SEMARANG, Jatengnews.id — Perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi sorotan di tengah meningkatnya kesadaran akan gaya hidup sehat.
Di satu sisi, aktivitas fisik seperti olahraga semakin digemari, namun di sisi lain, pilihan makanan sehari-hari justru masih didominasi produk instan dan olahan.
Fenomena ini terlihat dari keseharian Dahlina Rosyida, mantan atlet balap sepeda yang kini aktif sebagai pelari di komunitas lokal. Perempuan yang akrab disapa Nana itu rutin berolahraga dengan jarak tempuh hingga 50–60 kilometer per pekan.
Menurutnya, menjaga kebugaran tidak cukup hanya dengan latihan fisik, tetapi juga harus diimbangi dengan pola makan yang sehat dan teratur. Ia membiasakan konsumsi sayur, telur, dan buah untuk sarapan, serta membatasi makan berat hanya dua kali sehari.
“Jika tidak diimbangi makanan bernutrisi, risiko cedera meningkat,” ujarnya, Jumat (27/03/2026).
Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan pola konsumsi sebagian masyarakat.
Andriyanto, Kepala BRIDA Jawa Timur, menyebut makanan tinggi lemak, gorengan, serta produk instan masih mendominasi meja makan keluarga.
Ia menekankan pentingnya edukasi gizi sejak dini, terutama bagi ibu yang berperan sebagai pengelola konsumsi rumah tangga. Menurutnya, permasalahan seperti gizi buruk, stunting, dan obesitas tidak lepas dari kebiasaan makan yang kurang sehat.
“Ibu merupakan garda terdepan dalam menjaga pola konsumsi makanan keluarga,” kata Andriyanto.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa makanan instan atau olahan tidak sepenuhnya menjadi penyebab utama masalah kesehatan. Faktor lain seperti pola hidup dan keturunan juga turut berpengaruh. Ia menilai yang terpenting adalah pengaturan porsi dan frekuensi konsumsi.
Pandangan serupa disampaikan budayawan Antonio Carlos. Ia menilai kebiasaan konsumsi gorengan dan makanan cepat saji telah mengakar dalam budaya masyarakat.
Menurutnya, keberadaan makanan tersebut tidak terlepas dari perkembangan teknologi pangan dan faktor ekonomi. Ia juga menilai perubahan menuju pola makan sehat membutuhkan waktu panjang.
“Gorengan sangat mudah ditemukan, sementara makanan sehat masih terbatas,” ujarnya.
Di sisi lain, pelaku industri makanan dan minuman juga menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan konsumen yang semakin sadar kesehatan. Dhedy Adi Nugroho dari EuroCham Indonesia menyatakan produsen mulai melakukan reformulasi produk, seperti mengurangi kadar gula serta menghadirkan varian rendah atau tanpa gula.
Selain itu, edukasi kepada konsumen dan pengendalian porsi juga menjadi bagian dari strategi industri. Meski demikian, preferensi masyarakat terhadap rasa manis dan asin masih menjadi kendala dalam percepatan perubahan.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sumber konsumsi gula terbesar masyarakat Indonesia masih berasal dari gula tambahan seperti gula pasir dan sirup, sementara minuman kemasan berada pada proporsi lebih rendah.
Hal ini menunjukkan bahwa pola konsumsi di tingkat rumah tangga memegang peranan penting dalam menentukan kualitas gizi masyarakat.
Dengan demikian, upaya membangun pola hidup sehat tidak hanya bergantung pada ketersediaan produk di pasar, tetapi juga kesadaran individu dan keluarga dalam memilih serta mengatur konsumsi makanan sehari-hari. (03)











