27 C
Semarang
, 18 April 2024
spot_img

KKN UNS Sosialisasi Pembuatan Pupuk Organik Cair Limbah Rumah Tangga di Desa Segorogunung

Karanganyar, JatengNews.id – KKN Tematik Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar kegiatan pembuatan pupuk organik cair dari limbah rumah tangga untuk meningkatkan produktivitas tanaman hortikultura.

KKN Tematik UNS yang mengadakan kegiatan pembuatan pupuk organik cair dari limbah rumah tangga yang merupakan kelompok 116. Kegiatan ini digelar pada Sabtu (3/2/2024) di salah satu Rumah Warga RT 02, Dukuh Nglerak, Desa Segorogunung, Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar.

Acara ini dihadiri oleh Kepala Dusun Nglerak, Ketua RW 02, Ketua RT 01, dan Ketua RT 02, serta para petani yang terdapat di Dusun Nglerak. Narasumber acara ini merupakan Chief Financial Officer (CFO) dari KANS.ID yang bergerak dibidang pengembangan pertanian organik, Angelo Di Lorenzo.

Baca juga: Mahasiswa KKN UNS Branding Batik Tulis Adi Busana Go Internasional Melalui Konten Video

Kepala Dusun Nglerak, Joko Sulistyo mengucapkan terima kasih atas kegiatan yang diadakan oleh KKN UNS Kelompok 116 yang ditujukan kepada para petani untuk membantu peningkatan produktivitas hasil hortikultura dan pengembangan pertanian organik melalui pembuatan pupuk organik cair dari limbah rumah tangga. 

 Menurut Ketua RW 01 Dusun Nglerak, Suparji, pengembangan hortikultura dapat meningkatkan nilai tambah dan daya saing komoditas pertanian, mendorong majunya agroindustri, dan membantu terwujudnya reformasi birokrasi Kementerian Pertanian.

Peningkatan produktivitas tanaman pangan dan hortikultura merupakan solusi yang tepat untuk meningkatkan kapasitas produksi. Salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas hortikultura adalah dengan menambahkan nutrisi pada tanaman hortikultura.

Nutrisi yang dapat membantu pertumbuhan dan produktivitas salah satunya adalah pupuk organik cair.

“Melalui kegiatan ini diharapkan para petani dapat membuat pupuk organik secara mandiri untuk meningkatkan hasil dan produktivitas hortikultura,” katanya.

Sementara, permasalahan yang menjadikan dasar Tim KKN UNS 116 menyusun program ini adalah Tim KKN UNS 116 menginginkan kemandirian pupuk di kalangan petani sehingga tidak ketergantungan pada pupuk subsidi dan dapat meningkatkan hasil dan produktivitas tanaman hortikultura.

Menurut Bakti, Ketua Tim KKN UNS 116, dalam sambutannya, Dusun Nglerak, Desa Segorogunung memiliki potensi pertanian hortikultura yang tinggi dan berkelanjutan karena memiliki kondisi alam yang mendukung.

Seperti tanah yang cukup, air yang mencapai kebutuhan, dan kondisi agroklimatik yang baik. Dusun Nglerak juga dapat mengembangkan komoditas hortikultura.

“Sehingga dapat  menjadi sumber pendapatan tunai bagi masyarakat dan petani skala kecil, menengah, dan besar, mengingat nilai jualnya yang tinggi, jenisnya beragam, tersedia sumberdaya lahan dan teknologi, serta potensi serapan pasar pada skala regional, nasional bahkan global yang terus meningkat,” jelasnya.

 Materi disampaikan oleh CFO dari KANS.ID, Angelo Di Lorenzo mengenai pertanian organik dengan salah satu penerapannya menggunakan pupuk organik cair. Kegiatan dimulai dengan pemaparan tentang pertanian organik dan pembuatan pupuk organik cair.

Angelo menyampaikan bahwa, pertanian organik merupakan teknik budidaya yang berorientasi pada pemanfaatan bahan-bahan alami (lokal) tanpa menggunakan bahan-bahan kimia. Seperti pestisida, pupuk anorganik, dan zat pengatur tumbuh.

Pertanian organik merupakan solusi penting untuk meningkatkan kesehatan, mengurangi dampak negatif bagi lingkungan, dan membangun ekonomi yang lebih berkelanjutan.

“Pertanian organik dapat menjadi sarana rekreasi serta membantu meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat sekitar. Pengembangan pertanian organik dapat dicapai dengan penggunaan pupuk organik cair,” jelasnya.

Kegiatan ini dilanjutkan dengan pemaparan pembuatan pupuk organik cair. Pupuk organik cair terbagi menjadi tiga yaitu pupuk N, P, dan K. Pupuk N dibuat dengan menggunakan pupuk nitrobacter.

Pupuk nitrobacter adalah jenis pupuk organik yang mengandung bakteri nitrobakter. Nitrobakter adalah bakteri yang berperan penting dalam mengikat nitrogen bebas dari udara untuk difiksasi menjadi nitrit lalu diubah menjadi nitrat, yang kemudian dapat digunakan oleh tanaman.

“Penggunaan pupuk nitrobacter dapat membantu mengurangi penggunaan pupuk kimia, yang dapat menjadi sumber polusi dan berbahaya bagi lingkungan. Pupuk nitrobacter juga dapat digunakan sebagai alternatif untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia dalam sistem pertanian yang berkelanjutan,” tambah Angelo.

Bahan utama yang diperlukan adalah EM4 dan tetes tebu. Bahan lainnya yaitu untuk pupuk N adalah urea dan starter nitrobacter.

Pupuk P adalah akar pisang, air cucian beras, dan brotowali. Pupuk K membutuhkan sabut kelapa, kulit pisang, ampas teh, dan pepaya. Alat yang digunakan hanya galon bekas. Pembuatan dilakukan dengan memasukan semua bahan yang telah dicacah dan dihaluskan kedalam masing-masing galon sesuai dengan jenis pupuk, setelah itu didiamkan dan difermentasikan dalam galon tertutup selama 1 bulan untuk pupuk Nitrobacter, dan 3 bulan untuk pupuk P dan pupuk K.

Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi yang dipimpin oleh Narasumber, Angelo Di Lorenzo. Sasaran kegiatan ini adalah seluruh petani yang terdapat di Dusun Nglerak, RT 01 dan RT 02.

Terdapat pertanyaan dari salah satu peserta mengenai bahan pembuatan yang susah didapat untuk pembuatan pupuk organik cair dan cara pengaplikasian pupuk organik cair.

Baca juga: KKN UPGRIS 78 Berkontribusi Punyuluhan Stunting di Desa Kalongan

“Bahan yang susah didapat seperti EM4 dan tetes tebu dapat dibeli pada toko saprotan terdekat yang ada di desa, dan untuk starter nitrobacter dapat diambil atau dibeli ke Badan Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Ngargoyoso. Pengaplikasian pupuk cair yang sudah terfermentasi dengan efektif adalah mencampurkan 1 Liter pupuk organik cair kedalam 16 L tangki. Hal tersebut efektif karena kandungan dalam 1 liter pupuk organik cair dapat memenuhi kebutuhan hara pada tanaman hortikultura”, jawab Angelo.

 Berdasarkan hasil diskusi diharapkan petani dapat mandiri dalam hal pemenuhan kebutuhan hara secara organik dan meningkatkan produktivitas tanaman hortikultura.

Melalui kegiatan ini petani dapat membuat secara mandiri dan mengolah limbah rumah tangga untuk menjadi pupuk organik cair  sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya lebih untuk membeli pupuk dan petani bisa mandiri pupuk. (01)

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN