Beranda Daerah Apindo Karanganyar Khawatir Kenaikan Dolar Picu PHK

Apindo Karanganyar Khawatir Kenaikan Dolar Picu PHK

Kenaikan kurs dinilai berdampak langsung pada biaya produksi perusahaan, terutama yang masih bergantung pada bahan baku dan suku cadang impor.

Ilustrasi pengusaha yang mengeluh dengan kenaikan kurs dolar
Ilustrasi pengusaha yang mengeluh dengan kenaikan kurs dolar (Foto:AI)

KARANGANYAR, Jatengnews.id  – Menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha. Kenaikan kurs dinilai berdampak langsung pada biaya produksi perusahaan, terutama yang masih bergantung pada bahan baku dan suku cadang impor.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Karanganyar, Edy Darmawan, mengatakan pemerintah perlu segera mengambil langkah konkret untuk memperkuat nilai tukar rupiah.

Menurutnya, pelemahan rupiah yang berkelanjutan berpotensi memperberat beban dunia usaha dan meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Kami berharap pemerintah segera mengambil langkah agar rupiah kembali menguat. Jika rupiah semakin terpuruk, tidak menutup kemungkinan gelombang PHK akan semakin besar,” kata Edy, Jumat (5/6/2026).

Edy menjelaskan, dampak paling nyata dari kenaikan dolar adalah meningkatnya biaya pembelian bahan baku, bahan pembantu, serta suku cadang yang masih didatangkan dari luar negeri. Kondisi tersebut membuat harga pokok produksi (HPP) perusahaan ikut meningkat.

“Banyak perusahaan masih mengimpor bahan baku maupun suku cadang. Ketika dolar naik, biaya produksi otomatis ikut naik,” ujarnya.

Menurut Edy, sebagian besar industri di Karanganyar masih bergantung pada bahan baku impor. Salah satu sektor yang paling terdampak adalah industri plastik karena pasokan bahan baku dari dalam negeri masih terbatas.

“Industri plastik menjadi salah satu yang paling merasakan dampaknya. Ketika harga bahan baku naik, harga produk dan kemasan juga ikut meningkat,” jelasnya.

Di sisi lain, perusahaan yang berorientasi ekspor masih memperoleh keuntungan karena transaksi penjualan dilakukan dalam dolar AS. Namun, pelaku usaha yang tidak melakukan ekspor justru menghadapi tambahan beban akibat kenaikan biaya produksi.

“Perusahaan yang tidak bisa ekspor tentu bebannya bertambah karena harga pokok produksinya naik. Banyak industri yang sumber bahan bakunya masih impor,” ungkap Edy.

Meski demikian, hingga saat ini Apindo Karanganyar belum menerima laporan adanya PHK yang secara langsung disebabkan oleh kenaikan kurs dolar. Sejumlah perusahaan masih berupaya bertahan dengan menerapkan berbagai strategi efisiensi dan penyesuaian kapasitas produksi.

“Belum ada laporan PHK yang secara langsung dipicu oleh kenaikan dolar. Perusahaan masih memiliki strategi masing-masing agar operasional tetap berjalan, termasuk melakukan efisiensi dan mengurangi kapasitas produksi,” terangnya.

Edy menilai kenaikan dolar saat ini semakin menambah tekanan yang telah dihadapi dunia usaha dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, ia berharap langkah-langkah yang ditempuh pemerintah dapat membantu menstabilkan nilai tukar rupiah dan menjaga iklim usaha tetap kondusif.

“Kami berharap upaya yang dilakukan pemerintah dapat menurunkan kurs dolar sehingga kondisi dunia usaha menjadi lebih stabil,” pungkasnya.

Penulis : Iwan Iswanda

Editor : Jaka N

Exit mobile version