berdatangan untuk menyaksikan rangkaian Grebeg Besar, tradisi yang telah diwariskan sejak masa Kesultanan Demak.
Di balik kemeriahan kirab budaya dan pesta rakyat, tersimpan nilai-nilai penghormatan kepada para wali, rasa syukur kepada Sang Pencipta, serta ikatan kuat masyarakat Demak dengan warisan leluhurnya yang terus terjaga hingga hari ini.
Denting gamelan Jawa, lantunan shalawat, derap langkah prajurit adat, hingga semerbak bunga dan dupa memenuhi udara Kota Demak sepanjang Mei 2026.
Ribuan masyarakat memadati berbagai sudut kota untuk menyaksikan rangkaian Grebeg Besar Demak 1447 Hijriah atau 2026, tradisi warisan Kesultanan Demak yang hingga kini tetap lestari dan dijaga dengan penuh penghormatan.
Bagi masyarakat Demak, Grebeg Besar bukan sekadar festival tahunan atau agenda wisata budaya. Tradisi ini merupakan simbol spiritualitas, penghormatan kepada leluhur, sekaligus pengingat kejayaan Kesultanan Demak sebagai pusat penyebaran Islam di tanah Jawa.
Selama lebih dari satu bulan, mulai awal Mei hingga pertengahan Juni 2026, berbagai prosesi adat dan keagamaan digelar secara berurutan. Setiap tahapan mengandung filosofi mendalam yang diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun.
Perpaduan budaya Jawa dan syiar Islam yang melahirkan tradisi ini menjadikan Grebeg Besar sebagai identitas kuat Kabupaten Demak yang dikenal sebagai Kota Wali.
Pisowanan, Awal Penghormatan kepada Leluhur
Rangkaian Grebeg Besar diawali dengan prosesi Pisowanan Pemerintah Kabupaten Demak ke Kasepuhan Kadilangu pada 4 Mei 2026. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan pemerintah kepada para sesepuh dan ahli waris Sunan Kalijaga, sekaligus memohon izin serta doa restu sebelum seluruh rangkaian Grebeg Besar dilaksanakan.

Bupati Demak Eisti’anah bersama jajaran Forkopimda hadir di Pendopo Notobratan Kadilangu dengan mengenakan busana adat Jawa. Prosesi berlangsung khidmat dan sarat makna budaya.
Menurut Eisti’anah, pisowanan merupakan warisan leluhur yang harus terus dijaga karena mencerminkan harmonisasi antara pemerintah dan ulama.
“Ini merupakan tradisi tahunan untuk meminta doa restu kepada para sesepuh di Kadilangu sebagai persiapan menuju kegiatan Grebeg Besar saat Iduladha,” ujarnya.
Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Demak terus menjaga pakem tradisi yang diwariskan para leluhur, sembari menghadirkan berbagai inovasi agar Grebeg Besar semakin menarik bagi masyarakat dan wisatawan.
Sementara itu, Sesepuh Kadilangu, R.H. Muhammad Cahyo Iman Santoso, menegaskan bahwa hubungan harmonis antara ulama dan umara merupakan warisan penting dari Sunan Kalijaga dan Sultan Fatah yang harus diteruskan lintas generasi.
Ziarah Raja-Raja Demak dan Sunan Kalijaga
Memasuki pertengahan Mei, nuansa religius semakin terasa melalui kegiatan ziarah ke Makam Raja-Raja Demak di kompleks Masjid Agung Demak dan Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu.

