
SEMARANG, Jatengnews.id – Setiap musim Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), pihak SMAN 8 Semarang selalu menghadapi dilema yang sama.
Di tengah membludaknya jumlah pendaftar dari wilayah Ngaliyan dan Tugu, sekolah terpaksa menolak ratusan calon siswa karena keterbatasan daya tampung.
Kondisi ini kembali menyoroti minimnya ketersediaan sekolah negeri di kawasan perbatasan Ibukota Jateng yang terus mengalami pertumbuhan penduduk tersebut.
Sebelumnya, telah diwartakan bahwa di Kecamatan Tugu menjadi area blankspot atau tidak ada SMA negeri. Sehingga solusi satu-satunya para calon siswa hanya bisa mendaftar di sekolah tersebut.
Kepala SMAN 8 Semarang, Ajib Setiyo mengatakan, bahwa pada 2025 lalu dirinya menolak sekitar 120 calon siswa.
“Proporsi kami dari proses yang ada tahun kemarin itu kisaran 480-an calon murid baru yang diterima 360. Jadi ada sisa kurang lebih 100-an,” paparnya saat ditemui Jatengnews.id di kantornya.
Katanya, jumlah yang hampir sama juga terjadi pada 2024. Hitungannya, setiap tahunnya itu pendaftar diantara 450 hingga 480, sementara daya tampungnya hanya sepuluh rombongan belajara (rombel) atau kelas.
“Memang yang ada di kami SMA Negeri 8 Semarang hanya 10 rombongan belajar kelas 10-nya yaitu 360 siswa. Jadi daya tampung kami 360 siswa,” jelasnya.
Ratusan calon siswa di Ngaliyan dan Tugu harus mengubur harapan bersekolah di SMA negeri setiap tahunnya. Bukan karena tidak memenuhi syarat, melainkan karena bangku yang tersedia jauh lebih sedikit dibanding jumlah pendaftar.
Ia juga menjelaskan, bahwa pada saat Kamis ini hingga 13 Juni nanti sedang dilakukan proses pengajuan akun dan verifikasi berkas.
Ia juga menjelaskan, bahwa tidak semua calon siswa yang datang kesini bertujuan mendaftar di SMAN 8 Semarang. Sementara itu, proses pendaftaran bakal berlangsung pada 15 hinggga 18 Juni 2026.
“Proses pendaftaran semuanya dilakukan secara online dari para calon murid baru di mana mereka bisa masuk pada jalur-jalur yang sudah ditetapkan,” tuturnya.
Ia juga menjelaskan, pada proses SPMB tahun 2026 kotanya untuk domisili 33 persen, afirmasi 32 persen, prestasi 30 persen, dan mutasi 5 persen.
Katanya, karena Kecamatan Tugu belum terdapat sekolah negeri baik SMA maupun SMK jadi mendapatkan kuota khusus dari 33 persen jalur domisili tadi.
“Nah, kebetulan untuk tugu ada jatah alokasi itu yaitu alokasi kurang lebih 5% dari 33% tadi. Nah, ini artinya kapasitas dari Tugu memang kami pertimbangkan untuk bisa khusus berkompetisi sendiri sesama warga Tugu untuk 5% nya itu,” paparnya.
Jika melihat ini, sehingga berpotensi mengurangi kuota untuk calon siswa dari Ngaliyan.
Meskipun demikian, paparnya ditahun ini ada kebijakan dari Gubernur bahwa untuk jalur afirmasi bisa dimanfaatkan betul oleh calon siswa dari Tugu. Karena kuotanya bertambah 36 kursi di SMK Bina Nusantara.
“SMK Bina Nusantara itu adalah sekolah swasta di mana rekrutmennya itu diambilkan dari mekanisme afirmasi SMA Negeri 8 Semarang dengan kuota 36,” tuturnya.
Meskipun demikian, dari 36 siswa tersebut bakal diberikan beasiswa untuk pembiayaan sekolah.
“Kalau informasi yang kami terima itu kurang lebih 1 sampai 2 juta dalam 1 tahunnya untuk bantuan pembiayaan proses pembelajarannya di sana,” ucapnya.
Penulis : Muhammad Kamal
Editor : Jaka Nuswantara