25 C
Semarang
, 13 April 2024
spot_img

Kemenkes Tegaskan Wolbachia Tidak Picu Keganasan Nyamuk Penyebab DBD

Jakarta, Jatengnews.id – Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Maxi Rein Rondonuwu, menjelaskan karakteristik nyamuk Aedes aegypti di daerah tetap sama, baik sebelum maupun sesudah penyebaran nyamuk wolbachia.

Bahkan, tanda dan gejala orang yang terkena gigitan nyamuk Aedes aegypti juga sama, seperti demam tinggi yang diikuti nyeri otot, mual, muntah, sakit kepala, mimisan, dan gusi berdarah.

Baca juga : Awas Kemenkes Catat Kasus DBD Meningkat Pesat Jelang Lebaran

“Secara keseluruhan karakteristik dan gejalanya sama. Bahkan, tidak ada perbedaan jumlah nyamuk Aedes aegypti sebelum dan setelah wolbachia dilepaskan,” ujar Maxi dikutip dari Suara.com jaringan berita Jatengnews.id, Rabu (03/04/2024).

Wolbachia adalah bakteri alami yang ada di dalam tubuh beberapa serangga seperti lalat buah, kupu-kupu, ngengat. Bakteri wolbachia menghambat perkembangan virus dengue di tubuh nyamuk Aedes aegypti. Ini artinya, kemampuan nyamuk dalam menularkan virus ke manusia akan berkurang.

Untuk memastikan nyamuk Aedes aegypti yang mengandung wolbachia ini efektif mencegah DBD, maka presentase idealnya minimal mencapai 60 persen di alam.

Saat ini, sudah ada 5 kota tujuan penyebaran wolbachia, yakni Semarang, Kupang, Bontang, Bandung dan Jakarta Barat. Namun, khusus Jakarta Barat, penyebaran wolbachia hingga kini belum dilaksanakan.

Dari 5 kota di atas, memang belum ada satupun yang populasinya mencapai angka ideal. Dikatakan Maxi, konsentrasi nyamuk Aedes aegypti yang mengandung wolbachia baru ada di kisaran angka 20 persen yang ada di alam.

“Setelah populasinya mencapai 60 persen, pelepasan ember nyamuk ber-wolbachia akan ditarik kembali dan hasil penurunan kasus dengue baru akan mulai terlihat setelah 2 tahun, 4 tahun, 10 tahun dan seterusnya, seperti implementasi yang dilakukan di Yogyakarta,” ungkap Maxi.

Penyebaran wolbachia sendiri telah terbukti efektif menurunkan kasus demam berdarah di kota Yogyakarta. Sejak pertama kali disebar pada tahun 2017, nyamuk dengan bakteri wolbachia telah terbukti mampu menurunkan 77 persen angka kejadian dengue dan 86 persen kejadian masuk rumah sakit.

Baca juga : Peneliti Ungkap Penyebab Kasus DBD Terus Meningkat

Maxi mengatakan bahwa penerapan teknologi nyamuk ber-wolbachia dipastikan aman karena memanfaatkan bakteri alami wolbachia yang ada pada serangga dan telah melalui proses penelitian yang cukup panjang. (03)

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN