
KARANGANYAR, Jatengnews.id – Jawa Tengah menjadi salah satu daerah utama penopang kebutuhan bawang putih nasional. Kontribusinya disebut mencapai sekitar 63 persen dari kebutuhan bawang putih di Indonesia.
Hal itu disampaikan Wakapolda Jawa Tengah Brigjen Pol Latif Usman saat menghadiri kegiatan tanam dan panen bawang putih serentak di Desa Pancot, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Rabu (19/8/2026).
Latif mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program tanam dan panen bawang putih secara serentak di sejumlah wilayah Jawa Tengah.
“Pada hari ini kita ada dua kegiatan, yaitu menanam serentak dan panen serentak. Untuk menanam, di seluruh Jawa Tengah ini ada 11,8 hektare,” kata Latif.
Sementara itu, panen raya bawang putih akan berlangsung hingga September dengan total luasan mencapai sekitar 110 hektare.
Menurut Latif, Tawangmangu memiliki peran penting dalam pengembangan bawang putih di Jawa Tengah. Selain menjadi salah satu wilayah produksi, kawasan tersebut juga dikenal sebagai sentra bibit yang memasok kebutuhan daerah lain.
“Tawangmangu ini juga merupakan salah satu sentra bibit. Jadi beberapa daerah mengambil bibit ada di Tawangmangu ini,” ujarnya.
Sejumlah daerah lain yang menjadi sentra bawang putih di Jawa Tengah di antaranya Batang, Tegal, Pekalongan, Temanggung, dan Semarang.
“Sekitar 63 persen kebutuhan nasional disokong dari Jawa Tengah,” kata Latif.
Ia menegaskan, Polri mendukung kebijakan pemerintah dalam meningkatkan produktivitas dan kemandirian pangan, termasuk komoditas bawang putih. Dukungan dilakukan dengan menggandeng instansi terkait untuk membantu memenuhi kebutuhan petani, mulai pupuk hingga alat dan mesin pertanian (alsintan).
“Kita akan menggali dari petani apa yang diinginkan, apa yang diharapkan, kita akan memfasilitasi,” terangnya.
Latif menambahkan, peningkatan produksi bawang putih tidak hanya membutuhkan perluasan lahan, tetapi juga dukungan sarana produksi dan pendampingan kepada kelompok tani.
Sementara itu, petani sekaligus penangkar bawang putih asal Tawangmangu, Bejo Suprianto, menyambut positif perhatian pemerintah terhadap komoditas tersebut.
Ia menyatakan petani bawang putih di kawasan Pancot siap mendukung target pemerintah menuju swasembada bawang putih.
“Sebagai petani bawang putih dan penangkar bawang putih, saya merasa bangga. Hari ini bawang putih diberikan panggung, diberikan tempat,” ungkapnya.
Bejo juga menjelaskan keunggulan varietas Tawangmangu Baru. Menurutnya, varietas tersebut mampu menghasilkan hingga 15 ton bawang putih per hektare dalam kondisi cabut basah.
“Kalau teman-teman paling 10 ton cabut basah per hektare, kalau Tawangmangu bisa 15 ton per hektare cabut basah,” jelasnya.
Selain produktivitas, varietas Tawangmangu Baru memiliki ukuran umbi yang relatif besar. Dari sisi aroma, Bejo menilai kualitasnya tidak kalah dengan bawang putih impor.
Untuk harga, ia menyebut bawang putih cabut basah saat ini berada di angka Rp12.000 per kilogram, sedangkan harga benih mencapai Rp46.000 per kilogram.
Dengan dukungan pemerintah, Polri, serta pengembangan varietas lokal, petani Tawangmangu optimistis produksi bawang putih Jawa Tengah terus meningkat dan semakin memperkuat upaya mencapai swasembada bawang putih nasional.
Penulis : Iwan Iswanda
Editor : Jaka N