SEMARANG, Jatengnews.id – Di tengah riuhnya pencari kerja yang memadati agenda Job Fair Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Tengah, Kamis (20/8/2026), Ira (30) datang dengan harapan yang sama untuk mendapatkan kesempatan kerja.
Perempuan asal Semarang itu menyusuri satu per satu stan perusahaan yang membuka lowongan. Ia membawa CV dan berusaha mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya.
Namun, bagi Ira yang merupakan penyandang disabilitas Tuli, mencari pekerjaan bukan sekadar soal menemukan lowongan.
Ada persoalan lain yang harus ia hadapi, mulai dari akses informasi dan komunikasi.
Dengan menggunakan bahasa isyarat yang kemudian diterjemahkan oleh Mako (seorang juru bahasa isyarat), Ira bercerita bahwa sejak pertama tiba di lokasi job fair, dirinya sempat kebingungan.
Ia melihat lokasi acara sudah tertata dan informasi mengenai perusahaan cukup jelas. Namun, penanda visual dan informasi yang secara khusus membantu teman-teman Tuli masih terbatas.
“Pertama saya masuk melihat acara job fair ini, aksesnya masih kurang. Visual untuk teman-teman Tuli saya bingung, informasi di mana, saya mau ke mana, mau belok mana, ke arah mana,” ujar Ira kepada Jatengnews.id Jumat (21/8/2026).
Menurutnya, keberadaan penanda yang lebih jelas akan sangat membantu penyandang Tuli mengikuti alur kegiatan.
Misalnya, penanda tempat untuk menunggu, mendaftar, menyerahkan lamaran, maupun mengikuti proses rekrutmen.
“Kalau ada penanda saya akan lebih mengerti, ‘Oh, berdiri di sini, duduknya di sini.’ Informasinya saya bingung,” katanya.
Meski menemukan sejumlah kendala, Ira mengapresiasi penyelenggaraan job fair tersebut.
Baginya, kegiatan seperti ini tetap memberikan peluang yang sebelumnya sulit didapatkan oleh penyandang disabilitas.
Ia bahkan mengaku senang ketika melihat perusahaan membuka kesempatan bagi pencari kerja dari kelompok disabilitas.
“Sebetulnya sudah membantu, tapi sedikit. Tapi sudah membantu kok, membuka peluang untuk teman-teman disabilitas,” ujarnya.
Ira mengatakan dirinya telah melamar ke sejumlah perusahaan pada kegiatan tersebut. Ia bahkan telah menyerahkan CV dan mencatat perusahaan yang dilamarnya.
Namun, ia menemukan adanya perbedaan kesempatan antara penyandang disabilitas daksa dan Tuli.
Menurut Ira, lowongan yang secara terbuka dapat diakses oleh penyandang daksa masih relatif sedikit.
“Saya lamar diterima, CV-nya sudah diterima. Ada banyak PT, tapi akses fasilitasnya masih kurang untuk teman-teman daksa,” tuturnya.
Bagi Ira, membuka lowongan saja belum cukup. Perusahaan juga perlu memastikan proses rekrutmen hingga lingkungan kerja nantinya dapat diakses oleh penyandang disabilitas.
Perjuangan Ira mencari pekerjaan dimulai sejak pagi.
Sekitar pukul 10.00 WIB, ia bersiap dan menghubungi teman-temannya. Ia kemudian menggunakan ojek motor menuju lokasi job fair dan tiba sekitar pukul 11.00 WIB.
Sesampainya di lokasi, Ira sempat terkejut melihat suasana yang ramai.
“Saya melihat-lihat, observasi, kok ramai sekali? Saya bingung, saya mau ke mana? Mau masuk lewat mana?” ceritanya.
Beruntung, ia kemudian bertemu teman-teman penyandang disabilitas lainnya.
Mereka saling membantu memberikan informasi sehingga Ira dapat mengikuti proses pendaftaran dan mencari lowongan yang sesuai.
Ia pun mulai berkeliling, mendaftar, dan mengajukan lamaran ke sejumlah perusahaan.
“Saya senang rasanya melihat ada lowongan terbuka untuk saya bisa melamar,” katanya.
Kegembiraan sederhana itu menjadi penting bagi Ira. Sebab, mencari pekerjaan bagi penyandang disabilitas masih menghadirkan tantangan yang lebih panjang dibandingkan pencari kerja pada umumnya.
Ira bukan pertama kali memasuki dunia kerja. Ia mengaku sebelumnya sudah pernah bekerja.
Namun, pengalaman tersebut justru membuatnya memahami betapa pentingnya aksesibilitas di tempat kerja.
Menurutnya, akses bagi penyandang disabilitas di tempat kerja sebelumnya masih sangat minim.
“Sebelumnya saya sudah pernah kerja, tapi sebelumnya aksesnya masih sangat kurang, masih nol sekali, tidak ada sama sekali,” ujarnya.
Karena itu, ia melihat adanya perubahan ketika mengikuti job fair kali ini.
Meski belum sempurna, menurut Ira, setidaknya sudah terdapat upaya menyediakan akses dan penanda bagi penyandang disabilitas.
“Kalau akses seperti ini sudah ada, cuma kurang. Kalau akses seperti ini sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya,” katanya.
Ira menilai job fair seperti yang digelar Pemprov Jateng jauh lebih membantu dibandingkan mencari lowongan secara mandiri di luar.
Sebab, dalam satu tempat, pencari kerja disabilitas dapat menemukan berbagai perusahaan sekaligus.
Namun, ia berharap penyelenggara dan perusahaan tidak berhenti pada penyediaan akses secara simbolis.
Bagi Ira, langkah menuju dunia kerja yang inklusif memang tidak harus langsung sempurna.
Yang terpenting, kesempatan untuk bekerja benar-benar terbuka dan akses yang dibutuhkan penyandang disabilitas terus diperbaiki.
Penulis : Muhammad Kamal
Editor : Alif Nazzala Rizqi





