Beranda Daerah Sulap Limbah Jadi Karya, KKN UIN Walisongo Dukung Branding UMKM Batangkerajinanku Lewat...

Sulap Limbah Jadi Karya, KKN UIN Walisongo Dukung Branding UMKM Batangkerajinanku Lewat Video Promosi

Pendampingan branding oleh KKN MIT-21 dorong daya saing UMKM Batangkerajinanku di sektor ekonomi kreatif.

KKN UIN WS gelar pembuatan video
Mahasiswa KKN MIT-21 Posko 1 UIN Walisongo Semarang saat proses pengambilan gambar video promosi UMKM Batangkerajinanku di Desa Sempu, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Sabtu (8/2/2026) (Foto: Dok KKN).

Batang, JatengNews.id– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT-21 Posko 1 UIN Walisongo Semarang melaksanakan pendampingan terhadap UMKM Batangkerajinanku di Desa Sempu, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Sabtu (8/2/2026).

Pendampingan dilakukan melalui pembuatan video promosi sebagai upaya penguatan branding dan pemasaran digital.

UMKM Batangkerajinanku merupakan usaha seni kriya kayu yang memanfaatkan limbah sebagai bahan baku utama. Program ini bertujuan memperluas jangkauan pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk di sektor ekonomi kreatif.

Dalam proses pembuatan video promosi, mahasiswa KKN menampilkan tahapan produksi, keunikan bahan baku, ragam produk, hingga nilai edukatif yang diusung usaha tersebut.

Dirintis Sejak 1992, Manfaatkan Limbah Kayu Bernilai Seni

Usaha Batangkerajinanku dirintis oleh Ngatimin sejak 1992. Nama “Batang” merujuk pada bahan baku utama berupa batang kayu.

Berbekal latar belakang pendidikan seni rupa, ia mengembangkan kerajinan berbasis limbah kayu seperti akar, ranting, sisa mebel, serta limbah hutan termasuk kayu jati.

Produk yang dihasilkan mencapai lebih dari 1.000 jenis, mulai dari seni terapan hingga seni murni.

Seni terapan meliputi kap lampu, talenan, sendok, dan peralatan rumah tangga yang diproduksi menggunakan mesin.

Sementara itu, seni murni seperti patung dan lukisan dikerjakan secara detail dengan nilai artistik lebih tinggi.

Selain limbah kayu, bahan alam lain seperti biji jati, biji mahoni, bonggol jagung, dan gigi sapi turut dimanfaatkan sebagai elemen pelengkap.

Teknik tempelan menjadi ciri khas produksi yang membedakan karya ini dari teknik ukir atau bubut.

Ngatimin menegaskan bahwa usahanya tidak semata berorientasi pada keuntungan ekonomi.

“Saya berharap usaha ini bisa terus berlanjut dan menjadi media pembelajaran. Siapa pun bisa belajar di sini karena sering digunakan untuk kegiatan pelatihan,” ujarnya.

Harga Produk dan Strategi Pemasaran Digital

Harga produk Batangkerajinanku bervariasi. Kerajinan sederhana berbahan bambu dan biji-bijian dijual mulai Rp5.000.

Produk seni murni dibanderol mulai Rp700.000, sedangkan furnitur seperti kursi dipasarkan mulai Rp1,2 juta.

Produk lain seperti cermin kayu dijual mulai Rp90.000, talenan Rp20.000–Rp25.000, serta kaligrafi mulai Rp125.000.

Wulan, bagian pemasaran Batangkerajinanku, menjelaskan bahwa pemasaran kini mulai dikembangkan secara daring melalui Instagram (@batangkerajinanku) dan Shopee.

“Kami sudah mulai memasarkan lewat Instagram dan Shopee, tetapi untuk Shopee memang masih cukup sulit tembus dan perlu strategi tambahan agar lebih dikenal,” jelasnya.

Ia berharap adanya dukungan dari pemerintah maupun program UMKM binaan untuk membantu promosi, termasuk fasilitasi pameran yang selama ini terkendala biaya sewa stan.

Dukung Branding dan Daya Saing UMKM

Video promosi yang dibuat mahasiswa KKN MIT-21 diharapkan dapat memperluas jangkauan pemasaran serta memperkuat citra merek Batangkerajinanku sebagai UMKM kreatif berbasis limbah.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam mendukung pengembangan UMKM, khususnya pada aspek branding dan pemasaran digital.

Exit mobile version