Beranda Daerah Pemetaan Pasar dan Harga, KKN Undip Dampingi Sanggar Among Rasa Atunggal Kembangkan...

Pemetaan Pasar dan Harga, KKN Undip Dampingi Sanggar Among Rasa Atunggal Kembangkan Unit Usaha Penyewaan Kostum

Pendampingan dilakukan melalui empat tahap yang dirancang agar pengelola tidak hanya memperoleh hasil akhir, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengembangkan unit usaha secara mandiri.

Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 84 Universitas Diponegoro melaksanakan program pendampingan bagi Sanggar Seni dan Budaya Among Rasa Atunggal di Desa Gebugan
Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 84 Universitas Diponegoro melaksanakan program pendampingan bagi Sanggar Seni dan Budaya Among Rasa Atunggal di Desa Gebugan. (Foto : Dok KKN)

UNGARAN, Jatengnews.id – Potensi ekonomi dari sektor seni dan budaya terus dikembangkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 84 Universitas Diponegoro (Undip).

Salah satunya melalui pendampingan kepada Sanggar Seni dan Budaya Among Rasa Atunggal di Desa Gebugan, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, dalam mengembangkan unit usaha penyewaan kostum tari.

Program pendampingan tersebut diarahkan untuk membantu pengelola sanggar memetakan potensi pasar sekaligus menyusun strategi harga layanan penyewaan kostum. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mengoptimalkan koleksi kostum tari yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai sumber pemasukan komersial bagi sanggar.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN-T 84 Undip menggunakan pendekatan partisipatif dengan melibatkan pengelola sanggar dalam setiap tahapan kegiatan. Pendampingan dilakukan melalui empat tahap yang dirancang agar pengelola tidak hanya memperoleh hasil akhir, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengembangkan unit usaha secara mandiri.

Tahap pertama diawali dengan diskusi bersama pengelola sanggar mengenai konsep segmentasi pasar. Materi disampaikan secara sederhana agar mudah dipahami dan dapat menjadi dasar bagi pengelola sebelum melakukan pemetaan pasar secara lebih mendalam.

Selanjutnya, mahasiswa bersama pengelola melakukan pemetaan segmen pasar. Pada tahap ini, pengelola sanggar dilibatkan secara langsung untuk menentukan kelompok calon konsumen yang dinilai memiliki potensi menjadi pasar prioritas bagi layanan penyewaan kostum.

Pemetaan tersebut kemudian menjadi dasar dalam tahap penyusunan harga. Pengelola sanggar didampingi untuk menghitung estimasi biaya dasar serta merancang paket layanan penyewaan yang sesuai dengan karakteristik segmen pasar yang telah ditentukan.

Strategi tersebut diharapkan dapat membuat layanan penyewaan kostum lebih terarah. Selain memiliki harga yang sesuai dengan biaya operasional, sanggar juga dapat menawarkan pilihan paket yang lebih menarik bagi calon pelanggan.

Sebagai hasil pendampingan, mahasiswa KKN-T 84 Undip menyerahkan booklet panduan mengenai pemetaan segmentasi pasar dan penyusunan harga. Dokumen tersebut dirancang agar dapat digunakan kembali oleh pengelola apabila sanggar hendak membentuk atau mengembangkan unit usaha baru di masa mendatang.

Selain booklet, tim KKN-T juga menghasilkan katalog harga layanan penyewaan kostum. Katalog ini menjadi salah satu produk akhir dari proses pemetaan harga dan dapat digunakan sebagai acuan dalam memberikan informasi layanan kepada calon pelanggan.

Kedua dokumen tersebut diharapkan mampu menjadi instrumen kerja yang dapat digunakan secara berkelanjutan. Dengan demikian, pengelola sanggar tidak harus selalu bergantung pada pendampingan mahasiswa ketika ingin melakukan evaluasi pasar maupun menyusun harga untuk pengembangan usaha berikutnya.

Program ini tidak hanya diarahkan untuk menciptakan sumber pemasukan tambahan bagi Sanggar Among Rasa Atunggal, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat keberlanjutan sanggar sebagai ruang pelestarian seni tari tradisional di Desa Gebugan.

Mahasiswa KKN-T 84 Undip berharap pengembangan unit usaha penyewaan kostum dapat membuka peluang ekonomi baru bagi sanggar sekaligus meningkatkan nilai guna aset budaya yang telah dimiliki.

Ke depan, pendekatan serupa juga diharapkan dapat diterapkan untuk pengembangan unit usaha lainnya. Dengan memadukan pelestarian budaya dan strategi kewirausahaan, sanggar seni berpeluang menjadi bagian dari penggerak ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.

Pendampingan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian seni budaya tidak hanya dapat dilakukan melalui kegiatan pertunjukan dan regenerasi pelaku seni, tetapi juga melalui penguatan aspek pengelolaan dan kemandirian ekonomi sanggar.





Penulis  : Tim Mahasiswa KKN

Editor    : Alif Nazzala Rizqi

Exit mobile version