Beranda Daerah Pesan Anak Pejuang Pertempuran Lima Hari Semarang untuk Pemerintah, Jangan Jajah Bangsa...

Pesan Anak Pejuang Pertempuran Lima Hari Semarang untuk Pemerintah, Jangan Jajah Bangsa Sendiri

Ironisnya, Juhari tak pernah sekalipun melihat wajah sang ayah.

Juhari (81) bersama anaknya Rian saat mengunjungi ayahnya yang merupakan pejuang kemerdekaan, Kho Siang Bo, di Taman Makam Pahlawan Nasional Giri Tunggal Semarang, Selasa (4/8/2026) sore. (Foto:Kamal)
Juhari (81) bersama anaknya Rian saat mengunjungi ayahnya yang merupakan pejuang kemerdekaan, Kho Siang Bo, di Taman Makam Pahlawan Nasional Giri Tunggal Semarang, Selasa (4/8/2026) sore. (Foto:Kamal)

SEMARANG, Jatengnews.id – Di antara deretan nisan putih di Taman Makam Pahlawan Nasional Giri Tunggal Semarang, Selasa (4/8/2026) sore, seorang pria renta berdiri cukup lama di depan sebuah makam. Tangannya sesekali mengusap batu nisan ‘Kho Siang Bo’, seolah mencoba menyapa seseorang yang tak pernah benar-benar ia kenal.

Namanya Juhari, seorang keturunan China dan Jawa berusia 81 tahun. Ia datang bersama anak keduanya, Rian untuk berziarah ke makam ayahnya, Juani alias Kho Siang Bo, salah satu pejuang yang gugur dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang pada Oktober 1945.

Ironisnya, Juhari tak pernah sekalipun melihat wajah sang ayah.

“Sampai detik ini saya belum pernah melihat wajah orang tua saya. Fisiknya saja tidak pernah. Saya juga tidak pernah merasakan sayang seorang ayah,” ucapnya parau khas suara lansia.

Juhari lahir pada 2 September 1945. Saat usianya baru menginjak 17 hari, Jepang menyerbu kawasan Lemah Gempal. Sang ayah keluar rumah ketika mendengar teriakan warga bahwa tentara Jepang mengamuk dan membakar permukiman.

Itulah kali terakhir keluarganya melihat Kho Siang Bo.

Ia gugur ditembak tentara Jepang, meninggalkan seorang istri dan bayi yang bahkan belum sempat mengenal siapa ayahnya.

“Hanya lewat mimpi saya mencoba membayangkan seperti apa wajah beliau. Sampai sekarang pun saya tidak pernah tahu,” ucapnya.

Sosialisator Jiwa Semangat dan Nilai 45 (JSN 45) LVRI Jawa Tengah, Candra, menjelaskan Kho Siang Bo merupakan warga keturunan Tionghoa yang tinggal di kawasan Lemah Gempal, Semarang.

Ia tergabung dalam Angkatan Muda Lemah Gempal yang ikut melawan pasukan Jepang dalam Pertempuran Lima Hari Semarang pada 14–18 Oktober 1945.

Ketika tentara Jepang memasuki kampung dan membakar rumah-rumah warga, Kho Siang Bo yang sedang menggendong bayi berusia 17 hari menyerahkannya kepada sang istri sebelum berlari keluar rumah.

Diduga ia hendak membantu warga atau menyelamatkan kampungnya. Namun baru beberapa langkah, peluru Jepang menghentikan langkahnya.

“Beliau langsung gugur ditembak Jepang,” kata Candra.

Karena situasi perang belum memungkinkan, jenazah Kho Siang Bo dimakamkan di pekarangan rumah keluarga. Bertahun-tahun kemudian, jasadnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal.

*Dulu Dijajah Bangsa Asing, Sekarang Jangan Dijajah Bangsa Sendiri*

Memasuki usia kemerdekaan Indonesia yang ke-81, Juhari mengaku bangga atas perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan nyawa tanpa pamrih.

Namun di balik rasa bangga itu, tersimpan kegelisahan yang ingin ia titipkan kepada para pemimpin negeri.

Menurutnya, kemerdekaan seharusnya diisi dengan keadilan dan pengabdian kepada rakyat, bukan justru melahirkan ketidakadilan.

“Kalau dulu para pejuang itu berjuang tanpa pamrih. Mereka tidak mencari gaji, tidak mencari jasa. Mereka mempertaruhkan nyawa dan meninggalkan keluarga demi Indonesia,” katanya.

Ia kemudian menyampaikan kalimat yang menjadi pesannya kepada pemerintah.

“Kalau dulu kita bisa mengusir Belanda dan Jepang, sekarang jangan sampai bangsa ini dijajah oleh bangsa sendiri,” peringatnya.

Bagi Juhari, penjajahan bukan selalu berbentuk senjata atau kekuatan militer. Ketika rakyat merasa diperlakukan tidak adil, ketika cita-cita para pejuang dilupakan, menurutnya itulah bentuk pengkhianatan terhadap pengorbanan mereka.

Meski merupakan anak seorang pejuang yang gugur, Juhari mengaku tak pernah berharap banyak kepada negara.

Ia hanya mengingat, saat masih duduk di bangku sekolah dasar, dirinya pernah diundang dalam sebuah acara pemerintah dan menerima bingkisan sederhana.

Selebihnya, hidup dijalaninya seperti masyarakat biasa.

“Saya tidak pernah berharap apa-apa. Saya sudah bersyukur bapak ditempatkan di makam pahlawan. Itu sudah cukup.”

Meski demikian, ia berharap pemerintah memberi perhatian lebih kepada keluarga para pejuang yang gugur.

“Bukan karena kami meminta balas jasa. Tapi kalau pemerintah memikirkan keturunan para pahlawan, menurut saya tidak ada salahnya,” tuturnya.

Warisan yang Tak Boleh Dilupakan

Di usia senjanya, Juhari tidak lagi mengejar penghargaan. Yang ia inginkan hanya satu: semangat pengorbanan para pejuang tidak berhenti menjadi cerita di buku sejarah.

Baginya, kemerdekaan bukan sekadar upacara setiap Agustus atau pengibaran bendera merah putih.

Kemerdekaan adalah bagaimana negara menghormati pengorbanan mereka yang rela kehilangan masa depan, bahkan keluarga, demi lahirnya Indonesia.

Di depan makam sang ayah yang tak pernah sempat memeluknya, Juhari meninggalkan doa sekaligus pesan yang sederhana, tetapi terasa menggetarkan.

Jangan biarkan cita-cita para pejuang dikalahkan oleh kepentingan sesama anak bangsa. Karena kemerdekaan yang mereka rebut dengan darah seharusnya menjadi jalan untuk memuliakan rakyat, bukan menyakiti mereka.

Penulis  : Muhammad Kamal

Editor     : Alif Nazzala Rizqi

Exit mobile version