
DEMAK, Jatengnews.id – Banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Tuntang di Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, meluas dan merendam sedikitnya enam desa di tiga kecamatan pada Jumat (3/4/2026).
Peristiwa ini dipicu tingginya intensitas hujan di wilayah hulu yang menyebabkan debit air sungai meningkat drastis.
Berdasarkan laporan sementara Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Kabupaten Demak per pukul 14.00 WIB, tanggul Sungai Tuntang jebol di dua titik, yakni di Dukuh Solondoko dan Dukuh Solowere, Desa Trimulyo.
Akibat kejadian tersebut, banjir merendam permukiman warga di Kecamatan Guntur, meliputi Desa Trimulyo, Sidoharjo, Turitempel, dan Sumberejo. Ketinggian air bervariasi antara 20 hingga 100 sentimeter. Bahkan, di Dukuh Solondoko dilaporkan empat rumah warga mengalami kerusakan parah akibat derasnya arus air.
Selain itu, dampak limpasan air juga meluas ke wilayah Kecamatan Karangtengah dan Wonosalam. Di Desa Ploso, Kecamatan Karangtengah, banjir menggenangi jalan utama dan permukiman warga dengan ketinggian mencapai 40 sentimeter di jalan dan 5–20 sentimeter di rumah warga. Sebanyak 150 rumah terdampak dengan total 150 kepala keluarga atau sekitar 600 jiwa, serta dua tempat ibadah turut terendam.
Sementara itu, di Desa Lempuyang, Kecamatan Wonosalam, banjir dengan ketinggian 20–30 sentimeter juga menggenangi permukiman warga. Hingga saat ini, jumlah rumah terdampak di beberapa wilayah masih dalam proses pendataan.
Pemerintah Kabupaten Demak bersama tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, Dinas Sosial, PMI, Tagana, dan relawan lainnya telah melakukan berbagai upaya penanganan. Di antaranya evakuasi warga ke lokasi aman, pendistribusian karung pasir, serta penyediaan tempat pengungsian di sejumlah titik seperti Balai Desa Trimulyo, Balai Desa Tlogorejo, Balai Desa Turitempel, dan Kantor Kecamatan Guntur.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Demak, Agus Sukiyono, menyampaikan bahwa kondisi saat ini masih dalam penanganan intensif.
“Debit air di beberapa titik masih tinggi, khususnya di Dukuh Solondoko dan Solowere. Kami terus melakukan pemantauan dan percepatan evakuasi warga,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kerusakan tanggul cukup signifikan. “Tanggul yang jebol di Dukuh Solondoko diperkirakan mencapai panjang sekitar 30 meter, sehingga perlu penanganan darurat secepatnya,” jelasnya.
Sementara itu, tim gabungan terus melakukan koordinasi lintas instansi guna meminimalisir dampak yang lebih luas. “Kami telah menyiapkan sejumlah lokasi pengungsian dan terus mendistribusikan bantuan logistik bagi warga terdampak,” tambahnya.
Adapun kebutuhan mendesak saat ini meliputi normalisasi Sungai Tuntang, penguatan tanggul di sejumlah titik rawan, serta bantuan logistik berupa pangan dan sandang bagi warga terdampak.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan.
“Kami minta warga tetap siaga dan mengikuti arahan petugas di lapangan demi keselamatan bersama,” pungkasnya. (03)