Kegiatan yang dipimpin langsung oleh Bupati Demak tersebut diikuti Forkopimda, tokoh agama, serta jajaran perangkat daerah. Lantunan tahlil dan doa bersama menggema di area makam para pendiri Kesultanan Demak.
Tradisi ziarah menjadi bentuk penghormatan kepada tokoh-tokoh besar penyebar Islam di tanah Jawa, seperti Sultan Fatah, Sultan Trenggono, hingga Sunan Kalijaga.
“Ziarah ini menjadi momentum untuk mengenang jasa para leluhur sekaligus memanjatkan doa agar seluruh rangkaian Grebeg Besar berjalan lancar dan penuh keberkahan,” kata Eisti’anah.
Bagi masyarakat Demak, ziarah bukan sekadar ritual seremonial, melainkan pengingat akan sejarah besar Kesultanan Demak yang pernah menjadi pusat peradaban Islam Nusantara.
Guyangan, Ritual Penyucian Sarat Filosofi
Salah satu tradisi unik yang masih dipertahankan dalam Grebeg Besar adalah Guyangan. Prosesi ini digelar di halaman belakang Dinas Pariwisata Kabupaten Demak sebagai simbol penyucian perlengkapan adat yang akan digunakan selama rangkaian Grebeg Besar.

Kereta kencana pengantar Bupati dan Wakil Bupati, kereta Ki Lurah Tamtomo, tombak, keris, pedang, hingga gong tabuh dibersihkan menggunakan air khusus yang berasal dari berbagai mata air di Kabupaten Demak.
Air tersebut dicampur bunga, minyak kasturi, cendana, serta daun bidara yang memiliki nilai simbolis dalam tradisi Islam Jawa.
Budayawan Demak sekaligus parogo Guyangan, Ahmad Widodo, menjelaskan penggunaan daun bidara merujuk pada syariat Islam dan telah diwariskan selama ratusan tahun.
“Guyangan bukan sekadar membersihkan benda pusaka, tetapi juga menjadi simbol penyucian lahir dan batin sebelum memasuki puncak Grebeg Besar,” ujarnya.
Sekretaris Daerah Demak Akhmad Sugiharto menambahkan, tradisi Guyangan menjadi pengingat penting agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budaya daerahnya.
Pasar Rakyat dan Wajah Modern Grebeg Besar
Selain prosesi sakral, Grebeg Besar Demak 2026 juga menghadirkan wajah modern melalui Pasar Rakyat di Lapangan Tembiring. Pembukaan acara berlangsung meriah dengan pesta kembang api, hiburan musik, bazar UMKM, festival kuliner, hingga wahana modern seperti Dinosaurus Show.

Ribuan masyarakat memadati area pasar rakyat sejak malam pembukaan. Pemerintah Kabupaten Demak menghadirkan konsep hiburan terbuka dan gratis agar seluruh lapisan masyarakat dapat menikmati kemeriahan Grebeg Besar.
Bupati Eisti’anah menegaskan bahwa Grebeg Besar harus mampu menjadi hiburan rakyat tanpa menghilangkan nilai budaya dan religius yang menjadi ruh utama tradisi tersebut.
“Pesta rakyat ini harus memberi hiburan tetapi tidak memberatkan masyarakat. Karena itu tiket masuk kami gratiskan,” katanya.
Konsep modern yang dipadukan dengan tradisi budaya menjadi daya tarik tersendiri. Kehadiran taman lampion, konser musik, hingga pertunjukan dinosaurus interaktif menjadi magnet baru bagi anak-anak dan keluarga.
Meski demikian, nilai budaya dan spiritual tetap menjadi fondasi utama yang dijaga dalam setiap rangkaian kegiatan.
Abon-abon, Pertemuan Budaya Demak dan Surakarta
Salah satu prosesi paling sakral dalam Grebeg Besar adalah tradisi Abon-abon yang digelar di Pendopo Notobratan Kadilangu.
Tradisi ini merupakan prosesi penghantaran minyak jamas dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat untuk penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga, yakni Kutang Ontokusumo dan Keris Kyai Carubuk.

Prosesi berlangsung khidmat sekaligus memukau. Prajurit Bintoro, Prajurit Patiunus, prajurit Kasunanan Surakarta, dan Sentono Kadilangu bersinergi mengawal iring-iringan adat.
Ribuan masyarakat memadati jalur prosesi untuk menyaksikan barisan prajurit dengan busana adat khas masing-masing. Suasana terasa megah sekaligus sakral.
Kepala Dinas Pariwisata Demak, Endah Cahya Rini, menyebut tradisi Abon-abon menjadi simbol persatuan budaya sekaligus bukti eratnya hubungan historis antara Demak dan Keraton Surakarta yang telah terjalin selama ratusan tahun.
Ancakan dan Perebutan Berkah
Antusiasme masyarakat kembali terlihat saat tradisi Ancakan digelar di Pendopo Notobratan Kadilangu. Ribuan warga rela berdesakan demi mendapatkan sego ancakan yang dipercaya membawa berkah.

