Jawa Tengah Masuki Kemarau Mei 2026, Dampak El Nino Mulai Diantisipasi

Secara historis, El Nino sangat kuat hanya terjadi tiga kali dalam 45 tahun terakhir

SEMARANG, Jatengnews.id – Kondisi iklim di wilayah Jawa Tengah pada April 2026 masih dinyatakan dalam kategori netral. Namun, perubahan pola cuaca mulai diantisipasi seiring peralihan menuju musim kemarau dalam beberapa bulan ke depan.

Analis Klimatologi BMKG, Zauyik Nana Ruslana, menyampaikan bahwa hujan masih terjadi secara sporadis di sejumlah wilayah. “Pada bulan April ini kondisi masih netral, meskipun hujan tetap terjadi, namun intensitasnya tidak kuat,” ujarnya.

Memasuki periode Mei hingga Juli 2026, fenomena El Nino diperkirakan mulai berkembang dengan intensitas lemah hingga moderat. Perkembangan tersebut disebut akan terus dipantau secara berkala karena sifatnya yang dinamis.

“Diprediksi pada triwulan Mei, Juni, Juli akan berkembang El Nino dengan intensitas lemah sampai moderat. Namun kondisi ini bisa berubah sehingga perlu pembaruan data secara rutin,” kata Zauyik, Jumat (17/4)

Fenomena ini ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di wilayah tertentu yang memicu perpindahan uap air, sehingga berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia, termasuk Jawa Tengah.

Musim kemarau di Jawa Tengah secara umum diperkirakan dimulai pada Mei 2026. Sementara itu, puncak kemarau disebut akan terjadi pada Juli hingga Agustus.

Dampak El Nino diprediksi akan mulai terasa signifikan pada Agustus hingga Oktober 2026. Pada periode tersebut, kondisi kering berpotensi meluas di hampir seluruh wilayah.

“Puncak musim kemarau diperkirakan Juli dan Agustus. Dampak El Nino akan terasa lebih kuat pada Agustus, September, hingga Oktober,” jelasnya.

Sejumlah dampak serius diperkirakan akan muncul akibat fenomena El Nino. Kekeringan disebut menjadi dampak utama yang akan dirasakan, terutama pada sektor pertanian dan ketersediaan air.

Tanaman pertanian berisiko mengalami gagal panen apabila pasokan air tidak terpenuhi. Selain itu, cadangan air di waduk dan sistem irigasi juga berpotensi mengalami penurunan signifikan.

“Kekeringan akan berdampak pada pertanian, sumber daya air, hingga irigasi. Selain itu juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan karena suhu tinggi dan kelembapan rendah,” ungkap Zauyik.

Wilayah Jawa Tengah bagian timur dan kawasan pantai utara diperkirakan akan mengalami dampak paling signifikan. Daerah seperti Jepara, Pati, Rembang, Kudus, Grobogan, Blora, hingga kawasan Solo dan sekitarnya disebut lebih rentan terhadap kekeringan.

Selain itu, wilayah Pantura seperti Semarang bagian utara, Batang, Pekalongan, Tegal, hingga Brebes juga berpotensi terdampak.

Sementara itu, wilayah pegunungan dan daerah selatan Jawa Tengah seperti Purworejo, Kebumen, dan Cilacap disebut masih memiliki peluang hujan meskipun terbatas.

Fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat, yang sering disebut sebagai “El Nino Godzilla”, dijelaskan sebagai kondisi dengan indeks di atas 2. Kejadian ini tergolong langka dan hanya terjadi beberapa kali dalam beberapa dekade terakhir.

“Secara historis, El Nino sangat kuat hanya terjadi tiga kali dalam 45 tahun terakhir, yaitu pada periode 1982–1983, 1997–1998, dan 2015–2016,” jelasnya.

Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak yang ditimbulkan. Upaya mitigasi seperti penghematan air, pengaturan aktivitas luar ruangan, serta pencegahan kebakaran lahan perlu dilakukan sejak dini.

Selain itu, pemerintah daerah juga disarankan untuk mulai menyiapkan cadangan air dan pangan guna menghadapi kemungkinan kekeringan.

“Perlu dilakukan antisipasi seperti penyimpanan air, pengelolaan lumbung pangan, serta terus memantau informasi cuaca terbaru dari BMKG,” kata Zauyik.

Informasi terkini mengenai perkembangan cuaca dan iklim dapat diakses melalui kanal resmi BMKG, baik melalui situs web maupun aplikasi yang tersedia. (03)

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN