KAB SEMARANG, Jatengnews.id – Sebanyak 615 kejadian kebakaran tercatat di Jawa Tengah hingga 30 Agustus 2026. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, terlebih ancaman kekeringan masih membayangi sejumlah wilayah.
Dari ratusan kejadian tersebut, 282 di antaranya merupakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sedangkan 333 lainnya berupa kebakaran gedung dan permukiman. Total kerugian yang ditimbulkan ditaksir mencapai Rp38,5 miliar.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta kondisi tersebut menjadi perhatian seluruh unsur penanganan bencana. Kesiapan personel, menurutnya, harus dibarengi kemampuan bergerak cepat ketika kejadian berlangsung.
Pesan itu disampaikan Luthfi saat menutup Pelatihan Peningkatan Kapasitas Personel Tim Reaksi Cepat (TRC) Jawa Tengah di BPKH Penggaron, Kabupaten Semarang, Minggu (6/9/2026).
Menurut Luthfi, Jawa Tengah menghadapi ancaman bencana yang semakin beragam. Kekeringan tidak hanya berdampak terhadap ketersediaan air bersih dan sektor pertanian, tetapi juga meningkatkan potensi kebakaran.
Karena itu, personel TRC dan relawan dituntut mampu merespons kejadian sejak menit-menit awal.
“Kecepatan penanganan awal bencana Jepang itu nomor satu di dunia. Minimal di Jepang 15 menit sudah sampai di TKP. Di tempat kita masih di atas itu,” kata Luthfi.
TRC Dituntut Lebih Cepat
Pelatihan yang diikuti ratusan personel dari berbagai daerah di Jawa Tengah tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan menghadapi situasi darurat.
Luthfi menilai kemampuan teknis saja belum cukup. Personel harus memiliki kekompakan dan terbiasa bekerja sebagai satu tim sehingga waktu respons di lapangan dapat dipangkas.
“Latihan itu perlu untuk meningkatkan profesionalitas dan teamwork, serta membiasakan diri dalam penanganan awal terkait tanggap bencana,” ujarnya.
Ia juga meminta personel yang telah mengikuti pelatihan membagikan pengetahuan dan keterampilan kepada anggota lain di wilayah masing-masing.
“Pelatihan itu 60 persen dari pelaksanaan tugas personel dan relawan tanggap bencana,” katanya.
Kekeringan Jadi Perhatian
Selain kebakaran, kekeringan menjadi salah satu potensi bencana yang saat ini mendapat perhatian pemerintah.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi ketersediaan air untuk kebutuhan masyarakat maupun pertanian. Di sisi lain, lahan yang kering juga membuat risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat.
Pemprov Jawa Tengah bersama pemerintah kabupaten/kota telah melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan, baik untuk mengantisipasi dampak terhadap lahan pertanian maupun kebutuhan air bersih.
“Semua sudah kita petakan agar dampak kekeringan tidak melanda terlalu dalam di daerah kita,” jelas Luthfi.
Upaya penanganan juga dilakukan melalui distribusi bantuan air bersih. Hingga saat ini, sekitar 8,5 juta liter air telah disalurkan ke sejumlah wilayah terdampak kekeringan.
Koordinasi dengan TNI dan Polri turut dilakukan untuk mempercepat penanganan di lapangan.
TPA Juga Jadi Titik Rawan
Perhatian pemerintah tidak hanya tertuju pada kawasan hutan dan permukiman. Kawasan tempat pembuangan akhir (TPA) juga menjadi salah satu titik yang perlu mendapat pengawasan.
Luthfi menyinggung kebakaran TPA Putri Cempo di Kota Surakarta sebagai salah satu kejadian yang harus menjadi bahan pembelajaran.
Ia meminta seluruh kepala daerah meningkatkan langkah mitigasi dan melakukan pengecekan kondisi wilayah secara berkala.
“Surat edaran sudah dibuat oleh Pak Sekda Provinsi Jawa Tengah, dan ini harus menjadi perhatian kita bersama,” tegasnya.
Menurut Luthfi, mitigasi tidak boleh menunggu sampai bencana terjadi. Pemetaan potensi risiko, pengecekan lapangan dan kesiapan personel harus dilakukan sejak dini.
Potensi Abu Vulkanik Ikut Diwaspadai
Di luar ancaman kekeringan dan kebakaran, pemerintah juga mengingatkan masyarakat mengenai potensi dampak abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Meski belum ada laporan pasti mengenai abu vulkanik yang mencapai wilayah Jawa Tengah, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan.
“Belum ada laporan pasti terkait dampak abu vulkanik di wilayah kita. Tapi seandainya sampai wilayah kita, masyarakat kita imbau untuk mengenali masker,” kata Luthfi.
Dengan berbagai potensi tersebut, penguatan TRC menjadi bagian penting dari strategi kesiapsiagaan Jawa Tengah.
Bagi pemerintah, kesiapan menghadapi bencana bukan hanya soal banyaknya personel yang tersedia, tetapi juga seberapa cepat mereka mampu bergerak ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.
Kecepatan, kekompakan dan kemampuan membaca situasi menjadi modal penting untuk menekan korban serta kerugian akibat bencana sejak awal kejadian.
Penulis : Jaka N
Editor : Shodiqin


