SEMARANG, Jatengnews.id – Transformasi menuju gaya hidup elektrik atau electrifying lifestyle semakin nyata di Kota Semarang. Penggunaan kompor listrik dan kendaraan listrik kian diminati masyarakat seiring gencarnya program elektrifikasi pemerintah serta tarif listrik yang stabil.
Langkah ini menjadi bagian penting dalam mendorong swasembada energi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Salah satu warga yang merasakan langsung manfaat elektrifikasi adalah Sendy Septian (32), warga RT 02 RW 05 Kelurahan Wonolopo, Kecamatan Mijen, Kota Semarang.
Saat ditemui Jatengnews.id pada Selasa (2/12/2025) siang, Sendy yang memiliki usaha angkringan mengaku telah beralih dari LPG ke kompor listrik sejak 2024.
“Sudah lebih dari satu tahun saya pakai kompor listrik. Selain praktis dan hemat, juga lebih aman dari potensi kebakaran,” ujarnya.
Baca juga: Energi Berdaulat dari Lereng Ungaran, Desa Ngresepbalong Jadi Simbol Indonesia Kuat
Menurutnya, kompor listrik memudahkan aktivitas usaha angkringannya yang berada di belakang rumah. Mulai dari membuat kopi, mie instan, hingga memasak kebutuhan lainnya, semuanya kini lebih cepat dan efisien tanpa risiko kebocoran gas.
Mobil Listrik: Hemat Energi, Hemat Biaya
Tidak hanya di dapur, Sendy juga menerapkan gaya hidup energi bersih dalam kegiatan sehari-hari. Pernah tinggal di Jerman selama sembilan tahun, sejak 2012 hingga 2021, ia terbiasa dengan teknologi ramah lingkungan. Pengalaman itu terbawa hingga kini, salah satunya dengan penggunaan mobil listrik dan sepeda listrik.
“Saya pakai mobil listrik mulai Februari 2025, sebelumnya masih mobil konvensional,” ujar alumni Administrasi Bisnis Universitas Sains Terapan RH Cologne, Jerman.

Sendy mengungkapkan biaya operasional mobil listrik sangat jauh lebih hemat dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil. Servis lebih sederhana, pajak lebih rendah, dan konsumsi energi makin efisien berkat pemasangan meteran baru berdaya 7.700 VA.
Sebelumnya, ia bisa menghabiskan Rp 500 ribu sampai Rp 800 ribu per bulan untuk biaya bahan bakar minyak (BBM). Kini, cukup Rp 500 ribu untuk pemakaian hingga empat bulan.
“Sudah delapan bulan ini saya top up Rp 500 ribu hanya dua kali. Hemat banget, dan yang pasti lebih ramah lingkungan,” tegasnya, yang baru menikah pada Oktober 2025.
Baca juga: PLN Indonesia Power UBP Semarang Dukung Penuh Energi Hijau Untuk Swasembada Energi
Selain kendaraan listrik, Sendy juga menerapkan konsep smart home yang mendukung efisiensi penggunaan listrik. Dipercaya mengelola Pendopo Kinanthi sebagai Event Manager, ia memanfaatkan sistem otomatisasi untuk mengelola seluruh fasilitas ruangan.
“Aula, halaman, ruang transit, kantin, mushala, kamar mandi sampai sound system semuanya bisa saya kendalikan lewat smartphone. Bahkan saat saya di luar rumah, semua tetap bisa dikontrol karena terhubung dengan wifi,” jelasnya.
Langkah ini membuktikan bagaimana teknologi digital berperan besar dalam mendorong efisiensi energi rumah tangga sekaligus mendukung electrifying lifestyle.
Manfaat Kompor Listrik untuk Keluarga Muda
Manfaat elektrifikasi juga dirasakan Sulistiani (31) tahun, warga RT 03 RW 01 Kelurahan Jatirejo, Kecamatan Gunungpati. Ditemui Jatengnews.id pada Rabu (3/12/2025), ia menceritakan pengalamannya menggunakan kompor listrik sejak 2020.
Sebagai ibu dari tiga anak laki-laki yang masih kecil, ia merasa lebih tenang memasak tanpa api terbuka dan bebas asap.
“Tidak ada api menyala dan bebas dari risiko kebocoran gas. Jadi lebih aman buat anak-anak,” ujar Sulis, yang sering ditinggal suaminya bekerja sebagai pelaut, saat ditemui di rumahnya, Selasa (2/12/2025).
Menurutnya, meski kompor listrik yang digunakannya memakai daya 700 watt, penggunaan kompor listrik tetap lebih hemat dan stabil dalam jangka panjang.
