DEMAK, Jatengnews.id — Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin, menegaskan bahwa perlindungan anak di pesantren tidak bisa dianggap sepele.
Menurutnya, bullying dan tekanan mental menjadi bentuk kekerasan paling banyak terjadi di lingkungan pesantren dan berdampak pada kepercayaan diri santri.
Baca juga: Wakil Gubernur Jateng Melantik 183 Pejabat Fungsional Pemprov
“Bentuk kekerasan itu tidak selalu fisik. Yang paling tinggi justru bullying dan tekanan mental. Ini menimbulkan ketidakpercayaan anak-anak didik kita untuk tumbuh dan menjadi pemimpin,” ujar Taj Yasin saat halaqah bertema Pesantren Aman, Nyaman, dan Ramah Anak di Pondok Pesantren Girikesumo, Demak, Jumat (12/12/2025).
Sejak 2019 hingga 2025, tercatat puluhan kasus kekerasan di pesantren, meski banyak santri enggan melapor demi menjaga nama pesantren dan kiai. Taj Yasin menekankan pentingnya pondok pesantren sebagai ruang aman dan inklusif, dengan pembinaan senioritas yang mendidik, bukan menekan.
Baca juga: Gubernur Jateng Resmikan Desalinasi Desa Banjarsari Demak, Kebutuhan Air Bersih Terpenuhi
Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Jateng, Fatkhurronji, menekankan, “Pesantren yang aman dan nyaman tidak cukup dilihat dari sisi fisik. Harus ada kenyamanan dalam proses pendidikan, dengan jejaring antara pengasuh, orang tua, santri, masyarakat, serta dukungan pemerintah,’’ujarnya.
Halaqah ini menjadi momen penguatan komitmen para ustadz dan ustadzah untuk menciptakan lingkungan pesantren yang aman, nyaman, dan ramah anak, tetap menjaga nilai keilmuan dan akhlakul karimah sebagai ciri khas pesantren.(02)





