Magelang, JatengNews.id — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Mandiri Misi Khusus (KKN-MMK) UIN Walisongo Semarang Posko 4 turut mengikuti Tradisi Saparan di Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jumat (31/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa mengenal kearifan lokal masyarakat sekaligus mengkaji nilai biokultural yang tercermin dalam tradisi tersebut.
Tradisi Saparan merupakan salah satu budaya turun-temurun masyarakat Jawa yang dilaksanakan pada bulan Sapar dalam kalender Jawa. Di Desa Wonolelo, tradisi ini berlangsung selama dua hingga tiga hari dan melibatkan masyarakat dalam berbagai rangkaian kegiatan.
Rangkaian Tradisi Saparan diawali dengan pengiriman doa untuk para leluhur yang dipimpin oleh “mbah kaum”, yakni tokoh yang memiliki peran penting dalam kegiatan keagamaan dan tradisi masyarakat setempat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kenduri yang diikuti oleh masyarakat Desa Wonolelo dan terbuka bagi masyarakat dari luar desa.
Menurut Edi Widodo, S.Pd., M.Pd., salah satu “mbah kaum” di Desa Wonolelo, Tradisi Saparan memiliki nilai penting bagi kehidupan sosial masyarakat sehingga perlu terus dilestarikan.
“Tujuan Saparan untuk mengeratkan tali silaturahmi dan sebagai bentuk sedekah atas kesehatan dan keselamatan hidup di bawah kaki Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Tanah di sini menjadi subur sehingga hasil panen para petani melimpah. Oleh karena itu, tradisi ini tetap harus dijaga,” ujarnya.
Tradisi tersebut tidak hanya menjadi sarana masyarakat untuk berkumpul dan mempererat hubungan sosial, tetapi juga menunjukkan hubungan erat antara manusia dan lingkungan. Masyarakat setempat memaknai kesuburan tanah dan hasil pertanian sebagai bagian penting dari kehidupan yang perlu disyukuri dan dijaga.
Nilai tersebut memiliki keterkaitan dengan konsep konservasi berbasis masyarakat. Kearifan lokal menjadi salah satu media yang dapat mendorong masyarakat untuk mempertahankan hubungan harmonis dengan sumber daya alam yang selama ini menopang kehidupan mereka.
Antusiasme masyarakat terlihat dalam pelaksanaan kenduri di rumah-rumah warga. Setiap keluarga yang mengadakan kenduri membuka rumahnya bagi masyarakat untuk menikmati hidangan bersama.
Salah seorang warga Desa Wonolelo, Mila, mengatakan bahwa suasana Saparan bahkan terasa lebih ramai dibandingkan momentum Idulfitri karena masyarakat yang datang tidak hanya berasal dari kalangan keluarga.
“Saparan ini lebih ramai dari Idulfitri karena yang menghadiri tidak hanya sanak saudara. Orang-orang yang tidak dikenal sekalipun boleh ikut menikmati kenduri di rumah warga,” tuturnya.
Tradisi, Gotong Royong, dan Penghormatan terhadap Alam
Rangkaian Tradisi Saparan kemudian mencapai puncaknya melalui berbagai pertunjukan kesenian tradisional, seperti kethoprak, wayang kulit, dan tari tradisional. Pertunjukan tersebut menjadi hiburan bagi masyarakat sekaligus bagian dari upaya mempertahankan kesenian dan kebudayaan lokal.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN-MMK UIN Walisongo Posko 4 turut berpartisipasi dengan menghadiri kenduri di rumah warga serta mendokumentasikan berbagai rangkaian Tradisi Saparan.
Mahasiswa juga melakukan pengamatan terhadap nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam tradisi tersebut. Gotong royong, kebersamaan, rasa syukur, serta penghormatan terhadap alam menjadi sejumlah nilai yang ditemukan dalam kehidupan masyarakat Desa Wonolelo.
Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut memberikan pemahaman bahwa kearifan lokal tidak hanya berkaitan dengan tradisi dan kebudayaan, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan cara masyarakat menjaga hubungan dengan lingkungan.
Melalui keterlibatan dalam Tradisi Saparan, mahasiswa KKN-MMK UIN Walisongo tidak hanya menjalankan kegiatan pengabdian masyarakat, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam memahami local wisdom yang berkembang di tengah masyarakat.
Tradisi Saparan di Desa Wonolelo menjadi salah satu gambaran bahwa budaya yang diwariskan secara turun-temurun dapat memuat nilai sosial dan lingkungan. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan hubungan antara masyarakat, budaya, dan sumber daya alam.
Penulis: Tim Mahasiswa KKN-MMK UIN Walisongo
Editor: R. D. Pramesti