“Tarif listrik stabil dan kompetitif. Lama-lama lebih hemat daripada pakai gas,” tambahnya.
Kisah Sendy dan Sulistiani hanyalah sebagian kecil dari warga Kota Semarang yang mulai merasakan manfaat elektrifikasi dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan ini sejalan dengan upaya PLN dan pemerintah dalam mendorong swasembada energi, transisi menuju energi bersih, serta penerapan electrifying lifestyle untuk masa depan Indonesia yang lebih berkelanjutan.
Role Model Electrifying Lifestyle
Kampanye energi bersih tidak harus dimulai dari program besar. Kebiasaan kecil sehari-hari dapat menjadi langkah awal menuju pengurangan emisi.
Hal itu ditunjukkan oleh Ananda Nur Fitriani (38) tahun, karyawan PLN Unit Pelaksana Pengatur Distribusi (UP2D) Jateng–DIY, yang telah menerapkan electrifying lifestyle secara nyata. Sejak akhir 2023, Ananda menggunakan mobil listrik sebagai kendaraan utama.
Setiap hari ia menempuh perjalanan dari rumah di Semarang Timur menuju Semarang Barat tempat bekerja sekitar 15 kilometer. Sejak beralih dari mobil konvensional ke mobil listrik, ia merasakan pengeluaran energinya menurun signifikan.
“Apalagi, waktu itu karyawan PLN diarahkan memakai Pertamax. Setelah pakai mobil listrik, pengeluaran saya jauh lebih hemat. Yang biasanya habis Rp 800 ribu sampai Rp 1 juta per bulan untuk BBM, sekarang hanya Rp 200 ribu–Rp 300 ribu,” ujarnya kepada Jatengnews.id, Rabu (3/12/2025).
Selain biaya energi, penghematan juga terlihat dari biaya perawatan. Mobil konvensional yang sebelumnya ia gunakan membutuhkan servis dua kali setahun dan menghabiskan hampir Rp 2 juta. Sementara mobil listrik hanya membutuhkan biaya perawatan kurang dari Rp 1 juta per tahun.
Pajak kendaraan pun jauh lebih rendah. Jika pajak mobil konvensional miliknya dulu mencapai Rp 3 juta per tahun, pajak mobil listrik hanya sekitar Rp 500 ribu.
“Selama dua tahun memakai kendaraan listrik, pengeluaran benar-benar lebih hemat dan tentu saja lebih ramah lingkungan,” papar Ananda yang juga menggunakan motor listrik dan kompor listrik di rumah.
Baca juga: PLTA Ketenger: Energi yang Tak Pernah Padam dari Hulu Sungai Banjaran
Menurutnya, kendaraan listrik semakin nyaman digunakan karena teknologinya kian canggih. Baterai mobil listrik kini juga sudah waterproof, sehingga aman digunakan saat hujan deras maupun banjir.
“Alhamdulillah, tidak ada kendala. Mobil ini sudah dua kali dipakai mudik lebaran, dari Semarang ke Cirebon dan Semarang ke Malang. Semuanya aman dan nyaman,” tutur Ananda, ibu satu anak ini.
Ia menegaskan bahwa kebiasaan kecil seperti menggunakan kendaraan listrik, kompor induksi, dan teknologi rumah tangga hemat energi merupakan bagian dari komitmen pribadi dalam menjalankan gaya hidup hijau.
Tidak hanya Ananda, semangat yang sama juga ditunjukkan Seto, karyawan PLN UID Jateng–DIY, yang menggunakan motor listrik sebagai kendaraan utama sejak awal 2025 untuk berangkat kerja ke kantor.
“Awalnya coba-coba, ternyata nyaman banget, hemat, nggak berisik, dan lebih tenang saat berangkat pagi. Kalau PLN serius ingin jadi pelopor energi bersih, ya harus dimulai dari kita sendiri,” tegas Seto.
Swasembada Energi
Program elektrifikasi tidak dapat berjalan sendiri. Karena itu, kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak terus diperkuat, mulai dari perluasan infrastruktur kendaraan listrik, pembangunan jaringan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), insentif kompor induksi, hingga percepatan pengembangan pembangkit energi terbarukan.
Manager PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Semarang, Ricki Yakop, menyampaikan bahwa PLN terus mengampanyekan program elektrifikasi melalui berbagai kegiatan seperti pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS), konser, event kota/provinsi, hingga kolaborasi dengan komunitas lokal.
PLN juga memperluas ketersediaan SPKLU di berbagai lokasi strategis mulai dari kantor PLN, kantor pemerintahan, perguruan tinggi, pusat perbelanjaan, rest area, hingga ruang publik.
