SEMARANG, Jatengnews.id – Lebih dari 500 mahasiswa UIN Walisongo Semarang akan diterjunkan ke sejumlah desa di Jawa Tengah melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik pada Oktober 2026.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa akan berkolaborasi dengan Tim Penggerak PKK dan Tim Pembina Posyandu Provinsi Jawa Tengah untuk memperkuat berbagai program pemberdayaan masyarakat di tingkat desa.
Kolaborasi tersebut dibahas dalam penyusunan draf Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Ketua TP PKK dan TP Posyandu Jateng, Nawal Arafah Yasin, bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Walisongo Semarang di Rumah Dinas Wakil Gubernur Jateng, Selasa (18/8/2026).
Nawal mengatakan, keberadaan mahasiswa KKN di desa diharapkan tidak sekadar menjalankan program pengabdian, tetapi juga membantu memperkuat kegiatan yang selama ini telah dijalankan PKK dan Posyandu.
“Nanti di bulan Oktober kita akan melakukan kolaborasi untuk KKN tematik bersama dengan 500 sekian mahasiswa. Nanti akan kita integrasikan, kita kolaborasikan, dengan Posyandu yang ada,” ujar Nawal.
Menurutnya, program KKN akan disesuaikan dengan kompetensi mahasiswa dan kebutuhan masyarakat. Kolaborasi tersebut semakin relevan karena Posyandu kini memiliki cakupan layanan yang lebih luas.
Posyandu tidak hanya menangani persoalan kesehatan, tetapi juga mendukung enam bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM), yakni pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat, dan sosial.
KKN UIN Walisongo Sasar Persoalan Desa
Sejumlah program konkret disiapkan untuk dikolaborasikan. Di antaranya penguatan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), literasi, pengelolaan sampah dan minyak jelantah, pendampingan UMKM, pemberdayaan perempuan hingga pencegahan stunting.
Mahasiswa dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), misalnya, dapat dilibatkan dalam penguatan program PAUD berbasis masyarakat dan literasi.
Sementara itu, mahasiswa yang memiliki kompetensi di bidang sosial dan pemberdayaan dapat mendukung program yang menyasar perempuan serta kelompok rentan.
“Termasuk Pusat Studi Gender yang ada di UIN, juga ini nanti akan kita kolaborasikan untuk menguatkan isu-isu tentang perempuan. Misalnya, isu-isu kekerasan, terus disabilitas, tentang paralegal, dan sebagainya,” kata Nawal.
Ia menambahkan, penguatan masyarakat melalui kolaborasi perguruan tinggi merupakan bagian dari penerapan prinsip collaborative governance. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menjalankan pembangunan, sehingga keterlibatan kampus menjadi penting.
Sebelumnya, TP PKK dan Posyandu Jateng juga telah menggandeng Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro untuk memperkuat kesehatan mental di layanan Posyandu serta memberikan pendampingan konseling bagi korban bencana.
KKN Berlangsung 45 Hari
Ketua LP2M UIN Walisongo Semarang Abdul Ghofur mengatakan, kolaborasi tersebut sejalan dengan arah KKN UIN Walisongo yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat desa.
Menurutnya, kader PKK dan Posyandu yang berada hingga tingkat desa menjadi mitra strategis mahasiswa dalam menjalankan berbagai program pengabdian.
“Jadi, harapan kami nanti ke depan kita bisa saling menguatkan, untuk bisa memberdayakan masyarakat umumnya dan mahasiswa khususnya,” ujar Abdul Ghofur.
KKN Tematik tersebut dijadwalkan dilaksanakan secara serentak pada Oktober 2026 dan berlangsung sekitar 45 hari. Sebelum diterjunkan ke lapangan, mahasiswa akan mendapatkan pembekalan serta sosialisasi mengenai program yang akan dijalankan.
“Kegiatan KKN akan dilakukan serentak, yang kemudian bisa kolaborasikan dengan kegiatan-kegiatan (TP PKK dan Posyandu) yang sudah kita lakukan. Nanti sekitar 45 hari mereka melakukan KKN,” jelas Nawal.
Melalui kolaborasi tersebut, program KKN diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus memperkuat program PKK dan Posyandu Jateng di tingkat desa.
Penulis : Jaka N
Editor : Shodiqin





