
SEMARANG, Jatengnews.id — Pagi itu, langit Mangkang seperti ikut merestui langkah ribuan warga yang berbondong-bondong memenuhi jalanan.
Dari anak-anak hingga orang tua, mereka larut dalam satu irama: kirab budaya Haul Akbar KH R Syafi’i Piyoro Negoro. Bukan sekadar arak-arakan, melainkan perjalanan batin menelusuri jejak ulama yang diyakini pernah menyalakan cahaya Islam di tanah Jawa.
Minggu (12/4/2026), Terminal Mangkang menjadi titik awal pergerakan. Dari sana, ribuan peserta berjalan menuju kompleks pemakaman Mbah Syafi’i di Dondong, Wonosari, Ngaliyan. Sepanjang rute, warna-warni budaya lokal berpadu dengan lantunan sholawat, menghadirkan suasana yang hangat sekaligus khidmat.
Setiap kelompok tampil dengan identitasnya masing-masing. Ada yang membawa replika hasil bumi, mengenakan busana tradisional, hingga menampilkan kesenian daerah. Semua bergerak dalam harmoni, seolah ingin menegaskan bahwa tradisi dan agama tidak pernah berjalan sendiri.
Kirab ini bukan agenda baru. Ia telah menjadi ritual tahunan yang terus dirawat masyarakat. Namun, di balik kemeriahannya, tersimpan makna yang lebih dalam: syiar Islam yang dikemas dalam bahasa budaya, diwariskan dari generasi ke generasi.
Nama Mbah Syafi’i bukan sekadar legenda lokal. Ia dipercaya sebagai salah satu tokoh penting dalam penyebaran Islam di Jawa pada abad ke-17. Pondok Pesantren Luhur yang didirikannya sejak 1609 disebut masih berdiri kokoh hingga kini—menjadi saksi bisu perjalanan panjang dakwahnya.
Namun, sejarah tentang sosok ini belum sepenuhnya terang. Sejumlah catatan penting hilang ditelan zaman—dibakar saat masa penjajahan Belanda, atau hanyut oleh banjir yang pernah melanda kawasan tersebut.
“Literasi terkait beliau masih terus dicari,” tutur salah satu pengurus pondok. Kalimat itu menggambarkan sebuah upaya panjang: merangkai kembali potongan sejarah yang tercecer.
Di tengah keterbatasan arsip, masyarakat tetap menjaga ingatan kolektif tentang Mbah Syafi’i. Salah satunya melalui haul dan kirab budaya yang terus digelar setiap tahun.
Ketua DPRD Kota Semarang, Kadar Lusman, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menilai haul ini bukan hanya peringatan, tetapi juga momentum untuk meneguhkan nilai-nilai perjuangan.
“Perjuangan beliau harus terus diteladani. Kegiatan haul yang diisi doa, kirab budaya, dan sholawat ini sangat luar biasa,” ujarnya.
Menurutnya, keberlangsungan Pondok Pesantren Luhur hingga hari ini menjadi bukti bahwa ajaran Mbah Syafi’i masih hidup dan dijaga oleh masyarakat.
Tahun ini, kirab terasa lebih semarak. Sebanyak 48 kelompok dari berbagai wilayah—Ngaliyan, Tugu, Mijen, hingga Semarang Barat—ikut ambil bagian. Mereka tidak hanya hadir, tetapi juga membawa cerita budaya masing-masing ke dalam barisan kirab.
Sebelumnya, rangkaian haul juga telah diisi dengan berbagai kegiatan, termasuk lomba rebana yang semakin menguatkan nuansa religius.
Menariknya, dalam kirab tersebut turut ditampilkan peninggalan berupa kitab milik Mbah Syafi’i yang hingga kini masih tersimpan rapi di Pondok Pesantren Luhur Dondong. Kitab itu bukan hanya benda, melainkan simbol ilmu dan perjuangan yang melampaui zaman.
Di tengah semarak kirab, muncul harapan yang lebih besar: pengakuan atas jasa Mbah Syafi’i. Selain sebagai ulama, ia juga diyakini terlibat dalam perjuangan melawan penjajah.
“Selain syiar agama, beliau juga ikut berjuang melawan penjajah. Sudah sepantasnya beliau diusulkan sebagai pahlawan nasional,” tegas Kadar.
Kirab budaya ini, pada akhirnya, bukan sekadar perayaan. Ia adalah ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini—tempat sejarah dihidupkan kembali, nilai ditanamkan ulang, dan identitas dirawat bersama.
Di Mangkang, langkah ribuan orang hari itu seolah mengirim pesan sederhana: bahwa warisan seorang ulama tidak hanya dikenang, tetapi juga dijalani. (03)