
Semarang, JatengNews.id– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT Ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 16 turut terlibat dalam rangkaian Merti Desa Candirejo 2026 yang digelar di Dusun Krajan, Desa Candirejo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, Minggu (23/08/2026).
Kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ini menghadirkan karnaval, lomba menghias tumpeng, edukasi kesehatan, slametan, tayub, hingga pertunjukan wayang.
Kehadiran mahasiswa KKN UIN Walisongo menjadi bagian dari kolaborasi bersama masyarakat dalam menyukseskan rangkaian kegiatan Merti Desa Candirejo 2026. Selain menjadi ruang hiburan, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan sekaligus menjaga keberlangsungan tradisi dan kesenian lokal.
Rangkaian kegiatan diawali dengan karnaval yang diikuti masyarakat Dusun Krajan. Para peserta tampil dengan beragam kostum, properti, dan kreasi yang membawa semangat kemerdekaan serta keberagaman budaya. Karnaval dimulai dari Lapangan Desa, menyusuri Jalan Krajan Candirejo, dan berakhir di Rumah Kepala Desa.
Setelah karnaval, masyarakat mengikuti lomba menghias tumpeng. Berbagai kelompok menampilkan kreasi tumpeng dengan memanfaatkan bahan pangan dan hasil bumi lokal. Penggunaan hasil bumi setempat menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam penilaian lomba.
Kegiatan kemudian dilengkapi dengan edukasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang dihadiri pihak Puskesmas Pringapus dan PKD Candirejo. Edukasi tersebut memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya membangun kebiasaan hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Materi GERMAS disampaikan oleh Eko dengan menjelaskan tujuh langkah utama, yakni melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari, mengonsumsi buah dan sayur, tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, menjaga kebersihan lingkungan, serta menggunakan jamban sehat dan membiasakan mencuci tangan.
“GERMAS bukan hanya tentang menjaga kesehatan diri sendiri, tetapi juga membiasakan perilaku hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari aktivitas fisik, pola makan, pemeriksaan kesehatan, hingga menjaga kebersihan lingkungan,” ujar Eko.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan slametan yang dihadiri sejumlah tokoh masyarakat Desa Candirejo, Kepala Dusun Krajan Sugiyarto, serta Camat Pringapus Slamet Shodiq, S.H. Slametan menjadi salah satu bagian penting dalam tradisi merti desa sebagai bentuk rasa syukur dan doa bersama masyarakat.
Kepala Desa Candirejo, Haryoto, turut hadir dalam rangkaian kegiatan. Ia menyampaikan bahwa Merti Desa Candirejo bukan sekadar bagian dari perayaan kemerdekaan, tetapi juga menjadi sarana untuk mempertahankan budaya dan memperkuat kebersamaan masyarakat.
“Merti desa ini merupakan bentuk rasa syukur sekaligus upaya untuk menjaga tradisi dan budaya yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita. Harapannya, tradisi ini dapat terus dilestarikan dan dikenalkan kepada generasi muda,” tutur Haryoto.
Usai slametan, kegiatan dilanjutkan dengan pertunjukan tayub dan tari tradisional. Penampilan tersebut menjadi salah satu upaya masyarakat dalam mempertahankan kesenian lokal agar tetap dikenal dan dinikmati lintas generasi.
Puncak Merti Desa Candirejo 2026 ditandai dengan penyerahan wayang secara simbolis dari Kepala Desa Candirejo Haryoto kepada dalang. Prosesi tersebut menjadi tanda dimulainya pertunjukan wayang yang disaksikan masyarakat Desa Candirejo dan sekitarnya.
Kegiatan Merti Desa Candirejo 2026 mempertemukan unsur budaya, kesehatan, gotong royong, dan kearifan lokal dalam satu rangkaian kegiatan. Keterlibatan mahasiswa KKN MIT Ke-22 UIN Walisongo bersama masyarakat diharapkan turut mendukung pelestarian tradisi sekaligus memperkuat kebersamaan warga Desa Candirejo.
Penulis: Tim mahasiswa KKN MIT Ke-22 UIN Walisongo Posko 16
Editor: R. D. Pramesti