SEMARANG, Jatengnews.id – Manajemen Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan (PRPP) Jawa Tengah mulai membuka peluang kerja sama dengan investor untuk mengembangkan kawasan wisata dan fasilitas MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions).
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya saing sekaligus memperbaiki kinerja perusahaan.
Direktur PRPP Jawa Tengah, Heri Kristanto, mengatakan kondisi keuangan perusahaan selama ini bukan disebabkan oleh kerugian operasional, melainkan besarnya beban penyusutan aset yang tercatat dalam laporan keuangan.
“Kita bukan rugi di operasional. Tapi dari nilai penyusutan yang besar,” kata Heri kepada awak media.
Menurutnya, pembenahan fasilitas menjadi kebutuhan mendesak agar PRPP mampu bersaing dengan destinasi maupun pusat konvensi lain di Jawa Tengah. Sejumlah aset dinilai sudah tidak lagi kompetitif dan memerlukan revitalisasi secara menyeluruh.
Salah satu kawasan yang menjadi prioritas pengembangan adalah Grand Maerakaca. Heri menilai kawasan wisata tersebut memiliki potensi besar apabila direvitalisasi dan dilengkapi dengan berbagai wahana baru yang lebih menarik bagi pengunjung.
Selain itu, gedung-gedung yang selama ini digunakan untuk kegiatan MICE juga membutuhkan renovasi agar mampu memenuhi kebutuhan penyelenggaraan berbagai kegiatan berskala besar.
“Karena gedung-gedung MICE dan kegiatan lain sudah perlu perbaikan, sehingga saat ini kalah bersaing dengan tempat lain maupun hotel yang mempunyai ballroom besar,” ujarnya.
Heri optimistis kehadiran investor akan menjadi momentum transformasi PRPP, baik dari sisi produk maupun layanan. Dengan pembaruan fasilitas, ia berharap kawasan tersebut kembali menjadi salah satu destinasi unggulan sekaligus pusat kegiatan bisnis dan pameran di Jawa Tengah.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menegaskan bahwa upaya penyehatan perusahaan tetap menjadi prioritas. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Jawa Tengah, Iwanuddin Iskandar, menyebut PRPP merupakan satu-satunya badan usaha milik daerah (BUMD) di lingkungan Pemprov Jateng yang masih membukukan kerugian.
Menurut Iwanuddin, model bisnis PRPP yang bertumpu pada sektor MICE dan penyewaan gedung kini menghadapi persaingan yang semakin ketat. Selain itu, lokasi kawasan yang berada di bawah jalur Flyover Madukoro dan berdekatan dengan Bandara Jenderal Ahmad Yani turut menjadi tantangan tersendiri.
Akumulasi kerugian yang masih ditanggung perusahaan juga berdampak pada penyelesaian kewajiban perpajakan.
“Kami tidak memberikan modal ke perusahaan yang merugi,” tegas Iwanuddin.
Saat ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah masih menunggu hasil audit terhadap kondisi keuangan PRPP. Hasil kajian tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam menentukan rekomendasi pengelolaan dan langkah penyehatan perusahaan agar dapat kembali memberikan kontribusi bagi daerah.
Penulis : M Kamal
Editor : Jaka N
