SEMARANG, Jatengnews.id – Bubuk kopi tak selalu harus berakhir di dalam cangkir. Di tangan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 84 Universitas Diponegoro (Undip), kopi justru diperkenalkan sebagai bahan dasar produk kreatif berupa gantungan pewangi alami.
Inovasi tersebut diperkenalkan kepada ibu-ibu kelompok Dasawisma (Dawis) Dukuh Krajan, Desa Gebugan, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Kegiatan berlangsung di rumah Ibu Arifa, RT 02/RW 02, bertepatan dengan agenda rutin mingguan ibu-ibu Dawis.
Kegiatan ini digelar atas undangan Ketua Dawis sebagai upaya memberikan wawasan sekaligus keterampilan baru yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun dikembangkan menjadi peluang ekonomi.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN-T 84 Undip tidak hanya membahas pemanfaatan potensi desa, tetapi juga memberikan materi mengenai dasar-dasar pengembangan usaha. Peserta diperkenalkan pada pentingnya melakukan perhitungan sederhana sebelum memulai sebuah usaha, mulai dari pemanfaatan bahan baku hingga potensi nilai jual produk.
Salah satu materi yang menarik perhatian peserta adalah pemanfaatan bubuk kopi sebagai bahan dasar gantungan aroma. Gagasan tersebut berangkat dari potensi Desa Gebugan yang memiliki cukup banyak tanaman kopi.
Selama ini, kopi lebih banyak dikenal sebagai komoditas pangan yang diolah menjadi minuman. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN-T 84 Undip mencoba memperkenalkan perspektif berbeda bahwa kopi juga dapat diolah menjadi produk nonpangan yang memiliki nilai guna dan nilai tambah.
Mahasiswa KKN-T 84 Undip yang menjadi pemateri, Ayu Dwi, mengawali kegiatan dengan memperkenalkan budaya Kōdō (香道), yakni tradisi Jepang yang berkaitan dengan seni menikmati dan mengapresiasi aroma.
Peserta diajak memahami bahwa aroma memiliki peran dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh yang diperkenalkan adalah pemanfaatan aroma kopi untuk membantu mengurangi bau tidak sedap, termasuk di area dapur.
Selain itu, Ayu juga memperkenalkan berbagai alternatif pemanfaatan kopi, baik bubuk maupun ampasnya, menjadi produk lain. Di antaranya sebagai bahan pewangi serta pengolahan ampas kopi menjadi blok arang.
Setelah pemaparan materi, Ayu memperlihatkan produk gantungan aroma berbahan dasar bubuk kopi yang sebelumnya telah dikembangkan oleh mahasiswa KKN-T 84 Undip. Gantungan tersebut dibuat dalam berbagai bentuk sehingga tidak hanya berfungsi sebagai pewangi, tetapi juga memiliki unsur dekoratif.
Produk tersebut sekaligus menjadi contoh bagaimana potensi kopi yang tersedia di Desa Gebugan dapat diolah menjadi produk kreatif yang memiliki nilai tambah.
“Kalau dibuat dengan rapi, baik dari bentuk maupun kemasannya, gantungan ini bisa dikembangkan menjadi suvenir atau produk yang memiliki nilai jual. Waktu saya mencari di marketplace, saya juga menemukan produk serupa yang dijual dengan harga sekitar Rp100 ribu,” ujar Ayu saat kegiatan berlangsung.
Usai penjelasan, Ayu membagikan sejumlah gantungan aroma yang telah dibuat sebelumnya di posko KKN kepada para peserta. Ibu-ibu Dawis terlihat antusias mengamati bentuk sekaligus mencoba mencium aroma produk tersebut.
Sejumlah peserta bahkan menunjukkan ketertarikan untuk mengetahui proses pembuatannya. Respons seperti “Wah, unik ya” dan “Jadinya bagus ya, gimana cara buatnya?” terdengar saat mereka melihat langsung hasil olahan bubuk kopi tersebut.
Antusiasme peserta menunjukkan bahwa pemanfaatan kopi menjadi produk nonpangan masih memiliki peluang untuk dikembangkan di tingkat masyarakat. Dengan kreativitas dan pengemasan yang menarik, bahan yang selama ini identik dengan minuman dapat diarahkan menjadi produk kerajinan sekaligus pewangi alami.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mahasiswa KKN-T 84 Undip dalam mendorong masyarakat untuk melihat potensi lokal dari sudut pandang yang lebih luas. Tidak hanya sebagai bahan konsumsi, komoditas desa juga dapat dikembangkan menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN-T 84 Undip berharap ibu-ibu Dawis Desa Gebugan mendapatkan inspirasi untuk mengembangkan potensi kopi lokal menjadi berbagai produk inovatif.
Selain membuka peluang pemanfaatan bahan yang tersedia di sekitar, kreativitas pengolahan kopi diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi masyarakat untuk menciptakan produk suvenir atau pewangi alami yang memiliki ciri khas Desa Gebugan sekaligus berpotensi menjadi sumber tambahan pendapatan.
Penulis : Tim Mahasiswa KKN
Editor : Alif Nazzala Rizqi





