Kekeringan Melanda 25 Kabupaten/Kota di Jateng, Hampir 200 Ribu Jiwa Terdampak

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mencatat sedikitnya 157 desa mengalami krisis air bersih dengan total 67.303 kepala keluarga atau sekitar 198 ribu jiwa terdampak.

SEMARANG, Jatengnews.id – Sebanyak 25 kabupaten/kota di Jawa Tengah mulai terdampak bencana kekeringan pada musim kemarau tahun ini.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mencatat sedikitnya 157 desa mengalami krisis air bersih dengan total 67.303 kepala keluarga atau sekitar 198 ribu jiwa terdampak.

Kepala BPBD Jateng, Bergas Catursari mengatakan, tren kekeringan mulai meningkat sejak Juni setelah sebelumnya hanya muncul di beberapa daerah pada Mei.

“Kalau yang terdampak saat ini ada 25 kabupaten/kota dengan 157 desa. Pemanfaatan air bersih sampai hari ini sudah mencapai 67.303 KK atau sekitar 198 ribu jiwa,” ujarnya kepada Jatengnews.id Selasa (28/7/2026).

Untuk memenuhi kebutuhan warga, BPBD Jateng telah menyalurkan sekitar 5,8 juta liter air bersih ke berbagai daerah terdampak.

Distribusi dilakukan secara bertahap ke seluruh wilayah Jawa Tengah sesuai kebutuhan masing-masing daerah.

Bergas menjelaskan, penyaluran air bersih diperkirakan akan terus meningkat seiring bertambahnya wilayah yang mengalami kekeringan.

Pada Juni, distribusi air tercatat sekitar 1 juta liter, sedangkan pada Juli meningkat menjadi sekitar 6,8 juta liter.

Ia memperkirakan kebutuhan air bersih pada Agustus dapat meningkat hingga sekitar 12 juta liter apabila kondisi kemarau terus berlangsung.

Meski demikian, BPBD memastikan stok air masih mencukupi. Dari total 44,9 juta liter yang telah disiapkan, sebagian besar masih tersedia dan dapat ditambah melalui dukungan pemerintah daerah, dunia usaha, CSR, maupun lembaga sosial.

Menurut Bergas, tantangan utama saat ini bukan ketersediaan air, melainkan keterbatasan armada distribusi. Bertambahnya jumlah wilayah terdampak membuat frekuensi pengiriman menjadi lebih lama dibandingkan sebelumnya.

“Kalau biasanya satu hari bisa dikirim lagi, sekarang karena wilayahnya bertambah banyak, bisa dua sampai tiga hari baru kembali dikirim. Solusinya adalah memperbanyak sarana-prasarana dengan melibatkan CSR dan pihak luar,” katanya.

BPBD juga mengingatkan bahwa seluruh wilayah di Jateng memiliki potensi mengalami kekeringan. Pengalaman saat El Nino pada 2019 dan 2023 menunjukkan dampak kekeringan pernah meluas hingga 33 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Karena itu, pemerintah terus memperkuat upaya mitigasi melalui pencarian sumber air baru, pembangunan sumur bor, serta koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota agar penanganan krisis air bersih dapat dilakukan lebih cepat ketika kondisi kemarau semakin ekstrem.

Penulis : M Kamal

Editor : Jaka N

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN