Beranda Daerah Festival Budaya dan Pojok Dolanan, Upaya KKN-T IDBU 09 Hidupkan Kembali Permainan...

Festival Budaya dan Pojok Dolanan, Upaya KKN-T IDBU 09 Hidupkan Kembali Permainan Tradisional di Wonolopo

Festival Budaya digelar dalam dua rangkaian, yakni pada 2 dan 9 Agustus 2026. Beragam permainan tradisional khas Indonesia diperkenalkan melalui perlombaan, di antaranya egrang batok kelapa dan gobak sodor.

Tim KKN Tematik (KKN-T) Iptek bagi Desa Binaan Undip (IDBU) 09 di Kelurahan Wonolopo mengusung tema “Kampung Literasi Dolanan Nusantara” yang berfokus pada revitalisasi permainan tradisional Indonesia. (Foto : Dok KKN)
Tim KKN Tematik (KKN-T) Iptek bagi Desa Binaan Undip (IDBU) 09 di Kelurahan Wonolopo mengusung tema “Kampung Literasi Dolanan Nusantara” yang berfokus pada revitalisasi permainan tradisional Indonesia. (Foto : Dok KKN)

SEMARANG, Jatengnews.id — Di tengah semakin kuatnya dominasi gawai dalam keseharian anak-anak, mahasiswa KKN Tematik Iptek bagi Desa Binaan Undip (KKN-T IDBU) 09 Universitas Diponegoro (Undip) menghadirkan cara kreatif untuk menghidupkan kembali permainan tradisional di Kelurahan Wonolopo, Kecamatan Mijen, Kota Semarang.

Mengusung tema “Kampung Literasi Dolanan Nusantara”, sebanyak 30 mahasiswa dari berbagai program studi dan fakultas di Undip menggelar rangkaian program pengabdian selama 45 hari. Dua program utama yang menjadi ujung tombak gerakan tersebut adalah Festival Budaya (Fesbud) dan Pojok Dolanan (Polan).

Keduanya dirancang tidak sekadar sebagai kegiatan hiburan, tetapi juga sebagai ruang edukasi dan interaksi masyarakat untuk mengenal kembali permainan tradisional Indonesia yang mulai terpinggirkan oleh perkembangan teknologi digital.

Festival Budaya digelar dalam dua rangkaian, yakni pada 2 dan 9 Agustus 2026. Beragam permainan tradisional khas Indonesia diperkenalkan melalui perlombaan, di antaranya egrang batok kelapa dan gobak sodor.

Salah satu kemeriahan terlihat di RT 07/RW 08. Warga yang mengenakan pakaian bernuansa merah-putih turut memeriahkan agenda khas peringatan 17 Agustus. Tim KKN-T IDBU 09 kemudian menambah keseruan melalui lomba egrang batok kelapa.

Para peserta, khususnya anak-anak, ditantang menjaga keseimbangan di atas tempurung kelapa sambil berpegangan pada tali. Permainan kemudian dimodifikasi menjadi perlombaan estafet dengan tantangan menahan karet gelang menggunakan sedotan yang digigit peserta.

Seksi Pemuda dan Olahraga RT 07/RW 08, Denny Ariawan, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, permainan tradisional memiliki peran penting sebagai alternatif aktivitas bagi anak-anak di tengah tingginya penggunaan gawai.

“Ini (permainan tradisional) sangat penting mengingat anak-anak sekarang ketergantungan dengan gadget. Melalui eksekusi yang bagus dari tim KKN, permainan tradisional yang selama ini belum tersentuh bisa diperkenalkan lagi,” ujar Denny, Minggu (2/8/2026).

Koordinator Desa Tim KKN-T IDBU 09, Arifa Ajda Kamila, mengatakan kegiatan tersebut memang dirancang untuk menghadirkan aktivitas fisik yang menyenangkan sekaligus interaktif.

“Kita coba menghadirkan sebuah kegiatan yang lebih seru daripada handphone (HP). Kita kenalkan dulu (permainan tradisional) sampai mereka paham cara memainkannya. Dengan harapan meskipun KKN nanti selesai, permainan tetap berlanjut dan Polan dapat terus dilestarikan oleh masyarakat sekitar,” kata Arifa.

Selain Festival Budaya, Tim KKN-T IDBU 09 menghadirkan Pojok Dolanan atau Polan sebagai ruang bermain khusus permainan tradisional.

Polan berada di sebelah selatan Lapangan Voli Embung, RW 08. Konsep dan desain ruang tersebut dirancang oleh mahasiswa Program Studi Arsitektur Undip yang tergabung dalam tim KKN, kemudian diwujudkan melalui kolaborasi dengan perajin bambu setempat.

Ketua Pembangunan Polan, Paundra Arane Wong Sae, menjelaskan pembangunan Polan berlangsung kurang dari satu bulan. Seluruh anggota tim terlibat dalam proses pengerjaan, mulai dari membersihkan lahan dari rumput ilalang hingga membangun berbagai fasilitas pendukung.

Pembangunan dilanjutkan dengan pembuatan pagar, gapura, saung, dan atap. Pada tahap akhir, permukaan bambu dilapisi cat pelitur dan gapura dihias dengan cap tangan sebagai ornamen sekaligus jejak kenangan mahasiswa bersama masyarakat.