Sego ancakan yang dibungkus daun jati dan disusun di atas ancak bambu menjadi simbol rasa syukur atas limpahan rezeki dan keselamatan.
Prosesi diawali dengan doa bersama yang dipimpin sesepuh Kadilangu, kemudian dilanjutkan pemukulan gong sebagai tanda dimulainya perebutan ancakan.
Tradisi ini menggambarkan kuatnya nilai gotong royong, kebersamaan, dan spiritualitas yang masih hidup di tengah masyarakat Demak.
Tumpeng Songo dan Gunungan Hasil Bumi
Puncak kemeriahan budaya berlangsung saat Kirab Tumpeng Songo dan Gunungan Hasil Bumi digelar dari Pendopo Satya Bhakti Praja menuju Masjid Agung Demak.
Ribuan warga memadati sepanjang jalur kirab. Banyak di antaranya datang bersama keluarga sejak sore hari untuk menyaksikan prosesi budaya yang hanya digelar sekali dalam setahun.

Tumpeng Songo melambangkan penghormatan kepada Wali Songo, sedangkan gunungan hasil bumi menjadi simbol rasa syukur atas keberkahan dan hasil panen masyarakat.
Menurut Eisti’anah, bentuk tumpeng yang menjulang tinggi menggambarkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
“Tradisi ini harus terus dijaga sebagai pengingat warisan leluhur sekaligus media mempererat silaturahmi masyarakat,” ujarnya.
Prosesi perebutan gunungan hasil bumi menjadi momen yang paling ditunggu masyarakat. Palawija yang tersusun dalam gunungan dipercaya membawa keberkahan setelah didoakan bersama.
Prajurit Patang Puluhan Antar Minyak Jamas
Rangkaian Grebeg Besar mencapai puncaknya pada 27 Mei 2026 melalui prosesi iring-iringan Prajurit Patang Puluhan menuju Kadilangu.
Dipimpin Ki Lurah Tamtomo, para prajurit berjalan membawa minyak jamas yang akan digunakan untuk penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga.
Suasana khidmat terasa sepanjang perjalanan dari Pendopo Satya Bhakti Praja menuju kompleks Makam Sunan Kalijaga. Masyarakat berdiri di sepanjang jalan untuk menyaksikan prosesi sakral tersebut, sementara sebagian lainnya mengabadikan momen iring-iringan prajurit dengan busana adat Jawa yang sarat nilai sejarah.
Prosesi ini menjadi simbol penghormatan terhadap perjuangan para wali dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa, sekaligus pengingat bahwa budaya dan spiritualitas tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat Demak.
Grebeg Besar, Identitas Kota Wali
Grebeg Besar Demak 2026 kembali membuktikan bahwa tradisi warisan leluhur tetap memiliki tempat yang kuat di tengah perkembangan zaman.

Modernisasi dan hiburan kekinian tidak mampu mengikis kecintaan masyarakat terhadap budaya dan tradisi daerahnya sendiri. Setiap prosesi Grebeg Besar tidak hanya menghadirkan tontonan budaya, tetapi juga sarat dengan nilai spiritual, sejarah, dan filosofi kehidupan.
Melalui Grebeg Besar, masyarakat diajak untuk terus mengingat akar sejarah Kesultanan Demak, menghormati jasa para wali, mempererat persatuan, serta menjaga harmoni antara budaya, agama, dan kehidupan sosial.
Di tengah derasnya arus globalisasi, Grebeg Besar menjadi bukti bahwa tradisi tidak sekadar bertahan, tetapi tetap hidup, dicintai, dan menjadi kebanggaan masyarakat Kota Wali. (Adv-01).
Penulis: Samsul Ma’arif
Editor: Shodiqin



