DEMAK, Jatengnews.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Demak menduga terjadi kasus keracunan makanan yang menimpa ratusan santri di wilayah Desa Pilang Wetan, Kecamatan Kebonagung. Dugaan ini mencuat setelah banyak santri dari sejumlah pondok pesantren mengalami gejala serupa usai mengonsumsi makanan yang sama.
Kepala Dinas Kesehatan Demak, dr. Ali Maimun, mengungkapkan bahwa kasus ini melibatkan santri dari beberapa pondok pesantren, di antaranya Pondok Pesantren Asnawiyah, Hizmatul Qur’an, dan Hidayatul Mubtadiin. Dari ketiga pesantren tersebut, jumlah santri yang terdampak paling banyak berasal dari tiga pondok utama.
“Keluhannya sama, makanannya sama. Jadi kami menduga ini memang keracunan makanan,” ujar dr. Ali Maimun, Selasa (21/4/2026).
Dinkes Demak pertama kali menerima informasi pada Minggu pagi dan langsung bergerak cepat dengan membuka posko pelayanan di Pondok Pesantren Asnawiyah. Sejumlah korban kemudian dirujuk ke berbagai fasilitas kesehatan, seperti RS PKU, RS Getas Pandawa, RS Sultan Fatah, RS Sunan Kalijaga, dan RS NU, serta ditangani di Puskesmas Kebonagung.
Data sementara menunjukkan, total terdapat 134 pasien yang mendapatkan penanganan medis, terdiri dari 68 pasien rawat inap dan 66 pasien rawat jalan. Bahkan, di antara korban terdapat ibu hamil dan menyusui.
“Kalau dihitung secara keseluruhan, termasuk yang tidak dirujuk dan langsung pulang, jumlahnya bisa mencapai 186 orang,” jelasnya.
Gejala yang dialami para korban umumnya berupa mual, muntah, dan pusing. Hingga saat ini, Dinkes masih terus mengumpulkan data tambahan dari sejumlah wilayah, termasuk Solowire dan Prigi.
Sebagai langkah penanganan, Dinkes Demak telah melakukan inspeksi menyeluruh terhadap SPPG (Satuan Penyelenggara Pangan Gizi), mulai dari tata letak bangunan, inspeksi kesehatan lingkungan (IKL), hingga kualitas sumber daya manusia yang terlibat, bekerja sama dengan Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK).
“Secara umum, dari hasil inspeksi, proses penerimaan bahan, pencucian, pengolahan hingga penyajian sudah sesuai standar. Termasuk penggunaan air dari Gunung Ungaran yang memenuhi standar,” tambahnya.
Namun demikian, terdapat catatan penting terkait menu makanan. Nasi goreng yang diduga menjadi salah satu pemicu kejadian sebenarnya telah diperingatkan untuk tidak disajikan, namun informasi tersebut tidak tersampaikan kepada pihak pengelola SPPG.
Selain itu, ditemukan fakta bahwa sebagian makanan yang seharusnya dikonsumsi langsung di sekolah justru dibawa ke pondok pesantren, yang berpotensi memengaruhi kualitas makanan.
Meski demikian, Dinkes Demak belum dapat memastikan penyebab pasti kejadian ini dan masih menunggu hasil uji laboratorium yang diperkirakan keluar dalam waktu 2 hingga 3 hari ke depan.
“Kami belum bisa menyimpulkan penyebab pastinya. Semua masih menunggu hasil laboratorium,” tegas dr. Ali Maimun. (03)