Menariknya, sejumlah permainan di Polan juga dibuat secara mandiri dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

Bambu dari hutan setempat diolah menjadi egrang dan lompat bambu. Tempurung kelapa bekas dimanfaatkan menjadi egrang batok kelapa. Papan kayu dan karet ban bekas disulap menjadi bakiak, sementara puluhan karet gelang dikepang menjadi permainan lompat karet.

Tidak hanya itu, terdapat pula arena engklek yang dihias menggunakan cat warna-warni agar lebih menarik bagi anak-anak.

“Sebenarnya untuk pembangunan Polan yang paling rumit itu bagian saung dan gapura. Ibarat kita kan bikin pondasi biar nanti anak-anak tuh kalau main di dalamnya juga aman,” ujar Paundra.

“Mas, Ayo ke Polan”

Keberadaan Polan ternyata mendapat respons positif dari anak-anak. Mereka tidak hanya datang untuk bermain, tetapi juga mulai menjadikan Polan sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari.

Paundra mengatakan anak-anak RW 08 dan sekitar Lapangan Embung kerap mengajak mahasiswa untuk bermain bersama.

“Soalnya tiap sore tuh kalau anak-anak pasti ngajak ‘Mas, ayo ke Polan’ jadi bukan ‘Mas, ayo ke lapangan voli’. Itu sih yang paling membekas. Jadi udah dikenal-lah Polan,” ungkapnya.

Antusiasme tersebut menjadi salah satu indikator bahwa permainan tradisional masih memiliki daya tarik bagi generasi muda apabila dikemas secara kreatif dan ditempatkan dalam ruang yang menarik.

Polan secara resmi diresmikan pada Sabtu (8/8/2026). Peresmian diisi dengan demonstrasi berbagai permainan tradisional, seperti egrang bambu, egrang batok kelapa, engklek, dan bakiak yang dikemas dalam bentuk drama.

Kegiatan tersebut turut dihadiri berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang, Kecamatan Mijen, Kelurahan Wonolopo, hingga perangkat setempat.

Hadir pula Ketua Pusat Pelayanan Kuliah Kerja Nyata (P2KKN) Undip beserta Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN-T IDBU 09.

Sekretaris Disbudpar Kota Semarang, Samsul Bahri Siregar, mengapresiasi hadirnya Polan. Menurutnya, konsep tersebut tidak hanya berperan dalam menjaga keberadaan permainan tradisional, tetapi juga memiliki potensi dikembangkan menjadi destinasi wisata edukasi budaya.

“Kami sangat mendukung keberlanjutan program Polan. Inisiatif ini tidak hanya merawat keberadaan permainan tradisional, tetapi juga menciptakan daya tarik wisata edukasi budaya yang berkelanjutan bagi Kota Semarang,” tegas Samsul.

Ia juga menilai mahasiswa KKN telah berkontribusi dalam menghidupkan kembali edukasi seni dan budaya di tengah masyarakat.

Samsul berharap program tersebut tidak berhenti setelah masa KKN berakhir. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan perguruan tinggi diharapkan terus dikembangkan agar keberadaan Polan dapat bertahan dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.

“Saya berharap program ini tidak berhenti di sini dan ke depannya kolaborasi antara pemerintah kota dan mahasiswa akan terus kita tingkatkan,” ujarnya.

Program Polan dan Festival Budaya juga memiliki keterkaitan dengan sejumlah tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4, SDG 11, dan SDG 17.

SDG 4 atau Quality Education tercermin dari Polan sebagai ruang belajar informal bagi masyarakat, khususnya anak-anak, untuk mengenal permainan tradisional sebagai bagian dari budaya bangsa.

Sementara itu, SDG 11 mengenai Sustainable Cities and Communities diwujudkan melalui penyediaan ruang publik yang dapat digunakan untuk aktivitas bermain, belajar, dan berinteraksi lintas usia. Polan juga menjadi inovasi ruang bermain yang secara khusus mengangkat permainan tradisional.

Adapun SDG 17 atau Partnerships for the Goals terlihat dari kolaborasi dalam pembangunan dan keberlanjutan Polan yang melibatkan mahasiswa Undip, pemerintah daerah, perangkat Kecamatan Mijen dan Kelurahan Wonolopo, serta masyarakat setempat.

Kehadiran Festival Budaya dan Pojok Dolanan menunjukkan bahwa pelestarian permainan tradisional dapat dilakukan melalui pendekatan yang dekat dengan masyarakat. Bukan sekadar mengenalkan kembali cara bermain, tetapi juga menyediakan ruang agar permainan tersebut dapat terus dimainkan.

Melalui Polan dan Fesbud, Tim KKN-T IDBU 09 Undip berupaya menjadikan permainan tradisional bukan sebagai kenangan masa lalu, melainkan bagian dari aktivitas masyarakat masa kini.

Di tengah derasnya perkembangan teknologi, langkah sederhana berupa menyediakan ruang bermain, mengajak anak bergerak, dan memperkenalkan kembali dolanan Nusantara menjadi upaya penting untuk menjaga identitas budaya agar tetap hidup lintas generasi.




Penulis  : Tim Mahasiswa KKN

Editor     : Alif Nazzala Rizqi

Exit mobile version