Beranda Pariwisata Pelaku Wisata Dorong Sinergi Pemerintah, Investor, dan Masyarakat Bangun Pariwisata Berkelanjutan

Pelaku Wisata Dorong Sinergi Pemerintah, Investor, dan Masyarakat Bangun Pariwisata Berkelanjutan

Sinergi tersebut dinilai menjadi langkah penting untuk mengembalikan jumlah kunjungan wisata yang hingga kini masih mengalami penurunan.

Sate Lawu salah satu wisata kuliner The Lawu Grup. (Foto:ist)
Sate Lawu salah satu wisata kuliner The Lawu Grup. (Foto:ist)

KARANGANYAR, Jatengnews.id – Pelaku usaha pariwisata di Kabupaten Karanganyar mendorong pemerintah daerah memperkuat kolaborasi dengan investor dan masyarakat dalam membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan.

Sinergi tersebut dinilai menjadi langkah penting untuk mengembalikan jumlah kunjungan wisata yang hingga kini masih mengalami penurunan.

Owner The Lawu Grup, Parmin Sastro Wijono, mengatakan kunjungan wisata selama libur sekolah 2026 memang mengalami peningkatan sekitar 30 hingga 40 persen dibandingkan hari-hari biasa. Namun, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan periode liburan pada tahun lalu.

“Kalau dibandingkan bulan-bulan biasa memang ada kenaikan sekitar 30 sampai 40 persen. Tetapi dibandingkan tahun sebelumnya tetap mengalami penurunan,” ujarnya, Minggu (5/7/2026).

Parmin menjelaskan, jumlah kunjungan di Lawu Park pada hari biasa saat ini berkisar antara 500 hingga 700 wisatawan per hari. Sementara pada Sabtu mencapai sekitar 1.800 pengunjung dan Minggu sekitar 2.300 pengunjung.

Padahal, pada musim liburan tahun lalu, jumlah kunjungan harian di destinasi tersebut mampu menembus lebih dari 1.000 orang pada hari biasa, sedangkan akhir pekan jauh lebih tinggi.

Secara bulanan, jumlah pengunjung Lawu Park kini hanya sekitar 12 ribu orang. Angka tersebut turun dibandingkan periode sebelumnya yang mampu mencapai 15 ribu hingga 20 ribu pengunjung setiap bulan.

Penurunan serupa juga terjadi di destinasi Jembatan Kaca. Saat berada pada masa puncak popularitas, objek wisata itu pernah dikunjungi sekitar 5.000 orang dalam sehari. Kini, jumlah kunjungan rata-rata hanya berkisar 300 hingga 500 orang pada hari biasa dan 1.500 hingga 2.000 orang saat akhir pekan.

Menurut Parmin, secara keseluruhan seluruh unit usaha yang berada di bawah naungan The Lawu Grup mengalami penurunan kunjungan sebesar 40 hingga 50 persen. Dari sekitar 25 unit usaha dengan 35 merek yang dikelola, tujuh unit di antaranya masih mengalami kerugian, termasuk Ngargoyoso Waterfall di Kabupaten Karanganyar.

Ia menilai penurunan tersebut dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih sehingga masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang untuk kebutuhan rekreasi. Selain itu, kondisi ekonomi global juga turut memengaruhi daya beli masyarakat.

Di sisi lain, berkembangnya berbagai destinasi wisata di daerah lain, khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi tantangan tersendiri bagi industri pariwisata di Kabupaten Karanganyar.

Karena itu, Parmin menilai pengembangan sektor pariwisata tidak bisa hanya mengandalkan pelaku usaha. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah sebagai regulator, investor sebagai pengembang destinasi, serta masyarakat melalui kelompok sadar wisata agar tercipta ekosistem pariwisata yang kuat dan berkelanjutan.

“Pariwisata yang bisa bertahan dalam jangka panjang membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pelaku wisata, dan masyarakat. Dengan sinergi itu, ekosistem wisata akan lebih kuat dan mampu bersaing,” pungkasnya.

Penulis : Iwan Iswanda

Editor : Jaka N

Exit mobile version