Beranda Daerah Dinas Kebakaran Kota Semarang Siapkan Personel Hadapi El Nino

Dinas Kebakaran Kota Semarang Siapkan Personel Hadapi El Nino

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menyebut musim kemarau tahun ini akan berlangsung lebih panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Pengecekan armada Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang. (Foto : Dokumen)
Pengecekan armada Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang. (Foto : Dokumen)

SEMARANG, Jatengnews.id — Kesiapsiagaan menghadapi fenomena El Nino 2026 di Kota Semarang mulai ditingkatkan oleh Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang.

Langkah ini dilakukan menyusul prediksi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menyebut musim kemarau tahun ini akan berlangsung lebih panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Dalam menghadapi El Nino 2026 di Kota Semarang, personel dan armada telah dipersiapkan secara bertahap. Kesiapan tersebut ditandai dengan pelaksanaan apel besar siaga bencana kebakaran yang digelar belum lama ini.

Mengantisipasi dampak El Nino 2026 di Kota Semarang, penambahan armada juga sedang dilakukan guna memperkuat respons penanganan kebakaran. Sejumlah unit kendaraan operasional baru dijadwalkan akan segera diterima dalam waktu dekat.

Selain itu, strategi penanganan El Nino 2026 di Kota Semarang tidak hanya difokuskan pada pemadaman, tetapi juga lebih diarahkan pada upaya pencegahan guna menekan risiko kerugian.

Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang, Ade Bakthi, menyatakan bahwa fenomena El Nino tahun ini diperkirakan memiliki intensitas lebih besar.

“Dari BRIN sudah mengeluarkan pernyataan bahwa tahun ini disebut sebagai Godzilla El Nino, karena kemarau diprediksi berlangsung panjang, mulai April sampai Oktober,” ujar Ade, Senin (6/4/2026).

Disampaikan bahwa kesiapan personel telah diperkuat, termasuk dengan pengiriman tim untuk mendukung penambahan armada di tingkat pusat. Armada baru berupa satu unit kendaraan kecil dan satu unit mobil rescue disebut sedang dalam proses pengadaan.

“Kesiapan pasukan sudah kami lakukan, termasuk penambahan armada. Dalam waktu sekitar satu setengah sampai dua bulan, satu unit kendaraan kecil dan satu mobil rescue akan segera datang,” katanya.

Disebutkan pula bahwa jumlah armada operasional Damkar Kota Semarang saat ini mencapai 18 hingga 19 unit, dengan tambahan kendaraan rescue sehingga total mendekati 21 unit. Armada tersebut disiagakan untuk menjangkau berbagai wilayah rawan kebakaran.

Namun demikian, penekanan utama disebut tidak lagi pada proses pemadaman semata, melainkan pada upaya pencegahan agar kejadian kebakaran dapat diminimalkan.

“Fokus kami bukan hanya pada eksekusi pemadaman, tetapi bagaimana kebakaran itu tidak terjadi. Kalau tidak ada kebakaran, maka kerugian material maupun risiko korban jiwa bisa ditekan,” tegasnya.

Upaya pencegahan juga diperkuat melalui pembentukan relawan pemadam kebakaran (Redkar) yang telah tersebar di 177 kelurahan di Kota Semarang. Setiap kelurahan disebut memiliki 10 hingga 20 anggota yang berperan sebagai garda terdepan dalam pelaporan awal kejadian.

Peran Redkar dinilai sangat penting dalam mempercepat respons awal sebelum petugas tiba di lokasi. Hal ini juga dinilai berkontribusi terhadap penurunan jumlah kejadian kebakaran dalam beberapa tahun terakhir.

Data yang dihimpun menunjukkan, jumlah kejadian kebakaran pada 2023 mencapai lebih dari 450 kasus, kemudian menurun menjadi sekitar 360 kasus pada 2024, dan kembali turun menjadi 288 kasus pada 2025. Hingga Maret 2026, jumlah kejadian tercatat sekitar 55 kasus.

Di sisi lain, pengecekan dan pendataan hidran juga sedang dilakukan bekerja sama dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Hidran yang ada akan diklasifikasikan berdasarkan kondisi dan kelayakan penggunaannya.

“Hidran akan kami klasifikasikan, mulai dari yang masih layak digunakan hingga yang sudah tidak bisa difungsikan. Nantinya akan diusulkan menjadi aset pemerintah daerah agar perawatannya lebih jelas,” jelas Ade.

Selain kesiapan teknis, sosialisasi kepada masyarakat juga terus digencarkan, terutama terkait larangan membakar sampah sembarangan yang dinilai menjadi penyebab utama kebakaran.

Disebutkan bahwa sekitar 90 persen kebakaran dipicu oleh kelalaian manusia, termasuk aktivitas pembakaran sampah yang tidak diawasi. Pada periode sebelumnya, kebakaran lahan ilalang bahkan tercatat terjadi hingga hampir 100 kali dalam setahun.

“Mayoritas kebakaran terjadi karena human error, seperti membakar sampah yang tidak ditunggu. Saat musim kemarau panjang, risiko ini akan semakin tinggi,” ujarnya.

Fenomena El Nino 2026 diperkirakan akan berlangsung mulai April hingga Oktober dan disebut memiliki dampak yang lebih besar dibanding periode sebelumnya. Oleh karena itu, seluruh pihak diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan guna mencegah terjadinya kebakaran, terutama di kawasan padat penduduk dan area rawan. (03)

Exit mobile version