“Hingga saat ini terdapat 36 titik SPKLU dengan total kapasitas 1.225 kW di Kota Semarang dan sekitarnya,” ujarnya.
Ricki menegaskan bahwa penguatan infrastruktur elektrifikasi merupakan bagian penting dari konsep electrifying lifestyle untuk menuju swasembada energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
“Langkah ini bukan hanya solusi atas keterbatasan energi fosil, tetapi juga mendukung target Net Zero Emission atau NZE 2060,” tegasnya.
Dukungan transisi energi bersih juga datang dari PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Semarang. Senior Manager, F. Erwin Putranto, menyampaikan bahwa pada 2024 PLN melalui subholding Indonesia Power telah mengoperasikan PLTGU Tambak Lorok Blok 3 berkapasitas 779 MW di Semarang.
Pembangkit tersebut menggunakan teknologi terbaru sehingga dapat beroperasi lebih efisien dan tetap ramah lingkungan.
“Kehadiran PLTGU ini memberikan kontribusi signifikan untuk memenuhi pasokan listrik wilayah Jawa hingga Bali,” kata Erwin.
Pada 2023, PLN Indonesia Power UBP Semarang juga sukses mengoperasikan PLTS Apung Tambak Lorok, yang merupakan PLTS apung terbesar di Indonesia dengan kapasitas 561 kWp. Hadirnya PLTS ini semakin meningkatkan bauran energi baru terbarukan nasional.
“PLTS apung ini menjadi wujud komitmen kami dalam mendorong transisi energi, mengurangi dampak perubahan iklim, dan mencapai NZE 2060,” tambahnya.
Pertumbuhan EV Naik 300 Persen
General Manager PLN UID Jateng dan DIY, Bramantyo Anggun Pambudi, mencatat pertumbuhan kendaraan listrik (EV) di wilayah Jateng–DIY meningkat pesat. Peningkatan itu terlihat dari konsumsi listrik SPKLU maupun home charging yang naik hingga 300 persen secara year on year (YoY).
“Ini menunjukkan bahwa masyarakat di Jawa Tengah dan Yogyakarta sangat peduli dan mulai beralih ke kendaraan listrik,” kata Bramantyo saat diwawancarai usai memimpin Upacara Hari Listrik Nasional ke-80, Senin (27/10/2025).
Untuk memastikan kenyamanan pengguna kendaraan listrik, PLN menyediakan SPKLU di titik-titik strategis.
“Setiap rest area sudah memiliki SPKLU, dan di beberapa lokasi terdapat SPKLU Center dengan lebih dari 10 nozzle,” ujarnya.
Saat ini terdapat sekitar 307 unit SPKLU di wilayah Jateng dan DIY yang tersebar di 215 lokasi, termasuk dua SPKLU Center, yaitu SPKLU Center Trans Jawa di Rest Area KM 379A Batang–Semarang dan SPKLU Center PLN UP3 Yogyakarta.
“Keberadaan SPKLU Center memperkuat ekosistem kendaraan listrik dan mendukung transisi energi bersih nasional,” jelasnya.
Baca juga: PLN Fokus Listriki Grumbul, Rasio Elektrifikasi Jateng-DIY Sudah 100 Persen
Bramantyo juga menyampaikan bahwa dalam RUPTL 2025, PLN menargetkan tambahan 69,5 gigawatt pasokan listrik, di mana 76 persen berasal dari pembangkit energi hijau.
“Komitmen kami tidak berhenti pada penyediaan listrik semata, tetapi memastikan keberlanjutan energi yang bersih dan inklusif. Kami hadir bukan hanya untuk menyalakan lampu, tetapi menerangi masa depan bangsa dengan energi yang lebih hijau dan merata,” tegasnya.
Smart Grid dan Transisi Energi
Sementara itu, Dosen Teknik Elektro Universitas Diponegoro (Undip), Trias Andromeda, menegaskan bahwa percepatan pembangunan infrastruktur energi bersih menjadi kebutuhan mendesak dalam mewujudkan swasembada energi nasional.
Langkah ini juga menjadi bagian penting dalam mencapai target NZE 2060 sekaligus memperkuat gerakan electrifying lifestyle di berbagai sektor.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur energi bukan sekadar penambahan fasilitas, tetapi merupakan fondasi menuju Smart Grid yang mengintegrasikan energi terbarukan, digitalisasi, dan mobilitas listrik.
“Transformasi ini merupakan simbol perubahan arah pembangunan menuju masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan,” pungkas Trias, alumni UGM dan Universiti Teknologi Malaysia. (Shodiqin)