Rob di Mangunharjo Semarang Kian Parah, Aktivis Lingkungan Soroti Penurunan Tanah dan Reklamasi

Kondisi rob saat ini jauh lebih parah dibanding beberapa tahun lalu

SEMARANG, Jatengnews.id – Fenomena banjir rob di kawasan pesisir Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, kembali menjadi perhatian. Air laut yang menggenangi akses jalan hingga warung milik warga dinilai terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Pantauan Jatengnews.id di lokasi, menunjukkan air rob menggenangi jalan pesisir yang menjadi akses utama warga dan nelayan. Genangan air laut mencapai kawasan warung-warung di tepi pantai, sementara perahu nelayan masih bersandar di dermaga kayu. Kendati masih bisa dilalui kendaraan roda dua, warga harus berhati-hati saat melintas karena seluruh badan jalan tertutup air laut.

Aktivis lingkungan sekaligus warga Mangunharjo, Sururi (68) tahun, mengatakan kondisi rob saat ini jauh lebih parah dibanding beberapa tahun lalu. Menurutnya, penurunan muka tanah menjadi salah satu penyebab utama semakin meluasnya genangan rob di pesisir Semarang.

“Setiap tahun rob bukan semakin kecil, tetapi justru semakin besar. Salah satu penyebabnya adalah penurunan muka tanah di Kota Semarang yang mencapai sekitar 7 sentimeter per tahun,” ujarnya saat ditemu Jatengnews.id, Selasa (14/7/2026).

Sururi menjelaskan, keberadaan hutan Mangrove memiliki peran penting dalam menjaga kawasan pesisir. Namun, ia menegaskan fungsi Mangrove bukan untuk menghentikan air pasang, melainkan mengurangi laju abrasi yang terus mengikis daratan.

“Kalau menanam Mangrove itu bukan untuk mencegah rob. Fungsi utamanya menahan abrasi. Abrasi inilah yang paling kami khawatirkan. Kalau terus terjadi hingga masuk ke permukiman, dampaknya akan sangat besar,” katanya.

Menurut Sururi, dampak abrasi telah terlihat di sejumlah wilayah pesisir Jawa Tengah, salah satunya di kawasan Sayung, Kabupaten Demak. Ia menilai abrasi yang tidak terkendali dapat menyebabkan hilangnya daratan secara perlahan.

Selain faktor alam, Sururi juga menyoroti aktivitas manusia yang dinilai turut memperburuk kondisi pesisir. Salah satunya adalah pembangunan reklamasi dan infrastruktur pantai yang berpotensi mengubah pola arus serta gelombang laut.

“Fenomena alam memang berpengaruh, tetapi ada juga faktor yang dibuat manusia. Reklamasi ikut memengaruhi kondisi pesisir. Perubahan garis pantai maupun pembangunan pelabuhan juga berdampak terhadap pola gelombang laut,” jelasnya.

Ia mengaku kini rob semakin sulit diprediksi. Jika sebelumnya air pasang datang dengan ketinggian yang relatif stabil, saat ini volume air laut yang masuk ke daratan cenderung lebih besar.

“Kami melihat ada perubahan. Dulu pasangnya tidak sebesar sekarang. Fenomena ini semakin sering terjadi dan dampaknya semakin dirasakan masyarakat pesisir,” pungkasnya. (01).

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa penanganan rob di pesisir Semarang tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur. Upaya menjaga ekosistem mangrove, mengendalikan abrasi, serta menekan laju penurunan muka tanah dinilai menjadi bagian penting dalam mengurangi dampak rob yang terus mengancam kawasan pesisir Kota Semarang. (01).

Penulis: Shodiqin
Editor: Jaka Nuswantara

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN