SEMARANG, Jatengnews.id – Suasana meriah menyelimuti Embung Mudalsari, Desa Gebugan, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, pada Sabtu (22/8/2026).
Ribuan masyarakat memadati kawasan tersebut untuk menyaksikan Festival Aksara Karya Lereng Gunung Ungaran yang menghadirkan bazar UMKM sekaligus pertunjukan seni budaya lokal.
Festival yang digagas Tim KKN Tematik 84 Universitas Diponegoro (Undip) bersama Pemerintah Desa Gebugan itu menjadi ruang bagi pelaku UMKM dan kelompok kesenian untuk memperkenalkan potensi mereka kepada masyarakat luas.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi embrio festival kesenian dan UMKM tahunan di Desa Gebugan. Selain menjadi hiburan bagi masyarakat, Festival Aksara Karya juga dirancang sebagai wadah untuk memperkuat promosi produk lokal sekaligus menjaga keberlangsungan kesenian tradisional yang berkembang di desa.
Rangkaian acara diawali dengan sambutan Koordinator Desa Tim KKN Tematik 84, dilanjutkan sambutan Sekretaris Desa Gebugan yang mewakili pemerintah desa. Acara kemudian dibuka secara resmi oleh Camat Bergas.
Kemeriahan semakin terasa ketika kelompok seni kuda lumping dan reog tampil di atas panggung. Penampilan para seniman lokal tersebut berhasil menarik perhatian warga yang memadati area Embung Mudalsari.
Interaksi antara pengisi acara dan penonton juga membuat suasana festival semakin hidup. Masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut diajak berinteraksi dan menikmati pertunjukan seni secara langsung.
Di sisi lain, deretan stan UMKM turut memenuhi kawasan festival. Berbagai produk makanan dan minuman khas warga Gebugan ditawarkan kepada para pengunjung, mulai dari keripik, sate, donat, aneka es dan minuman manis, hingga beragam makanan lainnya.
Kehadiran bazar tersebut memberikan kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk mereka kepada konsumen baru. Pengunjung pun terlihat antusias mencoba dan membeli produk UMKM yang tersedia.
Setiap pelaku UMKM juga berupaya membuat stan mereka menarik melalui penataan produk dan dekorasi tenant. Hal tersebut menjadi bagian dari strategi untuk menarik perhatian pengunjung sekaligus memberikan identitas bagi masing-masing usaha.
Tidak hanya pelaku UMKM yang melakukan persiapan, para kelompok kesenian juga mempersiapkan penampilan mereka selama beberapa minggu menjelang festival. Persiapan mencakup penyusunan konsep, latihan gerakan, kostum, hingga perangkat musik yang digunakan saat pertunjukan.
Pemilik Sanggar Tari Kuda Lumping Turonggo Jati dari Dusun Bengkle, Wahyudi, mengungkapkan kelompoknya mempersiapkan penampilan selama kurang lebih satu minggu.
“Dari Turonggo Jati yang tampil ada 12 orang karena mengingat masih hari kerja, jadi belum bisa tampil full personel, ditambah tujuh orang wiyogo atau penabuh dan empat orang wirosuoro,” ujarnya.
Menurutnya, persiapan dilakukan melalui sekitar tiga hingga empat kali latihan. Selain mempersiapkan konsep dan gerakan tari, kelompok tersebut juga menyiapkan kostum serta dekorasi untuk mendukung penampilan.
“Semua persiapan kami lakukan dalam seminggu, tetapi tidak berturut-turut, kurang lebih tiga sampai empat kali latihan. Kami juga mempersiapkan kembang api untuk memeriahkan acara,” katanya.
Sementara itu, persiapan para pelaku UMKM dilakukan secara bertahap. Warga memanfaatkan waktu luang untuk menyiapkan produk sekaligus mempercantik stan. Intensitas persiapan kemudian meningkat sekitar satu pekan sebelum festival berlangsung.
Salah satu pelaku UMKM unggulan Desa Gebugan, Donat Gatri dari Dusun Lempuyangan, turut memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkenalkan lebih banyak produk kepada pengunjung.
Pemilik Donat Gatri, Sriyatun, mengatakan pihaknya tidak hanya membawa produk utama berupa donat, tetapi juga menawarkan brownies lumer, agar-agar, dan es teh.
“Rasanya semangat saja bikinnya saat persiapan mau jualan ke embung. Saya mulai persiapan dari jam satu malam dan alhamdulillah habis semua jualannya,” tutur Sriyatun.
Antusiasme masyarakat yang memadati Embung Mudalsari hingga akhir acara menjadi salah satu indikator keberhasilan Festival Aksara Karya. Kegiatan tersebut tidak hanya memberikan ruang promosi bagi UMKM, tetapi juga mempertemukan kelompok seni dan masyarakat dari berbagai dusun di Desa Gebugan.
Masyarakat pun memberikan apresiasi terhadap inisiatif Tim KKN Tematik 84 Undip yang dinilai mampu mengemas potensi lokal dalam sebuah kegiatan yang menarik dan melibatkan berbagai elemen masyarakat.
Festival Aksara Karya Lereng Gunung Ungaran diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali. Tingginya antusiasme masyarakat mendorong harapan agar festival tersebut dapat berkembang menjadi agenda tahunan Desa Gebugan dengan dukungan berkelanjutan dari pemerintah desa.
Dengan menggabungkan seni budaya dan UMKM dalam satu panggung, Festival Aksara Karya menjadi salah satu upaya memperkenalkan sekaligus menguatkan potensi lokal Desa Gebugan agar semakin dikenal masyarakat luas.
Penulis : Tim Mahasiswa KKN
Editor : Alif Nazzala Rizqi





